Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Meyakinkan


__ADS_3

Feni menceritakan semua yang dia tahu tentang Bagas kepada Caca.


"Berarti kalau begitu pak Bagas ini mantan suami nya si janda gatel dong." Gumam bathin Caca.


"Sudahlah jam makan siang sudah habis, ayo kita masuk lagi." Ajak Feni membuyarkan lamunan Caca.


Mereka berdua pun kembalii masuk ke ruangan mereka setelah membayar makanan nya.


Caca bukan nya bekerja tapi dia sibuk memikirkan apa yang di ucap[kan Feni tadi di kantin sehingga dia mempunyai sebuah rencana.


"Aku akan menggagalkan acara lamaran kalian." Gumam Caca dengan bibir tersenyum penuh arti.


Caca pun pergi menuju gudang dengan alasan melihat barang yang akan di keluarkan.


Bibir nya tersenyum dan otak nya penuh dengan rencana jahat dan licik.


*******


"Selamat siang pak, maaf anda tidak bleh parkir di sini, apalagi kalau sampai berbuat mesum." Ucap seorang polisi yang sudah mengganggu ciuman kita.


"Siang pak, maaf pak barusan istri saya perut nya mendadak sakit, maklum hari pertama dia datang bulan." Ucap mas Ricard membuat aku menahan tawa.


"Jadi ini istri anda?" Tanya pak polisi sambil menatap kearah ku.


"Iya pak, dan kita baru dua bulan menikah." Jawab mas Ricard dengan santai.


"Ya sudah kalau gitu silahkan jalan kembali, lain kali jangan berhenti sembarangan."


"Baik pak, terima kasih." Ucap mas Ricard lalu melajukan mobil nya.


Setelah di rasa mobil mas Ricard sudah jauh dari polisi itu, aku tertawa sampai air mata ku keluar.


"Kamu ini mas, bisa-bisa nya di pikiran mu terlintas kalau aku datang bulan." Ucap ku setelah puas tertawa.


"Ya kalau ngga gitu urusan nya panjang sayang, mas ngga sadar kalau di tempat tadi ngga boleh parkir, dan mas yakin kalau polisi itu melihat kita yang sedang ciuman tadi."

__ADS_1


"Lagian mas sih, kerjaan nya nyosor saja tuh bibir."


"Bibir kamu jadi candu buat mas, kita langsung nikah aja yuk sayang."


"Mas, pernikahan itu bukan main-main, dan aku tidak mau gagal untuk ke dua kali nya."


"Kamu percaya sama mas, mas bukan laki-laki bajingan seperti mantan kamu itu, mas akan selalu menjaga dan akan selalu mencintai kamu untuk selama nya."


Jawaban mas Ricard sangat membuat aku terharu, selain tampan mas Ricard sangat baik dan selalu menghormati wanita.


"Makasih mas, tapi aku ingin meyakin kan sekali lagi biar nanti ke depan nya tidak akan ada penyesalan di hati mas, apa mas yakin menikah dengan ku yang seorang janda ini?" Aku ngin memastikan nya dari mas Ricard, karena aku ngga mau kalau setelah menikah mas Ricard mengungkit-ngungkit status ku.


"Mas sangat yakin sekali, mas tidak akan mengungkit status kamu, lupakan masa lalu, kita bina masa depan bersama, mas ingin kita punya banyak anak, karena kalau cuma satu ngga enak." Ucap mas Ricard lalu mencium tangan ku dan menggenggam nya.


"Dua saja mas jangan banyak-banyak."


"Ngga, pokok nya kalau Tuhan memberikan kita banyak anak kita terima, mas ngga mau kamu pakai kontrasepsi."


"Ya Tuhan mas, memang nya aku kucing yang terus-terusan melahirkan." Ucap ku ngga habis pikir dengan pikiran mas Ricard.


"Mas sudah dong, kamu kan lagi nyetir."


"Pokok nya mulai sekarang kemana pun kita berdua pergi, mas tidak akan melepaskan genggaman ini, dan kemana pun mas pergi kamu harus ikut."


Aku hanya menghembuskan nafas ku dengan perlahan, aku heran dengan mas Ricard ini, dia seperti tidak mau aku jauh dari nya walau itu hanya sedetik saja, aku ngga tahu nanti kalau kita sudah menikah, bisa-bisa aku tidak boleh bertemu dengan siapa-siapa tanpa dirinya.


Aku bahagia bisa bertemu dengan mas Ricard yang selalu menerima aku apa ada nya, tapi mulai sekarang aku harus bisa mengerti dan membiasakan diri dengan semua aturan nya.


Aku mengingat kembali perlakuan mas Bagas dan aku membandingkan nya dengan perlakuan mas Ricard.


Sungguh bagaikan langit dan bumi perbedaan dari mereka berdua, ternyata aku baru sadar kalau mas Ricard selalu unggul dalam hal apa pun, aku berjanji di dalam hati kalau aku akan selalu membuat mas Ricard bahagia dan tersenyum.


Aku akan menyerahkan diri ku seutuh nya hanya untuk mas Ricard, dan sampai saat ini mas Ricard belum tahu kalau aku masih suci.


Aku merasa beruntung dulu mas Bagas merasa jijik untuk tidur dengan ku, jadi aku akan menyerahkan semua nya kepada laki-laki seperti mas Ricard.

__ADS_1


Aku ngga sabar ingin melihat wajah kaget nya begitu dia merasakan kalau aku masih suci.


"Ya ampun, apa yang aku pikirkan, kenapa aku jadi mesum begini." Gumam ku di dalam hati.


******


[ Pov Caca ]


"Anda pak Bagas kepala gudang kan?" Tanya Caca pura-pura.


"Iya mbak, saya kepala gudang nya, mbak yang tadi di kantin kan?" Bagas balikbertanya ketika mengingat akan wajah Caca.


"Iya, kenal kan saya Caca, saya anak baru di sini dan saya bagian produksi." Ucap Caca sambil mengulurkan tangan nya.


"Saya Bagas." Ucap Bagas singkat sambil menerima uluran tangan dari Caca.


"Saya mau lihat barang ini." Ucap Caca memulai rencana nya.


"Baik mbak, silahkan." Bagas mengizinkan Caca masuk ke gudang untuk melihat barang yang di inginkan Caca.


Awal nya mereka berdua bicara masalah barang yang akan di pasok, lama-lama pembicaraan mereka kesana kemari hingga membuat mereka menjadi langsung akrab.


"Baiklah pak kalau begitu saya kembali ke ruangan saya lagi." Ucap Caca.


Caca tdak langsung ke inti nya, karena Caca tidak mau gegabah dalam melancarkan aksi nya.


"Silahkan mbak." Ucap Bagas dengan sopan.


Caca pergi dari hadapan Bagas dengan senyuman nya, satu langkah sudah dia lakukan.


"Andai saja aku masih pemilik perusahaan ini, sudah aku dekati dia." Gumam bathin Bagas sambil menatap punggung Caca.


"Sadar Bagas, jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang sama lagi, istri kamu sedang hamil besar, ekonomi kamu juga sedang tidak baik-baik saja, jangan membuat diri kamu lebih hancur lagi."


Pikiran Bagas sedang berperang, di satu sisi dia ingin berontak kembali, tapi di satu sisi dia mengingat akan Elena yang sedang hamil besar dan ekonomi nya yang sedang turun drastis.

__ADS_1


__ADS_2