Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Ingin Mereka Hancur


__ADS_3

[ Pov Ricard ]


Seperti biasa selain menyelesaikan pekerjaan nya Ricard selalu menjadi cctv buat Yola.


Seperti saat ini tatap kedua mata Ricard tidak lepas dari semua gerak gerik Yola.


Bibir Ricard tersenyum ketika melihat Yola menatap ke ruangan nya.


"Kamu penasaran ya sayang sama atasan kamu." Gumam Ricard dengan tatapan tidak lepas dari wajah Yola.


Ricard melihat Yola meraih ponsel dan menerima panggilan nya, beberapa menit Ricard terus memperhatikan gerak gerik Yola dan bertanya-tanya siapa yang sudah menghubungi nya.


Ricard sedikit kaget ketika ponsel nya berbunyi.


"Ada apa sayang, jangan bilang kamu minta izin untuk pergi lagi dengan pria brengsek itu." Gumam Ricard lalu menerima panggilan dari Yola.


"Iya sayang."


"Kamu mau makan di cafe xxxx? Sama siapa?"


"Ya sudah biar mas yang antar, mas tunggu di parkiran."


Ricard langsung menutup panggilan nya dan melepaskan jas yang nempel di tubuh nya, sebelum keluar dari ruangan nya Ricard memastikan dulu kalau Yola sedang tidak melihat ke arah depan, begitu Yola sedang membereskan meja nya, Ricard dengan langkah cepat dan terburu-buru keluar dari ruangan nya dan masuk ke dalam lift.


Kini Ricard sudah duduk di belakang kemudi dan berpura-pura lagi fokus sama ponsel nya.


"Hai, sayang." Ucap ku ketika aku sudah berada di samping mobil mas Ricard.


"Apa lagi yang kamu rencanakan? Sampai-sampai kamu mau lunch bareng dia?" Tanya mas Ricard sambil menatap ku.


"Yang akan aku lakukan membuat mereka hancur se hancur-hancur nya, mas Bagas tadi menghubungi ku dan meminta aku untuk menemani nya lunch, aku ngga bisa menolak nya mas, kalau aku menolak nya pasti dia akan datang ke perusahaan, aku takut di kala ada dia, bos ku melihat nya, apalagi ya mas, aku merasa kalau bos aku tuh selalu memperhatikan aku deh." Ucap ku setelah duduk di samping mas Ricard.


"Memang nya kamu belum pernah masuk ke ruangan bos mu?"


"Belum mas, lagian ruangan nya itu tidak pernah terbuka sedikit pun, sebenar nya aku juga penasaran dengan bos ku itu, dia itu sudah tua atau masih muda, tapi kalau dia lagi menghubungi ku, aku serasa pernah mendengar suara nya deh mas."


"Uhuk."


"Kenapa mas?"


"Tolong ambilkan minum, tenggorokan mas ngga enak ini, seperti nya mau batuk."

__ADS_1


Aku mengambil botol minum dan membuka nya, mas Ricard menghabiskan hampir setengah botol air minum.


"Nanti mas beli obat ya, jangan di biarkan nanti makin parah lagi." Aku khawatir dengan kesehatan mas Ricard.


"Iya sayang, ya sudah sana kamu lunch sama mantan suami kamu itu, aku yang sebagai calon suami kamu hanya bisa mengantar sampai sini saja."


"Mas, jangan bicara seperti itu." Aku menggenggam tangan mas Ricard, aku merasa ngga enak setelah mendengar ucapan dari mas Ricard barusan.


"Memang kenyataan nya kok."


Di lihat dari wajah nya mas Ricard seperti nya lagi cemburu, dengan perlahan aku mendekati wajah mas Ricard, ku tarik tangan nya agar dia sedikit mendekat.


Ku cumbu bibir nya dengan penuh kelembutan, awal nya mas Ricard hanya diam saja, tapi lama-kelamaan dia pun membalas nya.


Aku dan mas Ricard terus bercumbu sampai aku hampir kehabisan nafas ku.


Aku melepaskan pagutan ku itu lalu tersenyum, "AKu kan sudah bilang, jangan suka cemburu kalau aku lagi sama dia, aku ini hanya ingin mereka hancur, tidak lebih." Ucap ku sambil mengusap bibir mas Ricard yang sedikit merah karena lipstik ku.


"Ya sudah kamu masuk sana, nanti aku nyusul dengan penampilan kesukaan kamu." Ucap mas Ricard lalu kembali mencium bibir ku sebentar.


"Ya sudah aku masuk ya mas."


Aku keluar setelah mas Ricard benar-benar mengizinkan aku untuk lunch berdua dengan mas Bagas.


"Maaf, apa anda nona Yola?" Tanya pelayan itu.


"Ya saya Yola."


"Anda sudah di tunggu oleh pak Bagas, mari saya antar."


Aku pun mengikut langkah pelayan cafe wanita itu menuju meja mas Bagas.


Aku melihat mas Bagas sudah duduk manis dengan minuman di depan nya.


"Halo mas, sudah lama menunggu ya." Ucap ku basa basi.


"Akhir nya kamu datang juga sayang, mas kira kamu tidak akan datang." Ucap mas Bagas sambil memeluk ku.


"Apa sih yang ngga kalau buat mas." Aku membalas pelukan mas Bagas sebentar lalu aku melepaskan nya.


Mas Bagas sedikit menggeser kursi untuk aku duduk, ah perlakuan nya manis tapi sayang kelakuan nya seperti iblis yang suka menghina orang dari fisik nya saja.

__ADS_1


"Mau makan apa sayang?"


Dulu mungkin aku akan senang dan bahagia bila dia memanggilku dengan panggilan sayang, tapi saat ini aku malah ingin muntah mendengar nya.


"Apa saja mas, terserah kamu."


"Ya sudah mas pesankan makanan yang sama dengan mas saja ya."


Mas Bagas memanggil seorang pelayan dan memesan beberapa makanan dan minuman untuk kita berdua.


"Mas kangen kamu sayang, coba kalau semalam kita bisa pergi ke hotel lagi."


"Aku capek mas, semalam aku istirahat, lagian aku juga kan lagi sama Lea." Sebenar nya aku jijik dengan pembahasan ini, tapi mau bagaimana lagi, aku harus menghadapi nya agar balas dendam ku ini berhasil.


"Mas mengerti sayang, tapi kapan-kapan kita nginap di hotel lagi ya."


"Dasar maniak, sudah punya istri di rumah masih saja mencari wanita di luaran." Gumam ku di dalam hati.


"Iya mas." Aku hanya menjawab nya dengan singkat.


Pelayan datang membawa makanan yang kita pesan dan menata nya.


"Silahkan di nikmati." Ucap pelayan itu lalu pergi meninggalkan kita lagi.


Aku dan mas Bagas menikmati makanan nya, mas Bagas terus menatap ku dengan penuh nafsu membuat aku semakin jijik saja.


Sepintas aku melihat dua sosok wanita yang aku kenal masuk ke dalam cafe sambil melirik ke kanan dan ke kiri seperti lagi mencari seseorang.


Aku langsung menyuapkan makanan kepada mas Bagas.


Mas Bagas menerima nya sambil tersenyum, lalu dia juga memberikan aku suapan dan akhir nya kita berdua saling suap.


Dengan perlahan aku menggeser kursi dan duduk tepat di samping mas Bagas.


Mas Bagas menatapku dengan tersenyum bahagia, aku sengaja menggoda mas Bagas dan memberi kode kalau aku ingin di cium nya.


Mas Bagas yang mengerti langsung melahap bibir ku, tangan ku sengaja aku kalungkan ke leher nya.


"Mas Bagas."


"Bagas."

__ADS_1


Teriak ke dua wanita itu dengan begitu keras hingga kita melepaskan pagutan kita.


__ADS_2