
Para pria kini sedang sibuk di ruang kerja Leo, mereka sedang berusaha meretas no yang menghubungi Yola dan mencari titik dimana sekarang mereka berada.
Sedangkan para wanita sedang duduk menunggu sambil memikirkan Yola.
"Aku harus menghubungi pak Bagas, kalau tidak mampus aku kalau pak Bagas sampai ketahuan sama papah dan kak Ricard." Gumam Caca di dalam hati nya.
"Kamu kenapa?" Tanya bu Mesti yang melihat wajah khawatir Caca.
"Aku lagi khawatir mah, kasihan kakak kalau mbak Yola nya ngga kembali." Jawab Caca dengan ekspresi yang di buat sedih.
"Siapa juga yang khawatir, aku malah senang kok dia ngga ada, aku jadi bisa menggantikan nya untuk menjadi istri kak Ricard." Gumam Caca di dalam hati nya.
"Kamu tenang saja, mamah yakin kalau papah dan Ricard pasti akan menemukan mereka." Ucap bu Mesti membuat Caca kembali khawatir.
"Mbak, toilet nya sebelah mana ya? Aku mau ke toilet." Ucap Caca kepada Lea.
"Oh mari saya antar."
"Ngga usah mbak, tunjukkan saja toilet nya." Caca ngga mau kalau Lea tahu dirinya menghubungi Bagas.
Lea pun menunjuk kan letak toilet nya, setelah di rasa paham, Caca pun pergi ke toilet.
Sebelum masuk ke dalam toilet yang dekat dengan dapur caca melihat ke arah sekitar, di rasa sudah cukup aman Caca pun langsung masuk ke dalam toilet.
Caca langsung mengambil ponsel dari tas kecil yang selalu dia bawa dan mencari kontak Bagas lalu menghubungi nya.
Beberapa kali Caca menghubungi no Bagas, tapi tidak ada satu pun yang Bagas terima.
"Angkat dong pak Bagas." Gumam Caca lalu kembali mencoba menghubungi no Bagas.
Caca sudah panik karena Bagas tidak menerima panggilan nya.
"Kalau sampai pak Bagas tidak menerima panggilanku, hancur sudah semua nya." Gumam Caca.
"Maaf, apa ada orang di dalam?" Teriak bi Narsih sambil mengetuk pintu nya.
Caca kaget mendengar suara pintu di ketuk dari luar, Caca kembali memasukan ponsel nya ke dalam tas lalu keluar.
__ADS_1
"Oh maaf non, saya kira pintu nya ke kunci sendiri, habis nya pintu terkunci tapi bibi tidak mendengar suara air." Ucap bi Narsih.
"Ngga apa-apa bi, silahkan kalau mau di pergunakan." Ucap Caca lalu keluar dari toilet.
Bi Narsih terdiam menatap punggung Caca, "Aneh, di dalam toilet tapi tidak terdengar air sama sekali, dia tidur atau buang air sih." Gumam bi Narsih lalu masuk ke dalam toilet.
***********
"Mah, kita berangkat dulu, kita sudah menemukan titik keberadaan Yola." Ucap pak Anwar setelah keluar dari ruang kerja Leo.
"Benarkah? Alhamdulilah kalau begitu." Ucap bu Mesti.
"Do*a kan Ricard secepat nya menemukan Yola mah." Ucap Ricard tanpa ekspresi, senyuman yang tadi selalu mengembang kini sirna dan hilang bersamaan dengan hilang nya Yola.
"Mamah akan selalu berdo*a buat kamu nak, hati-hati dan jaga emosi kamu jangan sampai karena emosi menguasai kamu akan menyesal nanti nya." Ucap bu Mesti sambil memeluk Ricard.
Bu mesti memberikan ciuman ke seluruh wajah Ricard seperti kepada anak kecil, bu Mesti memberikan semangat kepada anak nya.
Hati ibu mana yang tidak sedih melihat melihat senyuman yang selalu menghias bibir anak nya kini hilang seketika.
Ricard mencium telapak tangan ibu nya lalu pergi ke luar dengan amarah di dalam dada nya.
"Iya mas, hati-hati jangan lupa kasih kabar kalau sudah menemukan mbak Yola." Ucap Lea, Leo pun mengangguk lalu mengikuti langkah Ricard yang sudah berjalan ke luar.
"Papah juga akan ikut, mamah tunggu temani kakak ipar di sini." Ucap pak Bimo lalu berlari keluar mengikuti Ricard.
Caca kaget melihat para laki-laki sedang berjalan terburu-buru ke luar dari rumah.
"Loh, mereka pada mau kemana?" Tanya Caca dengan rasa khawatir nya.
"Mereka akan menolong Yola nak, Ricard sudah menemukan titik lokasi yang membawa Yola." Jawab bu Mesti.
"Apa!" Teriak Caca seakan-akan dirinya kaget dan tidak terima kalau Yola di temukan.
"Iya, kenapa kaget?" Tanya Lea yang heran dnegan raut wajah Caca.
"Ngga, aku cuma senang aja kalau memang benar mbak Yola di temukan." Ucap Caca tanpa melihat ke arah Lea.
__ADS_1
Lea sedikit curiga dengan tingkah laku Caca, Lea memperhatikan ekspresi wajah Caca.
"Apa dia ikut andil dengan hilang nya mbak Yola, secara kata mbak Yola dia menyukai pak Ricard." Gumam bathin Lea sambil melirik ke arah Caca.
"Mudah-mudahan titik yang mereka cari salah dan tidak benar, kalau sampai mereka menemukan Yola dan pak Bagas membawa nama ku, aku tidak akan membiarkan mu hidup Bagas." Gumam bathin Caca.
Caca tidak mau kehilangan keluarga yang sudah merawat nya dari kecil, dan jika semua itu terjadi hancur sudah hidup Caca.
Lea mendekati Caca lalu berbisik, "Bisa kita bicara berdua."
Caca melirik ke arah Lea, "Ada apa? bicara di sini saja." Jawab Caca sambil berbisik juga.
"Ngga bisa kita bicara di depan mereka, ini hanya aku dan kamu saja." Caca pun mengangguk karena penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh Lea.
"Tante, kita tinggal ke kamar dulu sebentar ya, atau tante mau istirahat di kamar? Mari saya antar." Ucap Lea dengan sopan.
"Ngga usah nak, kita tunggu di sini saja." Ucap bu Mesti.
"Baiklah kalau begitu saya dan mbak Caca ke kamar sebentar." Ucap Lea.
"Iya nak silahkan saja."
"Sebentar ya mah." Ucap Caca kepada tante Dori.
Caca dan Lea pun pergi meninggalkan bu Mesti dan tante Dori.
Lea membawa Caca masuk ke dalam kamar tempat nya biasa di kala dirinya lagi nginap di rumah itu.
"Apa yang ingin mbak bicarakan?" Tanya Caca sambil duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Sekarang kamu jujur saja sama saya, kamu ikut andil kan dengan hilang nya mbak Yola?" Tanya Lea yang sudah ngga sabar lagi ingin segera menanyakan nya.
"Jangan fitnah ya mbak, atas dasar apa mbak menuduh saya ikut andil dalam hilang nya janda gatal itu." Jawab Caca dengan nada sedikit agak meninggi.
Caca kaget karena Lea menanyakan hal yang diluar prediksi nya, Caca mengira ngga akan ada yang curiga kepada nya.
"Sudah lah kamu ngaku saja, aku sudah tahu kamu pasti ikut andil dengan hilang nya mbak Yola, secara kamu kan menyukai pak Ricard, iya kan?" Lea terus mendesak Caca agar mau jujur kepada nya.
__ADS_1
Caca terdiam, wajah nya memang menyiratkan kalau dirinya ikut andil dengan hilang nya Yola.