
Pagi hari aku bangun dan masih dalam posisi yang sama, kepalaku masih berada di atas dada bidang nya milik mas Ricard.
Aku mengendus wangi tubuh mas Ricard lalu mencium dada nya.
"Sayang geli." Ucap mas Ricard dengan ke dua mata nya masih terpejam.
"Habis nya aku suka wangi nya." Jawabku sambil terus mengendus wangi tubuh mas Ricard padahal semalam habis berkeringat tapi wangi parfum nya tidak hilang dari tubuh nya.
"Kemarin-kemarin bilang mas bau dan ngga mau dekat-dekat, sekarang malah bilang wangi dan ngga mau jah-jauh." Ucap mas Ricard sambil memeluk ku dengan erat.
"Ya kan bukan aku yang mau mas, tapi anak kita ini." Ucap ku sambil mengelus perut ku yang buncit.
"Pagi sayang nya papah, senang kan semalam sudah papah tengok, sering-sering aja minta di tengok ya sayang, papah akan selalu siap untuk menjenguk kamu." Ucap mas Ricard sambil mengelus perut ku lalu bangun dari tidur nya dan mengecup perut ku berkali-kali.
"Itu mah mau mu mas."
Ku lihat senyum manis nya mas Ricard pagi ini, dia benar-benar bahagia karena malam sudah ku izinkan menengok bayi kita.
"Mas_" Ucap ku sambil menahan sesuatu.
Ternyata ciuman mas Ricard sudah beralih di tempat favorit nya sehingga membuat tubuh ku langsung bergetar dan menginginkan yang lebih.
Lumayan lama mas Ricard bermain-main di sana hingga kini mas Ricard sudah berada di atas ku dengan bibir yang tersenyum lebar.
"Habis nya apa yang ada di tubuh kamu membuat mas candu, boleh kan sayang kalau mas minta sekali lagi?"
"Tidak!" Ucap ku dengan tegas.
"Ya sudah kalau ngga boleh." Ucap mas Ricard lalu turun dari tubuh ku dengan wajah sedikit di tekuk.
Aku bangun dan langsung mendorong tubuh mas Ricard hingga berbaring.
"Tidak boleh kalau mas yang di atas." Ucap ku sambil naik ke atas tubuh mas Ricard.
Wajah yang baru saja di tekuk nya, kini berubah menjadi bersinar setelah melihat apa yang aku lakukan kepada nya.
Akhir nya terjadi kembali apa yang sudah terjadi semalam, pagi ini kami berdua melakukan nya lebih gairah dari semalam.
Keringat kembali membasahi tubuh kita berdua di pagi ini hingga kita berdua merasa melayang dan benar-benar puas.
********
"Mereka kok belum turun ya pah?" Tanya bu Mesti yang kini sudah berada di meja makan bersama suami nya.
__ADS_1
"Sebentar lagi kali mah." Jawab pak Anwar.
Sesuai janji mereka, kini mereka selalu ada di rumah, bu Mesti buka praktek di rumah sambil menjaga Yola, dan sesekali pergi ke rumah sakit jika di perlukan oleh pihak rumah sakit.
Pak Anwar yang sangat mengharapkan sekali kehadiran cucu nya memberi kekuasaan nya kepada orang yang dia percaya dan pak Anwar hanya memantau saja dari rumah.
Yola sudah tidak di perbolehkan pergi ke kantor oleh bu Mesti dan pak Anwar dan Ricard memberikan kekuasaan nya kepada orang yang sangat ia percaya dan yang bisa mengelola perusahaan.
"Alhamdulilah ya pah, dalam waktu beberapa bulan lagi cucu kita akan hadir, mamah sudah ngga sabar." Ucap bu Mesti.
"Iya mah, dan semoga saja Yola tidak memakai alat kontrasepsi, papah ingin banyak cucu." Ucap pak Anwar.
"Biar nanti mamah yang bicara sama Yola."
"Ruang praktek mamah sudah selesai kan?" Tanya pak Anwar.
"Sudah pah, mulai besok baru buka."
Pak Anwar dan bu Mesti pun sarapan sambil berbincang santai.
******
Mas Ricard sudah terlihat tampan dengan baju kerja nya, wajah nya yang cerah dan bibir nya yang terus menyunggingkan senyuman membuat ketampanan nya maskin bersinar.
"Mas tidak akan melirik wanita lain, karena yang ada di hati dan pikiran mas hanya mamah nya anak-anak."
Walaupun hanya ucapan, tapi aku sangat bahagia dan percaya dengan mas Ricard.
Aku pun tersenyum lalu ku cium bibir nya mas Ricard, "I Love You."
"I Love You To, ya sudah kalau begitu ayo kita sarapan, papah sama mamah pasti sudah menunggu." Ajak mas Ricard sambil menarik tangan ku.
Aku dan mas Ricard pun keluar dari kamar dan menuju ruang makan, ku lihat papah dan mamah sedang sarapan sambil berbincang.
"Pagi pah, pagi mah." Aku menyapa ke dua mertua ku.
"Pagi sayang, ayo sarapan."
Seperti biasa mas Ricard menggeser kursi untuk ku, setelah itu mas Ricard mengambilkan makanan untuk ku, sebenar nya aku malu karena itu adalah tugas ku, tapi mas Ricard selalu melarang aku untuk melakukan apa pun.
Aku benar-benar di jadikan ratu di rumah ini, tapi aku ngga mau jadi orang yang tidak tahu diri, aku selalu menghormati mas Ricard dan kedua mertua ku.
Mas Ricard memberikan suapan demi suapan sampai aku kenyang, awal nya aku malu karena mas Ricard memberikan suapan di depan mamah dan papah, tapi lama kelamaan sudah menjadi hal yang biasa.
__ADS_1
"Assalamualaikum, wah kebetulan nih." Ucap seseorang hingga membuat kita semua langsung menatap ke arah pintu.
"Kak Leo." Gumam ku.
"Leo, ayo sini sarapan." ajak mamah.
"Tumben pagi-pagi kesini." Ucap mas Ricard sambil memberikan suapan terakhir nya.
"Di rumah ngga ada makanan jadi aku mau ikut sarapan."
"Ngga modal, masa bos restoran mahal ngga mampu beli untuk sarapan."
"Sudah, kalian ini sekarang sering berdebat ya." Ucap ku.
"Sarapan nak."
"Makasih pak, saya sudah sarapan tadi."
"Terus kalau ngga ikut sarapan ada apa? Ngga mungkin kan kalau ngga ada perlu?" Ucap mamah.
"Iya nih pak, bu, saya kesini mau minta tolong_"
"Masa kamu mau pinjem duit pagi-pagi begini." Ucap mas ricard.
"Mas." ucap ku sambil menepuk tangan nya agar dia diam dulu.
"Bukan, jangan sok tahu lah bos."
"Sudah-sudah apa yang bisa kita bantu?" Tanya mamah.
"Saya minta tolong untuk menjadi wali saya nanti." Ucap kak Leo.
"Wali? Berarti kakak mau nikah dong? Kapan kak? Sama Lea kan?" Aku pun memberikan kak Leo beberapa pertanyaan.
"Nanya itu satu-satu Yol, kakak kan jadi pusing mau jawab yang mana dulu."
"Kamu jawab saja semua pertanyaan istri saya apa susah nya sih."
"Yang hamil siapa, yang sensi siapa." Gumam kak Leo.
Mas Ricard mau membalas ucapan kak Leo tapi aku langsung membekap mulut nya.
"Sudah ngga usah di perpanjang lagi."
__ADS_1