
Ricard duduk kembali dengan wajah kesal nya membuat bu Mesti heran.
"Kenapa dengan wajah mu? Terus Yola nya kemana? Kenapa kamu biarkan dia sendirian, apa Yola sedang sakit?" Bu Mesti memberikan beberapa pertanyaan yang membuat Ricard semakin kesal.
"Ngga tahu lah mah, masa tadi dia bilang kalau aku ini bau padahal aku sudah mandi dan semprotkan minyak wangi, sekarang aku ngga boleh dekat dengan nya karena membuat dia mual, aku bingung dengan Yola, sebenar nya dia itu kenapa sih?" Ucap Ricard lesu.
"Apa! Jangan-jangan Yola_" Ucap bu Mesti langsung berlari menghampiri Yola yang masih berada di dalam kamar mandi.
"Apa Yola sedang hamil ya." Gumam bathin bu Mesti sambil terus melangkah.
"Semua wanita sama saja, sikap nya selalu aneh." Gumam Ricard.
"Sayang apa kamu merasa pusing dan mual?" Tanya mamah sambil menyentuh tengkuk ku lalu memijit nya dengan penuh kelembutan membuat aku merasa nyaman dan mual ku seketika hilang.
"Iya mah, tapi setelah mamah memijit tengkuk ku mual nya hilang." Ucap ku sambil menatap wajah mamah.
Ingin sekali aku di peluk dan di manja oleh mamah, tapi aku masih merasa ngga enak karena aku masih sadar dengan posisi ku di rumah ini, aku hanya seorang menantu.
"Benarkah? Sekarang kamu ikut mamah ke rumah sakit ya, kamu jangan masuk kantor dulu." Ucap mamah.
"Tapi aku harus ke kantor mah."
"Tidak, kamu harus ikut mamah, kita periksa di sana."
Aku hanya diam dan tidak bisa menolak nya kembali.
"Kenapa? Apa kamu merasa keberatan harus pergi ke rumah sakit dengan mamah?" Tanya mamah sambil menatap ku.
"Tidak." Jawab ku sambil menggelengkan kepala.
"Terus kenapa diam?"
"Aku_ bolehkan aku memeluk mamah?' Tanya ku memberanikan diri.
"Ya ampun sayang, cuma mau peluk saja kenapa harus minta izin, sini mamah peluk." Ucap mamah sambil memeluk ku dengan penuh kasih sayang.
"Kamu ngga usah merasa ngga enak dengan papah atau mamah, kita berdua sudah menganggap kamu sebagai anak kita, jadi apa pun yang kamu mau lakukan lah, karena papah dan mamah kini milik kamu juga." Ucap mamah sambil mengelus kepala ku.
Tak terasa air mata ku keluar tanpa permisi, aku sangat terharu dengan sikap mamah yang mau menerima ku, sudah lama aku ingin sekali merasakan pelukan seorang ibu, dan saat ini aku sudah merasakan nya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kalau sama mamah kamu mau di peluk sedangkan mas baru saja dekat dengan kamu sudah di usir." Ucap Ricard yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Ricard merasa penasaran karena mamah dan istri nya tidak kembali lagi ke meja makan.
Aku mendengar suara mas Ricard hingga aku pun melepaskan pelukan mamah.
"Kamu bau mas, sedangkan mamah wangi." Ucap ku sambil menyandarkan kepalaku ke bahu mamah.
"Tapi aku sudah mandi sayang, aku juga sudah pakai minyak wangi, masa iya aku masih bau, lagian mamah juga tadi bilang kalau aku wangi kok." Ucap mas Ricard sambil mencium tubuh nya.
"Nak, sudah jangan berdebat lagi, nanti juga kamu bakalan tahu sendiri, sekarang antar mamah dan Yola pergi ke rumah sakit." Ucap mamah dengan tangan nya masih mengelus punggung ku.
"Mau ngapain Yola ke rumah sakit mah, Yola kan tidak apa-apa." Ucap mas Ricard.
"Kan sudah mamah bilang tadi, nanti kamu juga tahu sendiri, kalau kamu banyak kerjaan di kantor biar mamah diantar sama pak sopir saja." Ucap mamah.
"Tidak, biar aku yang antar kalian berdua, biar nanti mamah pulang nya di jemput sopir saja."
"Ya sudah kalau begitu kamu siap-siap nak kita ke rumah sakit sekarang."
Aku pun langsung pergi ke kamar untuk mengambil tas.
Kini aku dan mamah sudah duduk di jok belakang mobil dengan mas Ricard yang mengemudi.
"Kenapa aku seperti sopir kalian berdua sih." Ucap mas Ricard dengan wajah kesal nya.
"Ya ngga apa-apa lah mas, lagian aku ngga mau duduk dekat mas." Ucap ku sambil bermanja-manja dengan mamah.
"Kenapa sih sayang kalau dekat dengan mas? Biasa nya juga kan kamu selalu nempel sama mas."
"Mas itu bau, terus kalau mas dekat dengan aku, perut ku itu langsung mual."
"Aku yakin kalau Yola sedang hamil." Gumam bathin bu Mesti sambil terus mendengar perdebatan anak menantu nya.
"Sudah-sudah ngga usah di bahas lagi, pokok nya nanti juga kamu akan tahu sendiri."
"Tahu apa sih mah?"
"Mah, aku ingin makan roti rasa cokelat sepertinya enak deh." Ucap ku sambil menelan saliva seakan-akan aku sedang menelan roti yang ku ingin kan.
__ADS_1
"Kamu lapar ya, soalnya tadi kamu belum sarapan, ya sudah nak kamu mampir ke mini market dulu beliin istri kamu roti cokelat."
"Iya nanti di mini market depan, lagian katanya semalam ingin sarapan nasi goreng, tapi malah di anggurin begitu saja." Ucap mas Ricard.
"Sudah jangan banyak bicara, kamu ini sudah seperti perempuan saja." Ucap mamah.
Mas Ricard pun menghentikan mobil nya di depan sebuah mini market.
"Biar aku yang beli kan, roti sama apa?" Tanya mas Ricard.
"Roti sama air putih saja, mamah mau beli ngga?" Tanya ku.
"Ngga usah, mamah kan sudah sarapan tadi."
"Ya sudah tunggu di sini ya nyonya-nyonya, saya akan membelikan nya." Ucap mas Ricard lalu keluar dari mobil.
Selama menunggu mas Ricard yang sedang beli roti, aku terus bermanja-manja dengan mamah.
Aku benar-benar sangat beruntung punya mertua seperti mamah Mesti ini.
Selagi aku bercanda dan bermanja dengan mamah, mas Ricard kembali masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Ini pesanan kamu." Ucap mas Ricard sambil memberikan kantong belanjaan nya.
"Banyak banget mas." Ucap ku sambil melihat beberapa roti yang di beli mas Ricard.
"Sekalian buat stok, biar kamu ngga merasa lapar lagi nanti."
Mas Ricard pun melajukan mobil nya kembali menuju rumah sakit.
Sebenar nya aku tidak terlalu suka dengan roti cokelat ini, karena aku suka nya rasa strawbery, tapi entah kenapa pagi ini aku ingin sekali makan roti cokelat.
Dengan lahap nya aku makan roti cokelat tanpa menghiraukan mamah dan mas Ricard.
"Perasaan kamu ngga suka roti cokelat deh sayang, bukan nya kamu suka nya yang strawbery?" Tanya mas Ricard.
"Entah lah mas, pagi ini aku sangat ingin sekali makan roti cokelat ini." Jawab ku sambil menikmati roti nya.
"Aku yakin kamu sedang hamil sayang, terima kasih Tuhan." Gumam bathin bu Mesti dengan bibir yang terus menyunggingkan sebuah senyuman.
__ADS_1