Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Menjaga Jarak


__ADS_3

Semenjak aku tahu kalau mas Ricard adalah bos ku, aku merasa ngga pantas harus mendampingi nya, aku sedikit menjaga jarak dengan mas Ricard.


Seperti pagi ini, aku sengaja berangkat lebih pagi ke kantor dan tanpa ikut sarapan dengan kak Leo.


Aku naik taksi dan langsung masuk ke dalam ruangan ku, aku tahu kalau mas Ricard pasti belum sampai ke kantor, dan itu aku manfaatkan untuk mengecek ruangan nya.


Dengan langkah perlahan aku mendekati pintu ruangan mas Ricard, aku coba membuka nya tapi sayang pintu nya di kunci.


"Kenapa pakai di kunci segala sih, aku kan penasaran di dalam nya." Gumam ku sambil terus berusaha membuka pintu nya.


Aku berjalan dari ujung ruangan sampai ke ujung nya lagi, tapi tetap saja tidak bisa masuk dan tidak bisa melihat apa pun kecuali melihat diri ku sendiri karena ruangan mas Ricard di tutup oleh kaca cermin.


Terlihat pintu lift terbuka dan aku segera berlari masuk ke dalam ruangan ku.


*******


[ Pov Ricard ]


"Yola mana sih, udah jam segini kok belum keluar kamar." Gumam Ricard sambil terus melihat ke arah pergelangan tangan nya.


"Yola belum keluar bos?" Tanya Leo sambil duduk di kursi makan biasa nya.


"Itu dia saya juga lagi nunggu."


"Den Ricard nyari non Yola ya? Non Yola sudah berangkat den tadi." Ucap bi Narsih yang tidak sengaja mendengar percakapan Leo dan Ricard.


"Apa bi, Yola sudah berangkat?" Tanya Ricard dengan kaget.


"Iya kodok eh kodok." Ucap bi Narsih yang latah nya kambuh karena kaget.


"Yola sarapan dulu ngga bi?" Tanya Leo.


"Tadi non Yola pergi nya buru-buru dan tidak sempat untuk sarapan den." Ucap bi Narsih.


"Ya sudah bi tolong siapkan sarapan untuk di bawa ke kantor." Ucap Ricard.


Ricard sudah nyaman tinggal di rumah nya Leo, jadi dia belum mau untuk pergi dari sana, Ricard hanya mau keluar dari rumah Leo asalkan Yola sudah menjadi istri nya.


"Baik den." Bi Narsih pun mengambil kotak makanan dan mengisi nya.

__ADS_1


"Ini den sudah selesai." Ucap bi Narsih sambil memberikan kotak makanan yang sudah penuh dengan makanan.


"Kamu seperti biasa awasi restoran, saya mau ke kantor." Ucap Ricard.


"Baik bos."


Ricard langsung pergi meninggalkan rumah Leo, sepanjang perjalanan Ricard terus menghubungi Yola tapi tidak tersambung.


Jalanan yang masih sepi membuat Ricard sedikit kencang melajukan mobil nya.


Hingga tidak membutuhkan waktu yang lama Ricard pun sudah sampai di perusahaan nya.


"Pagi pak, tumben sendirian? Mbak Yola nya kemana?" Tanya Ratih yang baru sampai.


"Yola nya sudah di dalam, ya sudah saya duluan ya." Ucap Ricard lalu masuk dengan sedikit tergesa-gesa.


"Seperti nya pak Ricard membawakan sarapan untuk Yola deh, tidak seperti biasa nya pak Ricard datang ke kantor membawa tupper ware, manis sekali." Gumam Ratih dengan bibir tersenyum.


Ricard sudah ngga sabar ingin segera bertemu dengan Yola dia ingin bertanya kenapa Yola berangkat pagi tanpa menunggu nya terlebih dahulu.


Pintu lift mulai terbuka, Ricard menatap ke arah depan dan sekilas melihat Yola masuk ke dalam ruangan nya.


"Selamat pagi nyonya Ricard." Ucap mas Ricard sambil tersenyum.


"Pagi pak." Ucap ku sopan.


"Pak? Sejak kapan kamu memanggil aku dengan panggilan pak?"


"Sejak saya tahu kalau anda atasan saya." Aku bicara formal dengan mas Ricard.


Mas Ricard menatap ku tidak suka lalu menghampiri dan memeluk ku dengan sangat erat sekali.


"Coba sekali lagi, kamu panggil saya apa?" Tanya mas Ricard sambil menempelkan bibir nya di telingaku hingga membuat tubuh merasakan getaran.


"Pak, ini di kantor nanti ada yang melihat, tolong lepaskan tangan bapak."


Mas Ricard bukan nya melepaskan pelukan nya, tapi dia langsung ******* bibir ku dengan sedikit liar.


Aku tahu kalau mas Ricard mencumbu ku seperti ini, berarti mas Ricard sedang dalam keadaan marah sama aku.

__ADS_1


Aku hanya terdiam menunggu amarah mas Ricard mereda.


Setelah di rasa puas, mas Ricard pun menghentikan ciuman nya.


"Aku ngga suka kalau kamu memanggil aku dengan panggilan pak, karena aku ini calon suami kamu, bukan bapak kamu." Ucap mas Ricard sambil menatap ku dengan tatapan tajam nya.


"Tapi ini lagi di kantor mas, aku me_."


"Aku tidak perduli, pokok nya kamu harus memanggil aku dengan panggilan seperti biasa nya."


Karena aku ngga mau berdebat lagi, maka aku menyetujui keinginan dari mas Ricard.


"Baiklah mas, aku akan memanggil mas seperti biasa nya." Ucap ku sambil tersenyum, hanya dengan begitu kemarahan mas Ricard akan hilang.


"Nah gitu dong, ayo sekarang kamu sarapan dulu, kamu belum sarapan kan?" Tanya mas Ricard sambil menarik tangan ku dan membawa ku duduk di sofa.


"Tahu dari mana mas kalau aku belum sarapan?" Tanya ku.


"Dari emak nya kodok, dari siapa lagi, kan cuma bi Narsih yang ada di dapur." Ucap mas Ricard dengan wajah kesal nya.


Aku tertawa melihat raut muka mas Ricard seperti itu, "Kamu ini mas, masa iya bi Narsih di bilang emak nya kodok." Ucap ku sambil tertawa.


"Lagian setiap bicara sama mas, kaget sedikit aja bilang nya kodok, masa mas yang tampan begini di samain dengan kodok."


"Ya nama nya juga kaget mas, kayak yang ngga tahu bi Narsih aja."


"Lagian aku kesal sama kamu, kenapa kamu berangkat sendirian ke kantor?"


"Aku_, em, aku hanya tidak merasa pantas berada di samping kamu mas." Ucap ku dengan pelan.


"Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu? Apa kamu mau kembali lagi dengan si Bagas itu." Ucap mas Ricard sedikit emosi.


"Bukan begitu mas, aku hanya merasa ngga pantas saja, sementara kamu seorang pemilik beberapa perusahaan sedangkan aku hanya seorang wanita yang tidak tahu orang tua nya di mana dan hidup sendirian bahkan rumah pun aku ngga punya dan harus nebeng di rumah kak Leo."


"Syut, jangan sekali-kali kamu bicara seperti itu lagi, siapa pun kamu aku tidak perduli, yang penting hati mas sudah memilih kamu untuk menjadi pendamping mas seumur hidup, sampai mas tua dan sampai mas menutup ke dua mata ini." Ucap mas Ricard sambil menempelkan jari telunjuk nya di bibir ku.


"Mas."


Belum juga aku menyelesaikan kalimat ku, bibir ku sudah di raup kembali oleh mas Ricard.

__ADS_1


Kali ini ciuman mas Ricard penuh dengan kelembutan serta memakai perasaan hingga aku ikut terbuai dan membalas nya.


__ADS_2