
Selama masa ngidam aku selalu di sayang dan di manja oleh keluarga mas Ricard, apa pun yang aku ingin kan mereka selalu mengabulkan nya.
Jangan kan sampai aku bilang mau, cuma bilang sepertinya enak ya makan ini, mereka langsung mencari dan membelikan nya.
Kadang aku merasa malu karena apa yang terucap oleh bibir ku selalu aku dapat kan dengan mudah.
Dan aku belum mau dekat-dekat dengan mas Ricard karena aku masih selalu merasakan mual.
Tapi entah kenapa malam ini aku sangat menginginkan sekali kehangatan dari mas Ricard.
Setelah makan malam aku langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, selama masa ngidam aku selalu pamit duluan masuk ke dalam kamar karena aku ngga mau dekat-dekat dengan mas Ricard, dan sudah dua bulan ini mas Ricard selalu tidur di sofa.
Sebenar nya kasihan aku melihat mas Ricard harus tidur di sofa, tapi mau bagaimana lagi aku selalu mual bila dekat dengan nya.
Malam ini aku sengaja hanya memakai dalaman saja, perut ku yang sudah mulai buncit terlihat sangat jelas.
Aku tersenyum melihat penampakan di cermin, aku merasa lucu dengan postur tubuh ku saat ini.
Dulu aku memang gemuk dan perut ku juga berlemak, tapi kali ini aku merasa sangat lucu melihat nya.
Terdengar suara pintu terbuka membuat aku langsung menoleh ke arah pintu.
"Sayang, kenapa kamu ngga pakai baju? Nanti kamu dan anak kita masuk angin?" Tanya mas Ricard sambil menatap ku tak berkedip.
Aku tahu kalau adik mas Ricard sudah on, karena aku melihat dalam sarang nya yang sudah menonjol keras, serta jakun nya mas Ricard yang turun naik, tapi mas Ricard tidak berani menghampiri ku.
Dengan perlahan aku menghampiri mas Ricard lalu mengunci pintu kamar.
Aku memeluk mas Ricard dari belakang, sebelah tangan ku menyentuh adik nya yang sudah keras, aku menyentuh dan mengelus nya dengan lembut hingga membuat mas Ricard sedikit mengerang.
__ADS_1
"Sa_yang, please, jangan ganggu mas, mas ngga mau kamu kembali mual, mas ngga tega melihat kamu muntah-muntah." Ucap mas Ricard sambil memejamkan ke dua mata nya.
Aku mencium leher nya dan sedikit memberikan tanda merah di sana.
"Anak kita kangen papah nya." Bisik ku lalu mencium telinga mas Ricard.
Mas Ricard membalik kan tubuh nya lalu menatap ku, "Apa kamu tidak mual memeluk mas begini?" Tanya mas Ricard dengan gairah yang sedang dia tahan.
"Seperti nya sudah ngga deh mas, dan bahkan anak kita yang kangen ingin di jenguk sama papah nya." Ucap ku dengan nada menggoda.
Tanpa basa-basi lagi mas Ricard langsung memeluk dan mencium seluruh wajah ku.
Mas Ricard seperti lagi berada di gurun pasir yang lagi kehausan hingga dia terus mengeksplor seluruh tubuh ku.
Mungkin karena sudah dua bulan lebih kita ngga melakukan nya, hasrat kita berdua sangat tinggi malam ini hingga diantara kita terus saling me lu mat bibir seakan-akan tidak mau kita lepaskan.
Setelah puas mencium perut ku, kini mas Ricard sedang berada di tempat favorit nya hingga selalu membuat aku ngga tahan.
"Mas." Aku memanggil mas Ricard sambil menahan hasrat yang sudah menguasai ku.
Mas Ricard yang paham pun langsung membaringkan aku, dan dengan gerakan perlahan dan lembut mas Ricard menjenguk anak kita sampai kita benar-benar puas dan menuntaskan nya hingga kita berdua tidak berdaya.
Keringat yang bercucuran tidak menghalangi semua aktifitas kita malam ini, dua bulan kita tidak melakukan nya hingga membuat kita berdua begitu menikmati nya.
Kita mencurahkan semua kerinduan lewat penyatuan yang kita lakukan malam ini.
Ku lihat wajah bahagia mas Ricard dan juga senyuman nya yang dua bulan ini aku tidak melihat nya.
Dua bulan ini wajah mas Ricard seperti kusut, walaupun dia tersenyum tapi terlihat seperti ada sesuatu yang dia pendam, tapi malam ini wajah nya berubah seratus delapan puluh derajat.
__ADS_1
"Makasih sayang, sering-sering lah kamu kangen sama papah ya nak." Ucap mas Ricard sambil mengusap dan mencium perut ku sedikit lebih lama.
"Iya papah." Aku pun menjawab nya dengan nada anak kecil, tangan ku membelai rambut mas Ricard yang sedang mencium perut ku.
Mas Ricard menatap ku dengan bibir tersenyum, "Makasih sayang, mas puas sekali malam ini." Ucap mas Ricard lalu mencium seluruh wajah ku.
Mas Ricard memakai ****** ***** nya lalu turun dari tempat tidur sambil mengambil selimut dan bantal nya.
"Mau kemana mas?" Tanya ku.
"Mau tidur lah sayang mau apa lagi, dan malam ini tidur mas pasti sangat nyenyak sekali dan ngga perlu harus diam di kamar mandi dulu untuk bisa tidur." Jawab mas Ricard.
Memang selama aku tidak mau dekat dengan mas Ricard sering aku lihat mas Ricard menahan hasrat nya, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan nya sendiri, setelah selesai mas Ricard baru akan tidur di sofa.
Mas Ricard tidak tahu kalau aku selalu memperhatikan nya, karena aku selalu pura-pura sudah tidur.
Mas Ricard tidak tahu saja kalau aku juga sebenar nya kangen dengan belaian nya, tapi mau bagaimana lagi, perut ku selalu saja mual jika dekat dengan mas Ricard.
"Jadi mas sudah nyaman tidur di sofa ya? Jadi mas sudah ngga mau tidur bareng aku lagi ya? Apa mas mau balas dendam?" Tanya ku dengan nada kesal.
Malam ini aku ingin terus berada dekat mas Ricard dan bahkan aku ingin terus memeluk nya.
"Bukan begitu sayang, kamu kan selalu mual jika dekat dengan mas, mas hanya ngga mau melihat kamu tersiksa." Ucap mas Ricard sambil duduk kembali di sisi tempat tidur.
"Malam ini aku ingin selalu berada di pelukan mas, dan mungkin anak kita juga sudah tidak mau jauh-jauh dari kamu mas, tapi kalau mas sudah nyaman tidur sofa ya sudah, aku mau cari teman untuk tidur malam ini." Ucap ku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sayang, jangan sedih gitu dong, mas kan ngga tahu kalau kamu ingin bersama terus, ya sudah kalau kamu sudah ngga mual lagi bila dekat dengan mas, mas akan memeluk kamu sampai pagi." Ucap mas Ricard lalu masuk ke dalam selimut dan memeluk ku.
Aku kini berada dalam pelukan mas Ricard, kita berdua saling memeluk dengan aku yang tidak memakai sehelai benang pun, malam ini sungguh sangat indah bagi kita berdua seperti kita habis melakukan malam pertama.
__ADS_1