
Hari berganti, waktu pun terus berlalu, tak terasa aku hidup berumah tangga dengan mas Ricard sudah enam bulan lama nya, selama enam bulan itu aku selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk mas Ricard.
Kita berempat sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, aku dan mas Ricard bertemu di kala malam saja karena pagi hari nya kita harus pergi ke tempat kerja kita.
Awal nya mas Ricard melarang aku bekerja dan menyuruh ku untuk berdiam diri di rumah saja, tapi aku terus merayu dan meyakinkan mas Ricard hingga mas Ricard pun menyerah dan mengizinkan aku untuk bekerja sebagai direktur di perusahaan mas Bagas dulu.
Walaupun aku bekerja tapi aku selalu melayani dan menyiapkan semua kebutuhan mas Ricard.
Seperti pagi ini, selagi mas Ricard lagi berada di kamar mandi aku langsung menyiapkan semua keperluan nya dari baju, celana, tas dan sepatu semua nya sudah aku siapkan.
Aku selalu ingin membuatkan sarapan untuk mas Ricard tapi mas Ricard selalu melarang nya hingga aku hanya bisa menemani nya makan saja.
Aku sudah terlebih dahulu membersihkan tubuh ku, jadi sewaktu mas Ricard mandi aku meris wajah ku.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan wajah suami ku yang semakin hari semakin tampan saja.
"Sayang, hari ini berangkat nya aku yang antar saja ya." Ucap mas Ricard sambil mengeringkan rambut nya yang basah.
"Ngga usah mas aku sama pak sopir saja, lagian kalau mas antar aku dulu nanti mas kesiangan."
"Ngga apa-apa kesiangan juga, kan itu perusahaan mas sendiri." Ucap mas Ricard sambil mengenakan pakaian nya.
"Mas, kamu itu seorang atasan bahkan pemilik perusahaan, tapi kamu harus memberikan contoh buat semua karyawan kamu."
"Aduh nyonya Ricard ini sekarang tambah bawel aja ya."
Entah kenapa aku juga merasa kalau akhir-akhir ini aku sedikit bawel dan suka marah-marah ngga jelas dan bahkan kepala ku sering pusing.
Mas Ricard menghampiri ku dan menyentuh ke dua bahu ku.
"Semakin hari kamu semakin cantik saja sayang." Ucap mas Ricard lalu mencium pipi ku.
__ADS_1
"Mas, kamu itu mandi ngga sih." Ucap ku sambil sedikit menjauhkan tubuh ku.
"Ya ampun sayang ya mandi lah kamu juga lihat sendiri kan." Ucap mas Ricard sambil menatap ku dengan aneh.
"Tapi kok kamu masih bau sih mas, apa kamu ngga pakai sabun ya mandi nya." Ucap ku sambil mengendus tubuh mas Ricard.
Aku merasa tubuh mas Ricard masih bau seperti orang yang belum mandi.
"Sayang aku sudah mandi, ya sudah kalau gitu aku ganti baju saja ya mungkin baju nya yang bau apek."
Mas Ricard pun mengambil baju dari dalam lemari dan memakai nya, ku lihat mas Ricard menyemprotkan parfum sedikit banyak ke tubuh nya.
"Sudah sayang, aku sudah wangi sekarang." Kembali mas Ricard mendekati ku.
"Tapi kok kamu masih bau ya mas, jangan dekat-dekat dengan aku ya mas, aku mula dengan bau kamu."
"Aku ini sudah wangi sayang."
"Sudah lah mas pokok nya kamu ngga boleh dekat-dekat dengan aku, ya sudah aku tunggu di meja makan." Ucap ku lalu pergi meninggalkan mas Ricard yang sedang menatap ku aneh.
Aku mengambilkan sarapan untuk mas Ricard tapi aku memilih duduk lebih jauh dari mas Ricard, aku ngga kuat dengan bau tubuh mas Ricard yang menurut ku memang benar-benar jauh dari kata wangi.
Mamah Mesti masuk dan duduk bersama kita untuk melakukan sarapan pagi.
"Pagi anak-anak mamah tersayang." Sapa mamah, mamah ini tidak mau bilang kalau aku ini menantu nya, kepada siapa pun dia selalu bilang kalau aku ini adalah anak perempuan nya.
Aku sangat bahagia sekali karena berada di antara orang-orang yang sangat menyayangi ku.
"Pagi juga mah, papah belum pulang ya?" Tanya ku sambil tersenyum.
"Kata nya sih besok, mamah sekarang ada jadwal praktek pagi." Ucap mamah sambil menatap kita berdua secara bergantian.
__ADS_1
"Kenapa mah?" Tanya ku karena melihat mamah menatap dengan tatapan heran kita berdua.
"Apa kalian berdua sedang bertengkar?" Tanya mamah.
"Ngga kok mah." Jawab ku dengan santai karena memang kita ngga lagi bertengkar.
"Tapi kamu kenapa cemberut sayang, udah gitu kalian duduk nya kok berjauhan?" Tanya mamah kepada mas Ricard.
Memang mas Ricard dari tadi bibir nya cemberut, mungkin karena aku tidak mau dekat dengan nya.
"Bagaimana aku ngga kesal coba mah, aku sudah mandi sudah ku semprotkan minyak wangi, tapi Yola bilang aku bau, aku ganti baju kembali dan ku semprotkan kembali parfum yang lebih banyak tapi tetap saja Yola bilang kalau aku masih bau, sekarang coba mamah cium aku, apa aku bau." Ucap mas Ricard dengan wajah kesal nya.
Aku tahu kalau mas Ricard sedang kesal dengan ku, tapi entah kenapa melihat wajah kesal mas Ricard aku sangat suka sekali, kesan nya mas Ricard ini semakin tampan dengan wajah kesal nya itu.
Ku lihat mamah mendekati mas Ricard dan mengendus tubuh nya.
"Wangi kok, malah terlalu wangi menurut mamah, ya sudah mungkin istri mu lagi kesal saja sama kamu hingga tubuh kamu yang wangi di bilang nya bau, ya sudah ayo kita sarapan mamah takut terlambat." Ucap mamah sambil tersenyum.
Kami bertiga pun mulai menyantap nasi goreng yang di buatkan bibi atas permintaan aku dan mas Ricard semalam.
Mamah memang tidak pernah pilih-pilih untuk sarapan, dia selalu makan apa yang kita berdua pesankan ke bibi.
Aku mulai menyantap nasi goreng nya, baru juga satu suapan perut ku terasa mual hingga aku langsung berlari menuju kamar mandi yang berada di dapur.
"Sayang kamu kenapa." Teriak mas Ricard sambil mengikuti.
Aku tidak memperdulikan teriakan dari mas Ricard dan terus masuk ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan semua isi yang ada di perut ku.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya mas Ricard sambil menyentuh tengkuk ku dan memijit nya.
"Mas jauh-jauh dari aku, aku tambah mual kalau mas deketin aku." Entah lah aku males untuk berdekatan dengan mas Ricard.
__ADS_1
Ku lihat mas Ricard menjauh dan pergi meninggalkan aku dengan wajah kesal nya.
Aku merasa lebih baik ketika mas Ricard menjauhi ku, dalam hati kecil ku aku merasa kasihan dengan mas Ricard, tapi entah kenapa aku merasa benci saja kalau mas Ricard dekat dengan ku.