Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Bosan


__ADS_3

Aku berjalan masuk ke kantor sambil di gandeng mas Ricard, sebenar nya aku merasa malu apalagi di lihat para karyawan yang lain nya.


"Mas, jangan begini aku malu, aku takut mereka mengira kalau aku yang sudah menggoda bos duluan." Ucap ku sambil berusaha melepaskan genggaman tangan dari tangan mas Ricard.


Aku malu karena ada beberapa karyawan yang melihat ke arah kita berdua.


"Ngga usah malu, nanti juga aku akan menjadi suami kamu, dan lagian siapa yang berani mengusik mu? Andaikan ada yang mengusik mu maka siap-siap dia akan kehilangan pekerjaan nya." Ucap mas Ricard dnegan nada sedikit tinggi dan di dengar oleh para karyawan yang sedang melihat ke arah kita.


Ku lihat para karyawan yang melihat ke arah kita pada pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.


Aku sedikit tersenyum melihat wajah-wajah ketakutan mereka karena mendengar ucapan dari mas Ricard.


"Sudah, ayo kita ke atas." Ajak mas Ricard dengan sebelah tangan yang masih memeluk ku dengan erat, sedangkan sebelah tangan nya di gunakan untuk menekan pintu lift.


"Wah bos makin mesra aja nih." Ucap seseorang dari belakang kita membuat aku dan mas Ricard menoleh ke belakang.


"Mbak Ratih baru datang?" Tanya ku.


"Iya, maaf ya pak aku terlambat."


"Ngga apa-apa."


Pintu lift pun terbuka, tubuh ku sedikit di tarik oleh mas Ricard untuk masuk ke dalam lift.


"Mbak sekalian saja ayo." Ucap ku.


"Ngga ah Yol makasih, mbak pakai lift sebelah nya lagi aja." Ucap mbak Ratih sambil melirik ke arah mas Ricard.


Mungkin mbak Ratih merasa ngga enak dengan mas Ricard.


"Ya sudah kita duluan ya mbak." Pintu lift pun tertutup dan mengantarkan aku dan mas Ricard ke lantai dimana ruangan mas Ricard berada.


********


Seharian ini ngga ada yang banyak aku kerjakan selain menemani mas Ricard.

__ADS_1


Sesekali aku pergi ke ruangan mbak Ratih yang dulu nya itu ruangan ku, untuk meminta pekerjaan.


"Mbak, kasih aku kerjaan dong, aku bosan nih." Ucap ku dengan wajah sedikit di tekuk.


"Sudah, kamu kerja nya duduk manis di samping nya pak Ricard aja." Jawab mbak Ratih.


"Aku bosan mbak."


"Kalau kamu bosan kamu pijit aja tuh bahu nya bos, atau kamu tidur aja di sofa."


"Yey mbak ini, kalau aku pijitin bahu mas Ricard yang ada dia ngga akan menyelesaikan pekerjaan nya, tapi dia akan terus mengerjai ku sampai lipstik di bibir ku ini luntur dan tidak berwarna lagi." Jawaban ku membuat mbak Ratih tertawa.


Terdengar suara ponsel khusus kantor berdering, aku sudah paham itu pasti mas Ricard yang menyuruh aku ke ruangan nya.


"Jangan diangkat mbak." Ucap ku ketika melhat mbak Ratih mau menerima panggilan nya.


"Kenapa? Ini pasti dari bos, ini kan ponsel khusus bos." Ucap mbak Ratih sambil menatap ku dengan heran.


"Biar dia kesal dan datang kesini, aku akan mengerjai nya, lagian selama aku bekerja di sini aku di kerjain nya, dan asal mbak tahu kenapa dia menghubungi mbak sekarang."


"Karena dia melihat aku sedang tertawa dengan mbak, pasti dia mikir nya aku membicarakan apa gitu." Ucap ku sambil melirik ke arah ruangan mas Ricard.


[ Pov Ricard ]


"Sayang." Panggil Ricard sambil mengangkat kepala nya.


"Lo, kemana dia." Gumam Ricard sambil melirik ke kanan dan ke kiri mencari Yola.


Ke dua mata Ricard menatap ke arah Ratih dan terlihat Yola sedang bicara dengan Rath hingga membuat Ricard penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.


Ricard mengambil ponsel dan melakukan panggilan ke ponsel Yola, tapi sayang ponsel Yola ada di atas sofa.


Ricard menekan no Ratih tapi tidak aktif, lalu Ricard menghubungi no khusus sekertaris nya.


"Kamu ngga mau angkat ya? Awas kamu sayang." Ucap Ricard sambil menatap ke arah ruangan Ratih.

__ADS_1


Ricard bangun dari duduk nya lalu melangkah pergi ke luar ruangan dan menuju ruangan Ratih.


"Sayang, ngapain di sini? Ayo masuk." Ucap Ricard yang sudah berada di depan ruangan Ratih.


"Aku bosan mas." Ucap ku sambil menghampiri nya.


"Kamu istirahat saja." Ucap mas Ricard sambil menarik tangan ku, sementara aku lihat mbak Ratih tersenyum melihat kita berdua.


"Kamu jangan kemana-mana, kamu istirahat saja sana, nanti pas makan siang mas bangunkan dan kita pergi ke restoran nya kak Leo." Ucap mas Ricard sambil membuka pintu rahasia nya.


"Ya sudah mas keluar sana, aku mau tidur." Aku mengusir nya, tapi mas Ricard hanya diam sambil menatap ku.


Aku bingung mau nya apa mas Ricard ini, tapi seketika aku teringat dengan apa yang sudah dia katakan kemarin-kemarin.


Aku menghampiri mas Ricard lalu ku cium bibir nya sebentar.


"Sudah sekarang mas kerja kumpulin duit yang banyak untuk biaya pernikahan kita nanti." Ucap ku sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang, ya sudah mas kerja dulu." Mas Ricard pun keluar dan menutup pintu nya.


Seperti biasa aku hanya merebahkan tubuh ku sambil mengingat hidup yang sudah aku lewati selama ini, suka dan duka sudah ku lalui, dan lebih banyak duka nya dari pada suka nya.


Tapi semenjak aku kenal dnegan mas Ricard dan kak Leo, suka nya lebih banyak dari pada duka nya.


Aku tidak bisa tidur karena aku terus mengingat masa lalu ku, aku berpikir apakah orang tua ku itu masih hidup atau sudah tiada.


Jam terus berputar hingga kini jarum jam sudah berada di angka dua belas.


Sayup-sayup ku dengar ada suara perempuan sedang berbicara dengan mas Ricard.


Aku sangat penasaran sekali dengan siapa mas Ricard bicara.


Dengan perlahan ku langkah kan kaki ku lalu aku membuka pintu nya.


Aku dibuat kaget dengan apa yang aku lihat, hingga membuat aku tertegun dan hanya memanggil mas Ricard saja.

__ADS_1


"Mas." Ucapku membuat mas Ricard langsung melihat dan menghampiri ku.


__ADS_2