
[ Pov Ricard ]
Ricard dengan senyuman yang lebar duduk kembali di kursi kebesaran nya setelah mendapatkan vitamin dari Yola.
Ricard dengan serius menyelesaikan pekerjaan nya karena sehabis jam makan siang dirinya ngga akan balik ke kantor lagi.
"Akhir nya selesai juga." Gumam Ricard lalu membereskan meja nya.
Terlihat ada seorang wanita sedang menuju ruangan nya yang membuat bibir nya tersenyum.
Ricard menekan tombol remote pintu ruangan nya dan membiarkan wanita itu masuk ke dalam ruangan nya lalu duduk di sofa.
"Halo kakak ku yang tampan." Sapa Caca sambil menghampiri Ricard.
"Halo Ca, tumben kamu ke sini? Memang nya kamu ngga ikut pulang sama om dan tante?" Tanya Ricard dengan nada biasa aja.
Caca memang setiap main ke rumah Ricard siang nya selalu datang ke kantor Ricard dengan berdalih membawakan makanan atau hanya sekedar bilang kangen atau bosan diam di rumah.
"Aku kan mau tinggal di rumah mamah Mesty, dan juga mau kerja di sini." Jawab Caca sambil duduk di samping Ricard.
Caca menyandarkan kepala nya di bahu Ricard dengan mesra layak nya sepasang kekasih, tapi Ricard berpikir nya kalau Caca manja, karena Ricard sudah biasa dengan sikap nya Caca yang seperti itu.
"Kak, kita jalan-jalan yuk." Ucap Caca dengan mesra dan manja, tangan Caca mengusap lembut dada Ricard.
"Ngga Ca, hari ini kakak sudah ada janji."
"Ayo lah kak, aku kan kangen jalan sama kakak, kita udah lama juga ngga jalan bareng."
Caca terus membujuk dan merayu Ricard sampai-sampai Caca naik dan duduk di atas ke dua paha nya Ricard, kedua tangan Caca dia kalungkan ke leher Ricard.
Karena memang Ricard hanya menganggap Caca itu adik nya sendiri, jadi Ricard biasa saja.
Sementara hati Caca sangat senang sekali bisa sedekat itu dengan Ricard, timbul di hati Caca ingin mencium bibir Ricard.
Tapi sayang, impian Caca tidak sesuai dengan ekspektasi, hingga baru juga Caca niat di dalam hati nya, ada suara perempuan yang memanggil Ricard.
__ADS_1
"Mas." Aku memanggil mas Ricard yang sedang memangku Caca.
Mas Ricard langsung mendorong Caca ke samping lalu menghampiri ku.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya mas Ricard lalu memeluk ku.
Aku hanya terdiam, aku shock melihat kelakuan Caca kepada mas Ricard.
"Ternyata janda ini ada di ruangan kakak juga, jangan bilang kalau dia sudah merayu kakak untuk tidur bersama." Ucap Caca dengan wajah sinis nya.
"Caca!" Teriak mas Ricard dengan penuh amarah.
"Oh jadi sekarang kakak sudah berani membentak aku? Semua ini gara-gara kamu janda gatal." Ucap Caca sambil menunjuk ke arah ku.
Aku melihat kemarahan di mata mas Ricard, dan juga kemarahan di mata nya Caca.
"Jangan salahkan Yola, dia tidak bersalah, kamu sudah berani tidak sopan dan bicara semau mu, siapa yang mengajarkan kamu untuk seperti itu." Ucap mas Ricard dengan nada yang masih tinggi.
"Sudah mas, jangan marah-marah lagi." Aku mencoba untuk menenangkan amarah mas Ricard.
"Sudah mas sini duduk, ambil nafas dalam-dalam lalu buang, hilangkan rasa kekesalan mas, aku tidak mau gara-gara aku, persaudaraan kalian renggang." Ucap ku sambil mengusap dada mas Ricard.
"Tapi dia sudah keterlaluan sama kamu, dia ngga pantas berbicara seperti itu sama calon istri mas."
"Aku makin cinta deh sama bos tampan ku ini." Ucap ku lalu ku cium seluruh wajah mas Ricard sampai mas Ricard tersenyum.
"Aku juga makin cinta sama asisten cantik ku ini."
Suasana hati mas Ricard sudah kembali tenang, bibir nya yang selalu tersenyum membuat aku ingin mengatakan perasaan ku.
"Mas, sebelum nya aku minta maaf kalau aku bicara salah, tapi aku rasa Caca itu menyukai mas deh." Ucap ku dengan perlahan agar mas Ricard tidak salah paham dengan ku.
"Maksud kamu?" Tanya mas Ricard sambil mengerutkan kening nya.
"Perilaku Caca terhadap mas seperti nya Caca menyukai mas bukan seperti menyukai saudara nya, tapi lebih ke wanita dewasa yang menyukai lawan jenis nya dan bisa jadi Caca mencintai kamu mas."
__ADS_1
Ku lihat mas Ricard terdiam dan mencerna semua ucapan ku.
"Aku juga merasakan nya sayang, tapi itu ngga mungkin terjadi karena aku dan Caca adalah saudara." Gumam bathin Ricard.
Ricard memang belum tahu kalau Caca hanya saudara angkat nya, karena dulu pas tante dan mamah nya mengadopsi Caca, Ricard masih kecil dan belum mengerti apa-apa.
"Sudah lah mas jangan di pikir kan, mungkin pikiran aku yang salah, aku terlalu cemburu melihat kamu mesra dengan wanita lain." Ucap ku membuang semua pikiran yang ada di pikiran ku.
"Kamu ngga perlu cmeburu sama Caca sayang, dia itu sudah mas anggap adik mas sendiri, dari kecil kita saling meyayangi dan menjaga, dan sebentar lagi juga Caca akan menjadi adik kamu."
"Tetap saja mas aku cemburu, kamu juga cemburu kan kalau melihat aku pelukan sama kak Leo."
"Itu beda cerita sayang, kamu dan kak Leo kan saudara angkat, sedangkan aku sudah jelas kita itu saudara karena ayah nya Caca dan ayah nya mas itu adik kakak, dan mereka saudara kandung,berarti aku dan Caca juga saudara sedarah."
"Bisa jadi kan Caca juga anak angkat? Bukti nya sikap nya ke mas tidak mencerminkan sama saudara, tapi lebih ke perasaan" Aku tanpa sadar mengeluarkan kalimat seperti itu.
"Maksud kamu?"
"Sudah lah mas ngga usah di bahas, mending kita pergi ke restoran nya kak Leo, bukan nya mas sudah buat janji siang ini." Ucap ku mengalihkan pembicaraan, bagaimana pun kalau pikiran ku yang salah, aku yang malu nanti nya oleh mas Ricard dan keluarga nya.
"Oh iya sayang, mas hampir saja lupa untung kamu mengingatkan mas akan janji siang ini."
Aku pun menarik tangan nya mas Ricard dan pergi keluar dari ruangan.
Setelah kita berdua menemui mbak Ratih dan bilang kalau kita ngga akan balik lagi, kita berdua pun langsung pergi.
Aku lihat mas Ricard hanya diam dan tidak banyak bicara sampai kita sudah duduk di dalam mobil, "Kenapa mas Ricard diam saja ya? Apa ada perkataan ku yang salah tadi." Gumam bathin ku di dalam hati.
"Mas," Aku memanggil nya.
"Iya sayang, kenapa?"
"Kamu kok diam saja, kenapa? Apa ada salah kata yang sudah aku ucap kan?"
"Ngga ada sayang, kamu ngga ada salah, cuma mas lagi mikirin kerjaan aja, soalnya ada beberapa yang mesti di benerin akibat mas kemarin-kemarin jarang masuk kantor." Ucap mas Ricard dan membuat ku hanya ber oh ria saja.
__ADS_1