
Setelah acara lamaran semalam akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di rumah nya kak Leo, untung saja rumah kak Leo banyak kamar nya.
Aku terbangun di pagi hari karena terdengar suara-suara yang sangat berisik sekali.
Entah ada apa dan entah siapa pagi-pagi begini sudah sangat berisik sekali ini rumah, padahal hari-hari biasa nya juga ngga pernah berisik seperti pagi ini.
"Le, bangun, kamu ngga keganggu ya sama suara berisik mereka." Ucap ku sambil menggoyangkan tubuh Lea.
"Iya mbak aku juga dengar, tapi mata ku malas banget untuk bangun." Jawab Lea dengan mata yang masih terpejam nya.
"Ya sudah kalau gitu ayo bangun, kita lihat." Aku terus menggoyangkan tubuh nya Lea.
Ku lihat Lea bangun dan duduk meski ke dua mata nya masih merem melek.
"Ada apa sih mbak, tunggu lima menit lagi ya mbak, aku masih ngantuk." Ucap Lea seperti kepada kakak kandung nya.
"Kamu dengar deh, berisik kan di luar? Ay kita lihat mereka sedang apa."
"Kan mereka lagi mempersiapkan buat acara nanti malam mbak." Ucap Lea lalu menarik selimut nya kembali dan menutupi tubuh nya.
"Acara nanti malam? Memang nya ada acara apa nanti malam." Gumam ku yang masih bisa di dengar oleh Lea.
"Kan nanti malam mbak menikah dengan pak Ricard." Ucap Lea dari balik selimut nya.
"Apa! Jadi lamaran semalam itu benar? Mbak kira mbak mimpi." Ucap ku dengan nada sedikit tinggi membuat Lea membuka selimut nya.
"Ya ampun mbak, padahal semalam sudah sepakat lo, kok bisa mbak sampai lupa." Ucap Lea dengan mata nya yang sudah terbuka, mungkin karena aku terus mengajak nya berbicara hingga dia pun memutuskan untuk bangun.
__ADS_1
"Tapi, apa bisa sehari selesai semua nya?" Tanya ku.
"Aku yakin bisa mbak, pak Ricard kan banyak uang nya, jadi apa sih yang ngga mungkin kalau sudah ada uang, dan pasti nya sekarang di luar kamar ini sudah banyak orang memenuhi ruangan untuk mendekor di setiap sudut rumah ini, makanya berisik nya ngga ketulungan, aku yang masih ngantuk saja harus memaksakan diri untuk bangun, sudah lah berisik di luar sekarang ditambah sama mbak lagi yang berisik." Ucap Lea.
"Oh jadi kamu kesal sama mbak? Apa kamu berani dengan mbak? Kamu mau ya kalau mbak ngga ngasih restu kamu sama kak Leo?" Aku pun menggoda Lea karena aku tahu kalau Lea kesal karena dia masih ngantuk.
"Ngga kok mbak, aku ngga kesal sama mbak, tadi hanya becanda saja kok, jangan marah ya adik ipar yang cantik." Ucap Lea dengan senyuman nya.
"Selama aku hidup, baru kali ini aku mendengar ada adik ipar di panggil mbak." Ucap ku.
"Ya gimana ya mbak, secara usia mbak lebih tua dari aku, secara peringkat keluarga aku yang masih muda ini harus siap menjadi kakak adik ipar yang lebih tua dari aku, aku saja jadi bingung, perasaan kok belibet ya mbak."
Aku tertawa melihat wajah bingung nya Lea, sudah lah muka nya lagi muka bantal, di tambah lagi dia sedang bingung memikirkan silsilah keluarga dan umur.
"Bahagia banget mbak lihat orang lagi bingung." Ucap Lea.
"Dari zaman nenek moyang sampai saat ini, kenapa seorang adik selalu di perlakukan seenak nya oleh yang usia lebih tua." Ucap Lea yang masih bisa aku dengar.
"Bicara apa kamu." Teriak aku sambil membuka pintu kembali.
"Ngga kok, aku cuma bilang kalau aku mau tidur lagi." Ucap Lea lalu menutup wajah nya dengan selimut.
***********
Dengan susah payah Bagas keluar dari gedung tua itu, butuh perjuangan buat Bagas untuk bisa mendekat ke arah mobil nya, dia ingin ngambil ponsel yang dia simpan di dalam mobil.
Dengan hanya menggunakan ****** ***** saja Bagas terus menggeser tubuh nya.
__ADS_1
Kaki dan tangan yang patah membuat Bagas susah untuk melakukan apa yang dia ingin kan.
Hanya dengan mengandalkan sebelah tangan dan sebelah kaki yang masih bisa di gunakan Bagas pun terus menggeser tubuh nya hingga kini Bagas sudah berada di dekat mobil nya.
Tangan yang tidak patah meraih pintu mobil dan membuka nya, dan kembali dengan susah payah Bagas masuk ke dalam mobil nya.
Bagas menghela nafas nya, keringat bercucuran walaupun hari masih pagi, darah yang sudah mulai kering memenuhi wajah nya, badan nya yang serasa remuk sungguh membuat Bagas sangat menyesal dengan apa yang sudah dirinya lakukan.
Terdengar suara ponsel nya berdering, Bagas pun langsung menerima panggilan nya karena itu panggilan dari tempat nya bekerja yang dulu nya perusahaan nya sendiri.
"Halo." Sapa Bagas sambil menahan rasa sakit yang luar biasa pada sekujur tubuh nya.
"Selamat pagi pak Bagas, maaf mulai hari ini bapak tidak usah datang lagi ke kantor, untuk uang gajih terakhir dan pesangon dari pak bu Yolanda nanti kami transfer." Ucap pihak hrd dengan sangat jelas di telinga Bagas.
"Apa! Jadi saya di pecat." Teriak Bagas.
"Ya, dan itu sudah menjadi keputusan dari bu Yolanda yang memegang perusahaan ini sekarang."
Bagas terdiam, dia mengingat semua perlakuan nya kepada Yola semenjak Yola di jodohkan dengan dirinya hingga ia menculik dan mencoba untuk memperkosa nya.
"Kakek, maaf kan aku kek, ternyata semua ucapan kakek benar, Yola wanita baik-baik yang pantas untuk menjadi seorang istri, tapi aku malah menyia-nyia kan nya dan telah menyakiti nya, aku menyesal kek, aku hancur sekarang." Ucap Bagas sambil menitik kan air mata nya.
Bagas kembali membuka ponsel nya, dan ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Caca dan banyak sekali panggilan dari Elena istri nya.
"Kamu mau apa menghubungi ku Ca, awas saja kalau ketemu, aku akan membuat perhitungan dengan kamu." Ucap Bagas emosi.
"Sekarang aku sudah hancur, aku sudah ngga punya apa-apa lagi."
__ADS_1
Bagas pun langsung menghubungi Elena untuk meminta bantuan.