
Semua orang menatap kagum sama kecantikan Yola, walaupun dia berstatus janda, tapi kecantikan nya seperti masih anak perawan.
Aku merasa sedikit malu karena semua nya menatapku, aku yang malam ini hanya memakai sebuah dress yang di pilihkan Lea merasa sangat bersalah sama mas Ricard karena aku ngga bisa menjaga gaun ku.
"Kamu cantik sekali sayang." Ucap bu Mesti.
Bu Mesti menghampiri dan memeluk ku, lalu membawa nya untuk duduk di samping nya.
"Bagaimana kalau nak Yola duduk nya dekat tante, anggap tante dan om ini orang tua nak Yola, kita kan lagi ada acara lamaran cerita nya, dimana harus ada keluarga dari pihak wanita dan dari pihak laki-laki." Ucap tante Dor sambil tersenyum.
"Boleh juga tuh ide nya tante, ya sudah sekarang mbak duduk nya di samping tante dan om." Ucap Lea sambil menarik tangan ku lalu menempatkan aku di tengah-tengah om Bimo dan tante Dori.
"Bagaimana Leo apa saya boleh menjadi wali dari Yola?" Tanya om Bimo kepada kak Leo.
"Silahkan om asalkan Yola nya bersedia, saya sih setuju-setuju saja."
Akhir nya kita semua sepakat kalau yang akan menjadi wali nya aku adalah om Bimo dan tante Dori.
Aku merasa ada seseorang yang ngga ikut hadir di antara kita, dan aku baru sadar ternyata aku tidak melihat Caca.
"Lo, Caca kemana tante?" Tanya ku kepada tante Dori.
"Caca_."
"Caca di tugaskan ke luar kota sayang, soal nya perusahaan om yang di sana tidak ada yang ngurus." Ucap om Bimo berbohong.
Aku melihat ke arah mas Ricard, mas Ricard pun mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah kita mulai ya acara lamaran nya?" Tanya pak Anwar.
"Oke kak, kita mulai saja ya, aku dari pihak perempuan nya." Ucap tante Dori.
"Baiklah, maksud kedatangan kami kesini, kami diajak dan di minta oleh anak kami yang bernama Ricard untuk melamar anak bapak dan ibu untuk di jadikan sebagai istri sekaligus ratu di rumah kami, apa bapak menerima nya?" Tanya pak Anwar.
Mereka semua tersenyum, karena acara lamaran nya seperti acara lamaran bohongan.
__ADS_1
"Saya dan istri saya selaku orang tua dari Yolanda tidak bisa langsung menerima permintaan bapak dan ibu, karena yang akan menjalani ke depan nya mereka berdua, jadi semua keputusan saya serahkan kepada Yola, bagaimana nak?" Om Bimo bertanya kepada ku.
Tanpa terasa air mata ku menetes, aku sangat terharu dengan semua kebaikan dari keluarga mereka.
"Kamu kenapa nangis sayang?" Tanya tante Dori sambil memeluk pundak ku dari samping.
"Aku terharu tante, aku seperti merasakan kehadiran kedua orang tua ku." Jawab Yola sambil mengusap air mata nya.
"No sayang, mulai saat ini panggil tante dengan panggilan mamah." Ucap tante Dori membuat aku semakin terharu.
Aku langsung memeluk tante Dori dengan erat, "Terima kasih mah, mamah sudah mau menganggap aku sebagai anak mamah." Ucap ku dalam isak tangis.
Ku lihat Lea dan mamah nya mas Ricard ikut menghapus air mata nya mungkin mereka ikut terharu dengan ku.
"Sudah jangan menangis, mamah harap ini air mata terakhir yang kamu keluarkan, setelah malam ini hanya senyuman yang akan kamu perlihatkan." Ucap tante Dori lalu mencium seluruh wajah ku.
"Maaf semua nya, ini kan acara lamaran ku, bukan acara serah terima anak." Ucap mas Ricard dengan wajah kesal nya.
Mas Ricard mungkin kesal karena dirinya merasa diabaikan.
"Wah, bos ini sudah ngga sabar ya." Ucap kak Leo.
"Bukan sudah ngga sabar, kamu bisa lihat sendiri ngga jam berapa sekarang." Ucap Ricard sambil melihat ke arah jarum jam yang ada di ruangan itu.
"Apa! ternyata sudah tengah malam? Seperti nya hanya keluarga kita yang mengadakan lamaran di tengah malam begini." Ucap pak Anwar.
"Iya, dan hanya keluarga kita juga yang tengah malam lamaran besok malam langsung acara pernikahan." Ucap Leo kembali.
"Maksud kak Leo?" Tanya ku yang belum mengerti dengan ucapan dari kak Leo.
"Begini sayang? Malam ini mamah sekeluarga mau melamar kamu untuk menjadi istri nya Ricard dan menjadi anak menantu kami, dan besok malam kalian berdua langsung menikah, jadi mulai besok rumah ini sudah di hias dan semua keperluan untuk menikah besok akan di siapkan." Ucap bu Mesti.
"Tapi apa bisa, Besok langsung menikah? Kan kita harus menyiapkan segala sesuatu nya dulu, dan ngga mungkin kan gaun pengantin sehari langsung selesai." Ucap ku karena kan memang ngga mungkin mau mengadakan pesta pernikahan dalam satu hari selesai.
"Serahkan semua nya sama aku sayang, kamu hanya diam dan duduk manis saja." Ucap mas Ricard.
__ADS_1
"Apa tidak baik nya kita menikah bulan depan saja mas?"
"No sayang, mas tidak mau kejadian tadi menimpa kamu lagi, mas ingin menjaga kamu selama dua puluh empat jam." Ucap mas Ricard dengan sungguh-sungguh.
"Tapi_"
"Sudah, ngga ada tapi-tapian lagi, pokok nya besok malam kita melangsung kan pernikahan kita."
"Bagaimana kalau kita melaksanakan ijab kabul nya saja dulu mas, pesta nya kapan-kapan saja." Aku Memberikan saran kepada mas Ricard.
"Kamu jangan banyak pikiran, pokok nya semua nya serahkan saja sama mas."
"Lamaran saja belum tentu di terima kalian malah berdebat membicarakan pesta pernikahan." Ucap Leo dengan wajah tanpa dosa.
"Ya pasti di terima kan sayang?" Tanya mas Ricard sambil menatap ku.
"Ya sudah kita serius ya, kita lanjut kan acara lamaran nya, bagaimana nak, apa kamu menerima lamaran dari nak Ricard?" Ucap om Bimo.
Aku menatap wajah mas Ricard yang sedikit terlihat tegang, aku melihat ke arah Lea dan kak Leo, mereka berdua mengangguk sambil tersenyum.
"Aku menerima lamaran nya." Jawab ku.
"Alhamdulilah." Ucap semua nya bersamaan.
Ku lihat senyum mas RIcard sangat manis sekali, mas Ricard menarik tangan ku lalu menyematkan cincin ke jari manis ku.
"Mas, apa lebih baik cincin nya buat acara malam besok saja." Ucap ku.
"Besok kita beli lagi, ini cincin khusus untuk acara lamaran, buat acara besok malam biar kak Leo yang mencarikan nya." Ucap mas Ricard.
"Tuh kan sayang, ujung-ujung nya aku lagi, semua nya aku yang harus menyiapkan." Ucap kak Leo kepada Lea.
"Ya sudah laksanakan saja mas, lagian kan ini juga acara nya mbak Yola." Ucap Lea.
"Ya mau ngga mau sayang, dari pada retoran mas nanti diambil kembali." Ucap kak Leo yang mendapat lemparan bantal kursi dari mas Ricard.
__ADS_1