Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Lahiran


__ADS_3

Kini aku sedang berada di dalam ruang bersalin di temani oleh mamah dan mas Ricard, sedangkan yang lain nya menunggu di ruang tunggu setelah sebelum nya mereka berdebat.


Seandainya mamah bukan seorang dokter mungkin mamah tidak akan di perbolehkan berada di dalam ruangan karena yang boleh menemani cuma satu orang saja.


"Sus, siapkan semua nya, seperti nya bayi nya sudah mau menampilkan diri." Ucap Dokter.


di sebelah kanan ku ada mas Ricard sedangkan di sebelah kiri ku ada mamah yang degan sabar terus mengusap perut dan terus memberi ku semangat.


"Mas, sakit." teriak ku sambil menggengam erat tang mas Ricard.


"Tenang sayang, kamu pasti bisa, aku mencintai mu." Ucap mas Ricard lalu mencium seluruh wajah ku.


"Kita mulai ya, ambil nafas lalu hembusakan." Dokter pun terus memberikan aku arahan.


Aku mengikuti smeua arahan dari dokter hingga beberapa kali mengejan, akhir nya lahir lah putra kita.


Kini aku merasakan jadi ibu yang sesungguh nya, dengan keringat yang bercucuran, nafas yang tidak beraturan aku tersenyum.


Aku bahagia karena kini aku sudah menjadi seorang ibu.


"Oek, oek, oek." Terdengar tangisan seorang bayi begitu kencang nya membuat semua orang yang mendengar nya tersenyum.


"Terima kasih sayang, kamu sudah berjuang untuk kita semua." Ucap mas Ricard dan mamah.


Mamah langsung memeluk dan mencium ku dengan penuh rasa bahagia, ku lihat ke dua mata nya berkaca-kaca karena bahagia.


"Selamat ya nak, kini kamu sudah menjadi seorang ibu." Ucap mamah lalu mencium seluruh wajah ku lalu beralih ke bayi kita.


"Terima kasih sayang, akhir nya kita jadi orang tua, i love you." Ucap mas Ricard lalu memeluk dan mencium seluruh wajah ku, terakhir mencium bibir ku sebentar.


"Selamat ya, kini kalian berdua sudah menjadi orang tua, anak nya laki-laki kulit nya putih, wajah nya tampan dan organ tubuh nya lengkap." Ucap dokter sambil menelungkupkan bayi nya di atas dada ku.


Bayi yang masih merah darah daging aku dan mas Ricard kini sedang berada di atas dada ku sambil mencari sesuatu.


"Lucu ya, lihat deh dia lagi mencari kesukaan aku sayang." Ucap Ricard tanpa malu.


"Mas." Ucap ku sambil menepuk tangan mas Ricard.


Dokter, suster dan mamah pun tersenyum begitu mendengar ucapan yang memalukan dari mas Ricard.

__ADS_1


Aku dan bayi ku kini sudah di bersihkan dan siap-siap mau pindah kamar.


Mas Ricard dan mamah memilih ruangan vvic karena mereka ingin membuat aku dan bayi ku nyaman.


********


Begitu Yola masuk ke ruang bersalin, mereka semua berebut untuk ikut masuk ke dalam ruangan.


"Maaf tuan dan nyonya, kalian tunggu di luar, biar suami nya saja yang ikut masuk." Ucap salah satu suster.


"Tapi saya ini mamah nya, saya juga ingin mendampingi nya." Ucap tante Dori.


"Aku papah nya." Ucap pak Anwar dan om Bimo secara bersamaan.


"Tapi maaf tuan, nyonya, kalian semua tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan, ini semua demi kenyamanan ibu yang mau melahirkan."


"Sudah, sudah, kalian semua tunggu di luar biar Yola aku yang menemani." Ucap bu Mesti.


"Tapi_" Suster agak ragu untuk melarang bu Mesti karena dirinya tahu kalau bu Mesti itu dokter di rumah sakit ini.


"Sudah, saya tahu harus melakukan apa, kamu tenang saja, saya sudah izin kok sama dokter." Ucap bu Mesti.


"Curang, mentang-mentang dia dokter, dia bisa masuk dan menunggu Yola lahiran." Ucap tante Dori dengan wajah kesal nya.


"Sudah lah mah, yang penting Yola dan anak nya selamat." Ucap om Bimo menenangkan tante Dori.


"Benar kata Bimo, lebih baik kita berdo*a untuk keselamatan mereka berdua." Ucap pak Bimo.


Mereka pun akhirnya terdiam dan terus memanjatkan do*a kepada yang maha kuasa.


Wajah mereka bertiga terlihat gelisah menunggu lahir nya cucu pertma mereka.


Sudah hampir tiga puluh menit mereka menunggu, dan akhir nya terdengar suara seorang bayi yang sangat nyaring di telinga mereka hingga membuat mereka saling menatap lalu saling memeluk.


"Cucu kita." Teriak mereka bertiga lalu saling memeluk mengungkapkan rasa bahagia mereka.


"Terima kasih Tuhan, akhirnya engkau memberikan kami keturunan lagi, semoga engkau masih memberikan nya tahun depan." Ucap pak Anwar.


"Ya jangan tahun depan juga kak, kasihan Yola nya, minimal tiga tahun sekali lah." Ucap tante Dori yang merasa kasihan kepada Yola yang harus langsung hamil lagi.

__ADS_1


"Tidak, itu terlalu lama, kakak mau nya setiap tahun kita punya cucu, kamu tahu sendiri kan di keluarga kita itu susah untuk mendapatkan keturunan." Ucap pak Anwar.


Tante Dori dan om Bimo terdiam, memang benar apa yang diucapkan pak Anwar kakak nya.


Mereka bertiga terus menatap pintu ruangan, mereka sudah ngga sabar ingin melhat cucu mereka yang baru lahir ke dunia pernovelan.


"Kok lama sekali ya, aku sudah ngga sabar ingin melhat cucu ku." Ucap tante Dori.


"Bukan kamu saja yang sudah ngga sabar, kita juga." Ucap pak Anwar.


Terdengar suara pintu ruangan d buka membuat mereka langsung berebut ingin masuk ke dalam.


"Kakak dulu." Ucap pak Anwar.


"Aku dulu kak, aku kan perempuan." Ucap tante Dori.


Mereka terus berebut hingga membuat suster yang membuka pintu ikut berbicara.


"Maaf tuan, nyonya, kalian tidak di perbolehkan masuk ke dalam, soalnya nyonya Yola dan bayi nya akan kita pindahkan ke ruang rawat inap, jadi tuan dan nyonya mohon minggir dulu dan beri kami jalan." Ucap suster itu dengan sopan.


Mereka bertiga pun mengalah dan memberikan jalan.


Terlihat Yola yang sedang berbaring di atas blankar rumah sakit dengan Ricard di samping nya yang ikut mendorong blankar nya, di belakang nya terlihat bu Mesti sedang menggendong cucu pertama nya itu sambil tersenyum.


Bu Mesti merasa bangga karena dirinya orang pertama yang menggendong cucu nya itu.


"Sini aku yang gendong." Ucap tante Dori.


"Papah yang gendong mah." Ucap pak Anwar.


Sementara om Bimo hanya terdiam, karena bagaimana pun dia meminta ingin menggendong nya, kakak ipar nya itu pasti tidak akan memberikan nya.


"Stop, kalian jangan buat kerusuhan, kalau kalian mau melihat dan menggendong nya, nanti di kamar perawatan." Ucap mamah dengan sangat jelas.


Tante Dori dan papah cemberut karena ngga bisa menggendong cucu nya.


"Maaf tuan, nyonya, bayi nya harus beristirahat dulu di ruang bayi." Ucap salah satu suster sambil mengambil bayi nya dari tangan mamah.


Aku dan mas Ricard hanya tersenyum melihat kelakuan para orang tua yang sedang berebut cucu nya.

__ADS_1


__ADS_2