Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Terpesona


__ADS_3

"Maaf." Terdengar suara seorang perempuan membuat aku melepaskan ciuman ku dan sedikit menjauhkan wajah ku dari wajah mas Ricard.


"Mbak Ratih." Aku sangat malu dengan kelakuan ku barusan yang kepergok oleh mbak Ratih.


"Ada apa?" Tanya mas Ricard sambil mengusap bibir nya.


"Maaf pak, barusan ada laporan kalau perusahaan xxxx milik nya pak Bagas kini sudah beralih nama dan sudah menjadi milik anda." Ucap mbak Ratih.


"Bagus, setelah ini kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" Tanya mas Ricard yang membuat aku bingung entah apa yang akan mas Ricard lakukan.


"Iya pak, oh iya satu lagi, ini tadi ada pihak showroom dan memberikan kunci nya kepada saya, kata nya ini pesanan bapak." Ucap mbak Ratih sambil memberikan sebuah kunci kepada mas Ricard.


Mas Ricard mengambil kunci nya, "Oh iya, kamu tahu dari mana kalau saya ada di ruangan Yola?" Tanya mas Ricard sambil menatap ke arah mbak Ratih.


"Saya tadi melihat bapak membawa kotak makanan, dan saya yakin kalau kotak makanan itu untuk bu Yola, dan pasti nya bapak ada di ruangan bu Yola."


"Mbak." Teriak ku, kemarin saja aku di panggil mbak berasa gimana, eh sekarang malah di panggil dengan panggilan ibu.


"Maaf bu, tapi ini di kantor dan saya merasa ngga sopan kalau hanya memanggil nama saja."


"Pokok nya aku ngga mau tahu, dimana pun kita berada, mbak tetap memanggilku dengan nama saja." Ucap ku dengan jelas.


"Tapi_,"


"Sudah lah Ratih ikuti saja mau nya." Ucap mas Ricard.


"Baiklah kalau begitu saya permisi." Mbak Ratih membalik kan tubuh nya dan hendak melangkahkan kaki nya.


"Ratih tunggu." Ucap mas Ricard.


Mbak Ratih menghentikan langkah nya lalu membalik kan tubuh nya kembali dan menghadap ke arah mas Ricard.


"Iya pak."


"Ambil." Ucap mas Ricard sambil memberikan kembali kunci yang tadi mbak Ratih berikan.


Mbak Ratih hanya diam mungkin dia masih bingung dengan maksud dari mas Ricard.


"Ambil saja, mobil itu saya beli untuk kamu, anggap itu sebagai hadiah karena kamu sudah menuruti semua ucapan saya dan kamu sudah membantu saya menyembunyikan status saya." Ucap mas Ricard.

__ADS_1


"Beneran ini pak?"


Mas Ricard mengangguk tanda meng iya kan.


"Terima kasih banyak pak." Terlihat mbak Ratih sangat bahagia dengan apa yang sudah di berikan oleh mas Ricard.


"Sama-sama."


"Terima kasih Yol, semua ini berkat kamu saya bisa punya mobil sekarang."


"Kok gara-gara aku sih mbak."


"Kan kalau ngga ada kamu mbak ngga bakalan dapat mobil."


Aku tersenyum melihat kebahagiaan mbak Ratih, mas Ricard sudah meringankan mbak Ratih, setiap hari mbak Ratih harus naik taksi pergi dan pulang dari kantor, paling sesekali saja suami mbak Ratih menjemput nya, karena mereka beda perusahaan.


Dengan senyuman yang terus mengembang mbak Ratih pun pergi meninggalkan kita berdua.


"Bahagia ya mas kalau lihat orang bahagia seperti itu."


"Mas juga bahagia kalau lihat kamu bahagia." Ucap mas Ricard sambil memeluk erat pinggang ku.


"Nah lapar kan? Ayo kamu makan dulu, gaya nya pergi ke kantor pagi-pagi udah gitu ngga sarapan dulu lagi." Ucap mas Ricard.


"Tapi ini udah masuk jam kerja mas."


"Kamu ngga boleh kerja kalau kamu belum sarapan." Mas Ricard mengambil makanan dan menyuapi nya ke mulut ku.


Akhir nya aku menghabiskan makanan nya dan di suapi oleh mas Ricard.


Sungguh egois nya aku yang punya pikiran kalau aku mempermasalah kan masalah status, ternyata mas Ricard sangat mencintai ku.


"Sudah mas, sudah kenyang." Ucap ku.


"Tinggal satu lagi sayang, ayo habiskan." Aku terpaksa membuka mulut ku kembali karena mas Ricard memaksaku untuk menghabiskan makanan nya.


"Mas, ada yang mau aku tanyakan deh."


"Apa sayang?" Jawa mas Ricard sambil menatap ku.

__ADS_1


"Aku penasaran banget dengan ruangan kamu." Ucap ku.


"kenapa kamu sangat penasaran sekali?"


"Ya habis nya ruangan kamu kaca semua sih, aku jadi penasaran kan dengan dalam nya." Aku sedikit memaksa mas Ricard agar mau mengajak ku ke dalam ruangan nya.


"Ya sudah ayo kita ke ruangan ku." Mas Ricard menarik tangan ku dengan lembut.


Akhir nya aku masuk ke dalam ruangan nya mas Ricard.


Ruangan yang berukuran besar, penataan yang sangat rapih membuat siapa saja akan nyaman berada di ruangan itu.


Aku terpesona dengan semua yang ada di dalam ruangan mas Ricard, hingga tanpa sengaja aku melihat ke arah ruangan ku, dan ini benar-benar diluar dugaan ku, ternyata selama aku bekerja di sini mas Ricard melihat semua yang aku lakukan dari dalam ruangan nya.


"Mas, jadi selama ini kamu_," Ucap ku sambil menatap ke arah ruangan ku.


Sungguh sangat jelas terlihat dari ruangan mas Ricard, pantas saja mas Ricard selalu tahu dengan apa yang aku lakukan di ruangan ku.


"Ya, selama ini mas selalu memantau kamu dari sini, bukan dari cctv." Ucap mas Ricard sambil memeluk ku dari belakang.


"Terus kalau kamu masuk dan keluar dari ruangan kamu bagaimana? Jalan mana? Apa ada jalan rahasia?" Aku memberikan mas Ricard beberapa pertanyaan karena rasa penasaranku.


"Mas masuk kan selalu di bantu Ratih."


"Jadi setiap pagi dan setiap jam pulang mbak Ratih suka masuk ke ruangan ku itu hanya untuk mengelabuhi ku agar tidak melihat ke arah ruangan mu?" Sungguh laki-laki ini pintar sekali sehingga selama aku bekerja di perusahaan nya tidak pernah sekali pun aku melihat mas Ricard keluar masuk ruangan nya.


Aku membalikan tubuh ku dan sekarang kita saling berhadapan.


"Ya, makanya mas selalu tahu apa yang sedang kamu lakukan di ruang kerja kamu." Ucap mas Ricard sambil membelai pipi ku dengan lembut.


"Jadi kerjaan kamu hanya memantau ku saja?" Aku ngga habis pikir dengan mas Ricard ini yang selalu menjadi cctv untuk dirinya sendiri.


"Ya, bahkan kamu lagi ngupil pun aku tahu." Ucap mas Ricard dengan senyum jahil nya.


"Mas, kamu jahat deh, aku jadi kelihatan jelek nya kan?" Sungguh sku sangat malu sekali, kalau saja aku ruangan mas Ricard bisa melihat apa yang aku lakukan, aku akan selalu berlaku manis dan anggun.


"Lagi apa pun kamu, kamu tetap terlihat sangat cantik." Ucap mas Ricard dengan ke dua tangan nya di pipi ku.


Kedua mata kita saling menatap penuh cinta, dengan perlahan wajah mas Ricard mendekat membuat aku spontan memejamkan kedua mata ku.

__ADS_1


Kenyal dan manis itu yang aku rasakan saat ini, kita berdua saling memberikan kehangatan lewat gerakan bibir kita masing-masing.


__ADS_2