
Pagi ini serasa ada yang kurang di meja makan ini, ketidak hadiran mas Ricard membuat aku merasa ada yang hilang.
Semalam mas Ricard sudah sepakat untuk tinggal di rumah sebelum kami menikah dan tidak d per boleh kan oleh kedua orang tua nya untuk tidur di rumah kak Leo.
"Semalam kamu pulang jam berapa?" Tanya kak Leo ketika dia sudah masuk ke ruang makan.
"Tengah malam kak." Aku menjawab nya dengan tidak bersemangat.
"Malam sekali, terus bos Ricard nya kemana, kok belum kelihatan?"
"Dia di rumah nya."
"Maksud kamu? Kalian bertengkar?"
"Ngga kak, semalam aku dari rumah nya mas Ricard_" Belum selesai aku bercerita kak Leo sudah memotong kalimat ku.
"Apa! Jadi semalam kamu dari rumah nya bos Ricard." Teriak kakak mengagetkan bi Narsih yang sedang lewat.
"Kodok mu kawin, eh kodok, maaf den, maaf non bibi kaget barusan." Teriak bi Narsih membuat aku tertawa.
Aku yang lagi merasa mood ku hilang karena ngga ada nya mas Ricard pagi ini kembali menjadi lebih baik karena latah nya bi Narsih.
"Ngga apa-apa bi, cuman sekarang aku yang kaget karena teriakan bibi." Ucap kak Leo sambil menahan senyuman nya.
"Makasih ya bi." Ucap ku membuat bi Narsih sambil menatap ku dengan heran.
"Makasih untuk apa non?"
"Bibi sudah membuat aku tertawa, padahal aku tadi lagi sedikit galau." Ucap ku sambil tersenyum.
"Kirain bibi apaan, ya sudah lanjutkan lagi sarapan nya bibi mau bersih-bersih di belakang."
Bi Narsih pun pergi meninggalkan aku dan kak Leo kembali.
"Terus bagaimana? Apa om dan tante menerima kamu?"
"Ya, mereka menerima ku dengan baik, bahkan kakak tahu ngga? Aku di suruh memanggil mereka dengan panggilan papah dan mamah, panggilan itu yang selalu aku impikan dari kecil."
__ADS_1
"Syukur lah kalau kamu di terima, kedua orang tua bos memang pada baik kok."
"Ya dan mereka bilang kalau minggu depan mereka akan melamar ku dan datang menemui kakak untuk meminta restu."
"Apa! Benarkah itu? Terima kasih dek kamu sudah menganggap kakak ini seperti kakak kamu sendiri."
"Yang harus berterima kasih itu aku kak, tanpa ada kakak yang menolong ku malam itu aku tidak akan menjadi sekarang, aku berhutang budi banyak sama kakak." Ucap ku sambil meneteskan air mata.
Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan nya, kak Leo yang pertama kali mengulurkan tangan dan memberikan bahu nya untuk aku bersandar, kak Leo yang pertama kali nya membuat aku percaya diri dan membuat aku merasakan kasih sayang seorang kakak.
"Kenapa kamu menangis?"
"Aku bahagia kak, aku tidak mengira kalau aku akan ada di posisi sepeti sekarang, posisi dimana aku di sayang kalian semua, sekali lagi terima kasih ya kak." Aku bangun dari duduk lalu memeluk erat tubuh kak Leo.
"Oh jadi gitu ya kalau aku tidak ada di samping kamu, kamu bisa bebas memeluk laki-laki lain selain aku." Teriak mas Ricard yang sudah berdiri di ambang pintu.
Aku langsung melepaskan pelukan ku dari tubuh kak Leo.
"Mas, kamu kapan datang?" Tanya ku lalu menghampiri nya.
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk semua nya sehingga dia ada di posisi sekarang, sudah ngga usah di bahas, ayo sarapan bos." Ucap kak Leo.
"Bisa ngga panggilan nya jangan bos?" Ucap mas Ricard sambil memeluk bahu ku.
"Kan biasa nya juga begitu?"
"Mulai sekarang aku panggil kamu kak Leo dan kak Leo panggil aku nama saja."
"Baiklah, tapi kalau di depan pekerja kamu kakak akan panggil bos, bagaimana? Kita profesional saja."
"Baik kalau begitu, oh iya kak, sebagai ucapan terima kasih ku karena kakak yang sudah menolong calon istri ku malam itu, maka restoran yang sedang kakak kelola sekarang itu menjadi milik kakak, surat-surat kepemilikan nya nanti siang di urus sama pengacara ku." Ucap mas Ricard membuat aku dan kak Leo saling menatap.
"Benarkah? Serius? Apa aku salah dengar?" Tanya kak Leo ingin memastikan nya.
"Kapan aku pernah ngga serius kak."
__ADS_1
"Wah terima kasih banyak calon adik ipar." Ucap kak Leo lalu memeluk mas Ricard.
"Tadi aja aku ngga boleh memeluk kak Leo, sekarang kalian berdua kayak yang bernafsu sekali ya." Ucap ku menggoda mereka.
"Dia yang meluk aku duluan." Ucap mas Ricard sambil mendorong tubuh kak Leo.
"Lah, kenapa kamu juga memeluk aku balik?"
Mereka pun berdebat saling menyalahkan, dan aku tersenyum puas melihat nya, mood ku yang tadi hilang kini kembali lagi ketika melihat ke dua orang yang selalu menjaga dan menyayangi ku berdebat karena hal sepele.
"Sudah-sudah, sekarang kita berangkat, nanti terlambat lagi." Ucap ku sambil menarik tangan mas Ricard.
"Ya sudah ayo sayang kita berangkat, oh iya kakak ipar, nanti jam makan siang aku ke restoran kamu, aku mau makan gratis di sana sekalian menyerahkan surat kepemilikan nya." Ucap mas Ricard.
"Oke bos, aku kasih gratis sampai puas."
Aku dan mas Ricard pun meninggalkan kak Leo dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman.
Kita berdua sangat bahagia sekali pagi ini karena semua orang yang ada di sekitar kita merestui hubungan kita berdua.
Sepanjang perjalanan tak bosan aku menatap mas Ricard yang terlihat sangat tampan sekali pagi ini dengan baju kerja yang dia kenakan.
"Jangan menatap ku terus, nanti kamu jatuh cinta." Ucap mas Ricard sambil fokus mengemudi.
"Aku memang sudah jatuh cinta sama kamu mas, dan aku seperti nya tidak bisa jauh-jauh dari kamu deh, aku takut ada wanita yang akan menggoda kamu." Ucap ku sambil menyandarkan kepalaku di bahu nya.
Entah kenapa tiba-tiba bayangan Caca melintas di pikiran ku.
"Kamu tenang saja sayang, aku tidak akan pernah tergoda sama wanita mana pun, karena di dalam hati ku sudah ada kamu." Ucap mas Ricard, tangan nya yang sebelah kiri mengelus kepala ku dengan lembut.
"Kamu belum menyadari nya mas, kalau aku itu takut kamu di rebut sama Caca, karena aku yakin kalau Caca itu menyukai kamu." Gumam ku di dalam hati.
Aku tahu kalau Caca itu saudara nya mas Ricard, tapi entah kenapa hati ku mengatakan hal lain, bahkan aku berpikir kalau Caca menyukai mas Ricard dan akan merebut mas Ricard dari ku.
"Masih nyaman ya bersandar di bahu mas." Ucap mas Ricard membuyarkan lamunan ku.
Karena aku bergelut dengan pikiranku tentang Caca, aku sampai tidak menyadari kalau mobil mas Ricard sudah berada di parkiran kantor.
__ADS_1