
Kini aku sudah berada di dalam ruangan, aku di kelilingi oleh keluarga mas Ricard yang sangat menyayangi ku.
Semua orang mengelilingi bayi ku, sedangkan aku dan mas Ricard hanya diam sambil menatap mereka yang sedang memperebutkan bayi kita.
"Tuh lihat sayang, itu kan anak kita tapi kita tidak di perbolehkan untuk memiliki nya." Ucap mas Ricard yang selalu setia berada di samping ku.
"Sabar mas, biarkan saja nanti juga ada waktu nya untuk kita menggendong nya."
"Tapi masa kita yang orang tua nya cuma sebentar saja menggendong nya, mas juga ingin menggendong nya yang lama."
"Sudah biarkan saja, nanti kita buat lagi." Ucap ku tanpa sadar.
"Yes! Kapan kita buat nya?" Tanya mas Ricard sambil menatap ku dengan genit.
"Tunggu tiga bulan lagi, baru kita akan kembali membuat nya."
"Apa! ti_tiga bulan? Lama sekali sih sayang." Teriak mas Ricard hingga para orang tua langsung menatap ke arah kita.
"Tiga bulan saja di bilang lama." Ucap papah.
"Habis nya kalian semua yang menguasai anakku, giliran napa." Mas Ricard tidak terima anak nya selalu di gendong mereka.
"Sabar, nanti juga dapat giliran." Ucap papah Bimo.
"Oh ya nak, apa kamu sudah menyiapkan nama nya?" Tanya mamah Dori.
"Sudah kok mah." Jawab ku.
"Siapa?" Tanya mereka secara bersamaan membuat bibir ku tersenyum.
"Rafaizan Anthoni Syaputra." Jawab ku sambil tersenyum.
"Nama yang bagus."
__ADS_1
"Jadi gimana mas, apa nama yang aku siapkan cocok?" Aku bertanya kepada mas Ricard.
"Cocok sayang, apa pun nama pemberian kamu kita terima."
Aku senang sekali karena mereka semua setuju dengan nama yang sudah aku siapkan.
"Izan sayang, cucu omah yang tampan, cepat gede ya sayang, nanti kita jalan-jalan ke mall, apa pun yang Izan mau akan omah belikan." Ucap mamah sambil menggendong Izan.
"Mah gantian papah dong yang gendong, Izan juga kan cucu nya papah." Ucap papah Anwar.
"Sabar dong pah, sebentar lagi napa."
"Iya nih, gantian dong kak, aku juga ingin menggendong nya." Ucap mamah Dori.
Mereka pun berebut ingin menggendong Izan sampai-sampai aku dan mas Ricard pusing mendengar nya.
"Assalamualaikum."
"Selamat ya mbak, sekarang mbak sudah menjadi seorang ibu." Ucap Lea sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan pipi kanan aku.
"Makasih Le, bagaimana dengan kalian berdua, apa sudah ada hasil nya?" Tanya ku.
"Belum mbak, lagian kita masih mau menghabiskan masa berdua dulu."
"Selamat ya bos, sekarang anda sudah mejadi seorang aya." Ucap kak Leo sambil mengulurkan tangan nya kepada mas Ricard.
"Leo, kita itu sudah menjadi satu keluarga kenapa kamu tidak merubah panggilan?"
"Sudah nyaman sih bos." Ucap kak Leo sambil menghampiri Izan yang sedang di perebutkan kakek dan nenek nya.
"Ya ampun Yol, anak kamu tampan banget, kok ngga mirip dengan papah nya ya? Papah nya biasa saja tapi anak nya kok tampan nya luar biasa." Ucap kak Leo membuat mas Ricard langsung melemparkan bantal kepada kak Leo.
"Brengsek lo, gue tampan begini." Ucap mas Ricard sambil melemparkan bantal.
__ADS_1
"Eh ngga boleh begitu, walaupun begini juga saya ini adalah kakak ipar kamu, mau aku ambil kembali istri dan anak mu." Ucap kak Leo sambil menerima bantal yang di lemparkan mas Ricard.
Mendengar para orang tua yang saling memperebutkan Izan saja aku sudah pusing, sekarang malah di tambah perdebatan antara kak Leo dan mas Ricard.
*******
Setelah beberapa hari di rumah sakit, kini aku dan Izan sudah di perbolehkan pulang ke rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, aku sangat kaget karena ternyata rumah sudah di dekor cantik untuk menyambut baby Izan dan aku.
Semua pelayan berjejer berdiri menyambut kedatangan ku, mereka semua sangat antusias seperti papah dan mamah, mungkin karena rumah ini sudah lama menginginkan ada anggota baru.
Mereka semua benar-benar menyambut ku dengan baik, semua hidangan sudah tersedia di atas meja.
Kamar buat baby Izan sudah rapih dan bersih mereka siapkan.
"Wah kamar Izan bagus sekali, tapi kan Izan belum di perbolehkan tidur sendiri." Ucap ku sambil menatap kamar yang akan di tempati baby Izan.
"Ya ngga apa-apa, yang penting kan baby Izan sudah punya kamar." Ucap mas Ricard.
"Ya sudah kamu istirahat saja, baby Izan biar sama mamah, nanti kalau baby Izan lapar mamah berikan sama kamu." Ucap mamah Mesti yang masih setia menggendong baby Iza.
Mamah Mesti ini seperti takut baby Izan ada yang mengambil dari nya, sehingga ketika yang lain ingin menggendong nya, mamah Mesti pasti memberikan waktu paling lama sepuluh menit saja.
"Ya sudah kalau begitu aku istirahat duluan ya mah." Ucap ku lalu masuk ke dalam kamar di dampingi mas Ricard.
Aku merebahkan tubuh ku, aku merasa kalau aku ini sudah menjadi ibu, tapi aku belum merasakan jadi ibu yang sesungguh nya karena baby Izan masih di kuasai oleh para kakek dan nenek nya.
"Ya sudah kamu tidur, sebelum baby Izan nangis minta susu." Ucap mas Ricard.
"Iya mas."
Aku pun merebahkan tubuh, mungkin karena lelah dan selama di rumah sakit aku kurang tidur hingga tidak berapa lama aku sudah masuk ke alam mimpi.
__ADS_1