
[ Pov Bagas ]
Dengan langkah gontai Bagas keluar dari perusahaan nya Ricard, dirinya tidak menduga sama sekali akan bertemu kembali dengan mantan istri nya yang dulu gemuk dan di nilai jelek oleh diri nya.
Waktu sudah merubah segalanya, penampilan Yola kini lebih jauh di banding kan Elena, terbesit dalam pikiran Bagas untuk terus mendekati Yola dan membuat Yola kembali menjadi istri nya.
"Aku akan membuat kamu kembali menjadi istri ku, aku yakin kamu pasti akan menuruti kemauan aku, karena dari dulu kamu sangat menyukai ku." Gumam bathin Bagas sambil masuk ke dalam mobil nya.
Dengan rasa percaya dirinya Bagas mempunyai pikiran seperti itu, bibir Bagas tersenyum lalu mengambil ponsel nya untuk menghubungi Yola.
Dulu Bagas memang sempat menyimpan no ponsel nya Yola dan belum menghapus nya.
Bagas menekan no ponsel Yola dan memanggilnya, tapi hanya operator yang menjawab.
Bagas terus menerus memanggil nya tapi sayang lagi-lagi operator yang menjawab nya.
"Apa kamu sudah mengganti no ponsel kamu Yola, ****! Kenapa aku tadi tidak minta no baru nya, baiklah besok aku akan kembali ke perusahaan pak Ricard, selain aku akan mendapatkan kerja sama dengan perusahaan nya, aku juga akan mendapatkan Yola kembali." Gumam Bagas dengan wajah sedikit kesal.
Bagas terus melajukan mobil nya dengan kecepatan agak sedikit kencang, wajah dan penampilan Yola saat ini terus menari-nari di pikiran nya hingga Bagas tidak menyadari kalau mobil nya sudah berada di depan rumah nya.
"Yola, kenapa kamu tidak dari dulu merubah nya, kalau seperti ini aku tidak akan melepaskan kamu." Gumam Bagas dengan bibir tersenyum.
Bagas sudah menghentikan mobil nya, tapi dia sangat malas sekali untuk turun, dia hanya memikirkan Yola, terbesit dalam pikiran nya kalau dirinya harus tahu dimana Yola tinggal, Bagas tidak akan berhenti mendekati Yola sampai Yola mau kembali hidup bersama dirinya.
"Bodoh, kamu bodoh Bagas, kenapa kamu tidak mencicipi nya dulu, kalau kamu mencicipi nya dan dia hamil, pasti dengan mudah dia akan kembali sama kamu." Bagas terus bergelut dengan pikiran nya sehingga Bagas tidak menyadari nya kalau Elena sedang memanggil-manggil nya dari luar.
Elena melihat mobil Bagas sudah berhenti di depan rumah, seperti biasa Elena akan menyambut Bagas yang sudah menjadi suami nya kini dengan mesra, tapi sore ini entah kenapa Bagas malah diam di dalam mobil dan ngga keluar-keluar membuat Elena penasaran dan menghampiri mobil nya.
Dengan perut buncit Elena berjalan menghampiri mobil suami Bagas dan mengetuk nya.
__ADS_1
Semenjak Yola di usir dari rumah nya, Bagas dan Elena melangsungkan pernikahan dengan berbagai drama kepada kakek nya hingga membuat sang kakek sakit dan menghembuskan nafas nya.
Setelah kepergian kakek nya, semua harta yang di miliki kakek nya jatuh ke tangan Bagas seorang karena Bagas memang cucu satu-satu nya.
Bagas dan Elena sangat menikmati harta kekayaan yang di wariskan kakek nya hingga mereka lupa akan sosok Yola.
"Mas, kenapa belum keluar." Teriak Elena sambil mengetuk pintu mobil nya.
Bagas kaget lalu melirik ke arah Elena, dengan rasa malas Bagas membuka pintu nya dan keluar dari mobil.
"Sayang, kenapa ngga langsung keluar? Kamu sakit ya?" Tanya Elena sambil menempelkan telapak tangan nya di kening Bagas.
"Ngga, aku hanya capek saja." Ucap Bagas dengan nada dingin.
"Kenapa mas Bagas berasa berbeda ya, ah mungkin mas Bagas memang benar-benar lagi capek." Gumam bathin Elena sambil menatap punggung Bagas yang memang sudah pergi meninggalkan dirinya.
Seperti biasa Elena selalu mengurus suami nya itu, selama ini Elena selalu melakukan yang terbaik karena dia tidak mau kehilangan Bagas.
Elena masuk ke dalam kamar sambil menenteng tas kerja Bagas.
Biasa nya kalau Bagas pulang pasti akan ada kemesraan yang mereka lakukan, walaupun hanya sekedar ciuman di bibir saja, dan Bagas akan mengelus perut nya yang memang sudah buncit, tapi sore ini jangan kan untuk mengelus perut nya mencium pipi nya saja Bagas tidak dan memilih pergi ke kamar nya.
Elena hanya beranggapan kalau Bagas memang sedang capek.
Elena langsung memeluk Bagas yang sedang berdiri di depan cermin.
"Mas, kamu melupakan sesuatu ya?" Ucap Elena sambil memeluk Bagas dari belakang.
"Melupakan apa?" Tanya Bagas dengan nada biasa.
__ADS_1
Elena membalikan tubuh Bagas lalu mengambil sebelah tangan nya dan menempelkan di atas perut nya yang buncit.
"Mas lupa ya kalau mas itu harus mengusap nya, biasa nya kan mas selalu mengusap dan mengajak nya bicara kalau mas sudah pulang kerja." Ucap Elena.
Dengan sangat terpaksa Bagas mengusap nya, "Maaf ya nak, papah lagi capek jadi hari ini papah ngga ngajak kamu bermain dulu." Ucap Bagas .
"Ya sudah aku ke ruang kerja dulu." Ucap Bagas.
"Sayang, katanya capek, kalau capek langsung istirahat saja jangan kerja terus." Elena heran dengan Bagas yang bilang capek tapi tetap saja mau masuk ke ruang kerja.
"Sudah lah jangan banyak protes, kamu cukup menjadi istriku yang baik dan penurut." Ucap Bagas lalu meninggalkan Elena dengan tatapan heran nya.
"Kenapa mas Bagas berubah ya, atau hanya perasaan aku saja." Gumam bathin Elena.
Elena melupakan nya dan hanya menganggap kalau Bagas memang sedang capek saja.
Bagas masuk ke dalam ruang kerja nya dan membaringkan tubuh nya di atas sofa.
Bayangan wajah cantik dan seksi Yola terus hadir di pikiran nya, hingga membuat Bagas tidak mau melakukan apa pun.
"Yola, kamu harus menjadi milik ku kembali, apa pun akan aku lakukan asal kamu mau kembali hidup bersama ku, aku yakin belum ada pria di dalam hidup mu, bukti nya kamu memilih bekerja dari pada menjadi istri orang." Gumam Bagas dengan bibir tersenyum.
Selama di dalam ruang kerja nya, Bagas tidak melakukan apapun, dia hanya membayangkan wajah cantik Yola yang sekarang, bahkan Bagas melupakan Elena yang sudah menjadi istri nya sekarang bahkan sedang mengandung anak nya.
Jam sudah menunjuk kan jam sembilan malam dan Bagas masih belum keluar dari ruang kerja nya membuat Elena menghampiri nya.
Beberapa kali Elena mengetuk pintu ruang kerja Bagas tapi tidak ada jawaban sama sekali membuat Elena membuka kan pintu nya.
Terlihat Bagas yang sedang tertidur di atas sofa, "kenapa aku merasa kalau kamu sedang menghindari ku mas, tidak biasa nya kamu tidur di ruang kerja apa pun alasan nya." Gumam bathin Elena sambil menatap suami nya yang sedang tertidur.
__ADS_1