
Leo kembali melajukan mobil nya setelah dirinya membeli baju dan menyerahkan nya kepada Ricard.
Pemilik toko tersebut merasa senang karena Leo membayar tiga kali lipat dari harga asli nya.
Dengan susah payah Ricard memakai kan kemeja dan celana pendek nya ke tubuh Yola.
Awal nya Ricard ngga mau memakaikan kemeja itu kepada Yola, tapi setelah mendengar penjelasan dari Leo, Ricard pun mengalah dan mau memakai kan nya.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berani bicara, bukan mereka tidak penasaran, tapi mereka takut amarah Ricard kembali menguasai nya.
Mereka bertiga memilih diam dan menunggu dengan sabar cerita dari Ricard.
Mobil Leo pun masuk ke halaman ruman nya, mereka semua turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
Sementara Ricard menggendong Yola yang masih dalam keadaan belum sadar.
Leo ingin membantu nya tapi Ricard dengan tegas menolak nya.
Sementara para wanita yang sedang menunggu di rumah pun langsung menatap ke luar ketika mereka mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah.
Dengan tubuh sedikit gemetar Caca ikut menatap ke arah luar, jantung nya berdegup kencang dan keringat sudah mulai keluar dari kening dan telapak tangan nya.
Lea yang sejak mencurigai Caca, pandangan nya tidak lepas dari Caca, di kala mereka semua menatap ke arah luar, tidak dengan Lea, dia terus menatap Caca.
"Kamu ketakutan kan? Siap-siap pak Ricard akan bertindak saat ini, karena aku tahu kalau pak Ricard sangat mencintai mbak Yola dan dia tidak akan mengampuni orang yang sudah berniat melukai nya." Gumam bathin Lea.
"Mereka datang." Ucap bu Mesti sambil berdiri dan menatap ke arah pintu.
Terlihat pak Anwar dan om Bimo masuk dengan wajah datar, mereka juga belum bisa menjelaskan karena mereka berdua juga tidak tahu kejadian yang sebenar nya.
"Pah, bagaimana Yola? Yola ketemu kan pah?" Tanya bu Mesti dengan antusias.
__ADS_1
"Ketemu, tapi masih tidak sadar kan diri." Jawab pak Anwar.
"Kok bisa? Memang nya apa yang sudah terjadi kepada nya?" Tanya tante Dori.
"Kita berdua juga tidak tahu karena kita d suruh berjaga di luar, kita tunggu cerita dari Ricard saja." Jawab om Bimo.
Mereka pun hanya diam dan menunggu Ricard masuk, Caca semakin gelisah ketakutan dalam dirinya semakin terlihat.
"Kenapa? Takut ya? Siap-siap saja mulai malam ini kamu akan menjadi gelandangan, dasar anak angkat tidak tahu diri." Bisik Lea yang sudah tidak tahan ingin mengatakan nya.
Caca kaget mendengar ucapan dari Lea, Caca pikir tidak ada yang tahu kalau dirinya itu hanya anak angkat saja.
"Kamu!" Ucap Caca pelan sambil menatap Lea dengan tatapan yang sangat tajam.
Lea tidak takut dengan tatapan tajam nya Caca, Lea malah membalas tatapan nya dengan lebih tajam juga.
Dengan langkah yang pasti Ricard masuk sambil menggendong Yola, Leo mengikuti nya dari belakang.
Ricard menatap tajam ke arah Caca lalu membaringkan Yola di sofa yang berukuran panjang.
Bu Mesti langsung menghampiri Yola dan menyentuh tangan nya.
"Nak, kamu bangun nak." Ucap bu Mesti sambil menggoyang-goyang kan tangan Yola.
"Biar saya ambilkan minyak kayu putih dulu." Ucap Lea lalu pergi keruang belakang.
Ricard menatap tajam Caca tanpa berkedip, Caca hanya bisa menunduk kan kepala nya dan tidak berani menatap Ricard.
Pak Anwar dan om Bimo saling menatap melihat sikap Ricard kepada Caca, dan di hati mereka banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin segera di sampaikan.
"Sekarang kamu puas? Apa kamu puas melihat calon istriku seperti ini hah!" teriak Ricard membuat semua orang kaget dan langsung menatap nya.
__ADS_1
"Ada apa nak? Kenapa kamu berteriak seperti itu sama Caca?" Tanya bu Mesti yang belum tahu kebenaran nya.
"Mamah tahu aku sangat menyayangi nya kan? Mamah tahu kalau aku sudah menganggap nya adik kan? Bahkan aku selalu memanjakan nya, tapi sekarang mamah lihat kelakuan nya, dia yang sudah membuat Yola seperti ini, dia yang sudah membuat rencana untuk menculik Yola, dia yang ingin menghancurkan hubungan ku dengan Yola, kurang apa aku sama kamu, kurang apa!" Ricard pun meluapkan amarah nya di depan keluarga nya.
Semua orang yang mendengar nya pun kaget dan langsung menatap tidak percaya kepada Caca.
Lea yang mendengar teriakan Ricard langsung berlari sambil membawa minyak kayu putih di tangan nya.
"E kodok marah, kodok marah." Ucap bi Narsih yang kaget mendengar teriakan dari Ricard, padahal bi Narsih sedang berada di dapur dengan saudara nya, tapi karena Ricard yang berteriak dengan kencang suara nya pun terdengar sampai ruangan dapur.
"Syut diam, nanti bos Ricard makin marah." Bisik saudara nya membuat bi Narsih langsung menggigit bibir nya.
Dengan langkah perlahan Lea menghampiri Yola yang masih terbaring lalu berusaha untuk menyadarkan nya.
"Apa benar yang di ucapkan Ricard Caca?" Tanya om Bimo sambil menatap nya dengan tatapan tak kalah tajam dari Ricard.
"Maaf kan Caca pah, Caca khilaf." Hanya kata maaf yang keluar dari bibir nya Caca.
"Plak!" Sebuah tamparan dari om Bimo mengenai pipi Caca yang sudah dia anggap sebagai anak kandung nya selama ini.
Om Bimo kecewa dan malu dengan apa yang sudah di lakukan Caca kepada keluarga kakak nya.
"Tampar lagi pah, tampar lagi Caca, Caca memang pantas mendapatkan nya, asal kalian semua tahu aku ini sangat mencintai kak Ricard, tapi kak Ricard tidak melirik aku sekali pun." Teriak Caca dnegan air mata yang sudah berlinang.
Mereka semua pun kaget dengan pengakuan Caca, kecuali Lea, Leo dan Ricard.
"Sudah ku duga." Gumam bathin Lea.
"Apa kasih sayang aku sebagai kakak masih kurang untuk kamu? Apa kasih sayang papah, mamah, tante dan om Bimo masih kurang? seharusnya nya kamu bersyukur sudah memiliki semua nya, kamu sudah memiliki kasih sayang dari kita semua nya, kehidupan kamu sudah tercukupi, kamu harus nya sadar diri kalau kamu itu cuma anak angkat di keluarga kita." Ricard sudah tidak tahan lagi dan mengungkapkan semua nya.
Caca kaget mendengar ucapan dari Ricard, ternyata semua orang sudah tahu kalau dirinya hanya anak angkat, Caca pun menangis dan menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
__ADS_1
"Maafkan aku kak, maaf kan aku pah, mah, aku khilaf." Ucap Caca sambil bersimpuh, air mata nya mengalir deras membasahi ke dua pipi nya, kini Caca menangis meratapi kesalahan nya.
Hanya karena ambisi nya Caca kini harus menerima semua konsekuensi dari segala perbuatan nya.