
Rumah kak Leo sudah hampir seratus persen selesai di dekor oleh para ahli nya.
Aku ngga menyangka mereka bisa menyelesaikan dalam sehari saja.
Mas Ricard sudah pulang ke rumah nya semenjak sore tadi, sedangkan om Bimo dan tante Dori yang sudah berjanji mau menjadi wali ku kini sudah berada di rumah kak Leo.
Semua sudah tertata rapih, berbagai masakan pun sudah tersedia dan siap di nikmati.
Aku lagi di rias oleh perias handal, aku banyak berhutang budi sama kak Leo, karena tanpa kak Leo semua ini tidak lah mungkin terjadi.
Kak Leo yang mengorbankan seluruh waktu dan tenaga nya untuk acara ini, kak Leo bukan tidak lelah mengurus semua nya, tapi kak Leo ingin membuat kita semua bahagia.
Lea yang selalu ada di samping ku selalu memberi semangat, dari semenjak aku terpuruk sampai aku bahagia sekarang Lea tetap setia berada di samping ku.
"Wow, kamu cantik sekali mbak." Teriak Lea yang baru masuk.
"Kamu juga cantik Le," Ucap ku sambil menatap ke arah nya.
Lea sangat cantik dengan balutan gaun yang senada dengan kemeja nya kak Leo.
"Tapi bener deh mbak, hari ini tuh mbak sangat cantik sekali, aku yakin pak Ricard juga pasti akan mengatakan seperti apa yang aku katakan." Lea memuji ku tiada henti.
"Makasih Le, aku kok deg-degan ya Le, padahal ini kan pernikahan ku yang ke dua." Ucap ku.
"Pastilah mbak, karena hari ini adalah pernikahan mbak yang sangat di nantikan oleh kalian berdua, sedangkan yang dulu mbak merasa terpaksa."
"Iya kali ya Le."
"Tenang saja mbak, bawa rileks dan santai saja, ini adalah balasan dari Tuhan untuk mbak yang selalu teraniaya, mulai hari ini dan ke depan nya mbak akan selalu merasakan kebahagiaan." Ucap Lea sambil tersenyum.
"Makasih ya Le, kamu selalu ada buat mbak, kamu selalu memberi mbak semangat, kamu selalu menguatkan mbak, entah bagaimana mbak membalas nya." Ucap ku lalu memeluk Lea.
"Mbak ngga perlu membalas nya dengan apa-apa, cukup mbak restui aku jadi kakak ipar nya mbak."
"Kamu ini, kalau itu mah terserah kak Leo saja, kan yang menjalani nya juga kak Leo bukan mbak, eh kalau begitu yang jadi mbak kamu dong sekarang bukan aku." Ucap ku menggoda nya.
__ADS_1
"Sudah lah mbak, walaupun aku sudah menjadi istri nya mas Leo, tapi aku tetap adik di mata mbak."
"Ah adik ketemu gede, aku sangat menyayangimu."
"Kakak ngga di sayang nih." Teriak kak Leo yang ternyata sudah berada dekat kita berdua.
"Kita juga sayang kakak kok."
"Kalau sayang kok ngga di peluk." Ucap kak Leo, akhir nya kita berdua masuk ke dalam pelukan nya.
"Terima kasih ya kak, semua ini terjadi berkat kakak, aku ngga tahu harus membalas nya dengan apa." Ucap ku dalam pelukan nya.
"Kamu ngga perlu membalas nya dengan apa-apa, kakak cuma minta sama kamu jangan lagi mengeluarkan air mata kesedihan dan juga kakak hanya minta restu atas hubungan kakak dengan Lea."
"Kalian berdua seperti nya sudah ngebet nikah juga ya, dari tadi kalian berdua minta nya restu terus." Ucap ku setelah melepaskan pelukan dari kak Leo.
"Ya kan kamu tahu, usia kakak sama usia calon suami kamu sama, masa dia sudah nikah kakak belum, kan ngga adil."
Kita pun tertawa mendengar penuturan dari kak Leo.
"Sayang, ternyata kamu juga di sini Leo, kita semua mencari kamu." Ucap tante Dori.
"Leo, tante kan dari tadi sudah bilang, panggil tante dengan panggilan mamah."
"Oh iya maaf tan, eh mamah.'
"Nah gitu dong, sekarang kan mamah jadi punya banyak anak."
"Makasih ya mah, sudah mau menganggap kita sebagai anak mamah." Ucap ku lalu memeluk tante Dori.
"Sama-sama sayang, sini semua anak mamah peluk mamah dong." Ucap tante Dori.
Kak Leo pun ikut memeluk mamah Dori, sedangkan Lea hanya melihat ke arah kita.
"Sayang, kenapa kamu diam saja, sini ikut peluk." Lea pun tersenyum dan ikut masuk ke dalam pelukan.
__ADS_1
"Mamah ini di suruh manggil calon pengantin malah saling berpelukan." Ucap papah Bimo yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Ya ampun pah, mamah lupa." Ucap mamah Dori sambil melepaskan pelukan nya.
"Ayo kita sudah di tunggu, rombongan dari Ricard sudah sampai." Ucap papah Bimo.
"Memang nya sudah mau mulai ya pah?" Tanya ku sambil menatap papah Bimo.
Papah Bimo hanya diam menatap ku.
"Lo papah di tanya kok malah diam?" Aku bertanya sekali lagi karena papah Bimo hanya diam saja.
"Nak, makasih kamu sudah mau memanggil papah, betapa bahagia nya papah ini, mah sekarang kita punya anak lagi ya?"
"Iya pah, dan lihat lah ketiga anak ini sekarang menjadi anak kita." Ucap mamah Dori dengan senyuman d bibir nya.
"Akhir nya kita punya anak tiga mah." Ucap papah Bimo membuat aku terdiam.
"Kenapa tiga pah? Empat dong, kan sama Caca." Ucap ku.
Mereka semua saling menatap membuat aku penasaran.
"Sudah kita bahas nya nanti saja, bukan kah keluarga pak Ricard sudah menunggu." Ucap Lea.
"Ya ampun papah jadi lupa, ayo nak siap-siap semua nya sudah pada nunggu." Ucap papah Bimo.
Aku di gandeng mamah Dori sama Lea, sedangkan papah Bimo dan kak Leo sudah berjalan lebih dulu.
Aku berjalan dengan perlahan dengan di gandeng oleh mamah Dori dan Lea, selama aku berjalan jantung ku terus berdegup.
Pernikahan ke dua ku ini sungguh terasa sangat berbeda sekali dengan pernikahan ku yang pertama, jantung ku terus berdegup seakan-akan ini baru pertama kali aku alami.
Aku terus melangkahkan kaki ku dengan kepala sedikit menunduk, aku merasa malu dan sedih.
Malu karena aku merasa berada di tengah-tengah orang yang tidak aku kenal, sedih karena aku sudah dua kali menikah tapi sampai saat ini pun tidak di hadiri oleh orang tua kandung ku.
__ADS_1
Aku sudah berjanji dalam hati ku, kalau aku sudah tidak mau berharap lagi sama ke dua orang tua aku, aku sudah menganggap mereka tiada, hidup ku sekarang adalah masa depan ku, apalagi sekarang ada papah Bimo dan mamah Dori yang sudah menganggapku sebagai anak nya.
Tapi ada satu pertanyaan yang mash mengganjal d dalam hati ku, sebenar nya Caca kemana, sehingga papah Bimo mengatakan kalau anak nya sekarang hanya kita bertiga.