Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Kawin Lari


__ADS_3

Semenjak penyerahan perusahaan itu, aku sedikit di sibuk kan dengan pekerjaan, tapi mas Ricard tidak mau membiarkan aku sendirian, jadi mas Ricard selalu ikut aku bekerja dan selalu mengajari ku di kala ada yang belum aku mengerti.


Keadaan sekarang terbalik dari kemarin, dimana kemarin aku yang selalu ada di samping nya mas Ricard dan menemani mas Ricard yang sedang bekerja, tapi sekarang mas Ricard lah yang menemani ku bekerja.


"Sayang acara nanti malam sudah siap kan? Sebenar nya mas di larang kerja sama mamah, tapi mas ngga mau kamu pergi ke kantor ini sendirian." Ucap mas Ricard sambil tiduran di atas kedua paha ku.


Aku terpaksa duduk di sofa panjang untuk mengerjakan semua kerjaan ku karena mas Ricard ngga mau jauh-jauh dari aku.


"Suruh siapa mas memberikan perusahaan nya sama aku, jadi aku sibuk kan sekarang." Ucap ku.


"Mas hanya ingin membuktikan kepada mantan suami kamu, kalau kamu sekarang sudah bahagia dan mempunyai segala nya."


"Mas kamu ini, kan sama saja kalau mas pemilik perusahan ini, kan mas juga calon suami aku."


"Tidak sayang, kamu tahu ngga, pas kemarin penyerahan kepemilikan perusahaan ini muka nya mantan kamu itu gimana, dia seperti ingin membunuh mas, dan perasaan mas mengatakan kalau dia itu masih ada hasrat untuk mengambil perusahaan ini."


"Tapi bagaimana nanti kalau mas Bagas benar-benar ingin merebut nya kembali?" Tanyaku sambil menatap mata mas Ricard.


"Mas tidak akan membiarkan nya, seperti mas tidak membiarkan kamu di rebut siapa pun, dan bila itu terjadi mas akan membuat dia hancur sehancur hancur nya." Ucap mas Ricard dengan wajah serius nya.


"Makasih mas sudah selalu ada buat aku." Ucap ku lalu aku mencium kening nya dengan lembut.


Aku mengangkat kepala ku, tapi tangan mas Ricard menarik nya dan mengarahkan bibir ku ke bibir nya.


Aku dan mas Ricard pun bercumbu hingga kita melupakan dimana kita berada.


"Ini di kantor, kalau mau berbuat mesum pergi saja ke hotel." Ucap Caca yang sudah berdiri di depan pintu.


"Dasar janda gatel, di mana saja pasti gatel, kenapa sih kak Ricard malah milih janda gatel ini di banding kan aku yang masih suci." Gumam bathin Caca.


Aku kaget dan langsung mengangkat kepala ku dan menjauh dari wajah mas Ricard.


"Ada apa Ca?" Tanya ku sambil menatap nya, aku berusaha bersikap biasa dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Saya perlu tanda tangan anda." Jawab Caca dengan wajah sinis nya.

__ADS_1


"Mas, bangun dong, aku jadi susah mau ngambil berkas nya." Ucap ku sambil sedikit menarik kepala mas Ricard.


"Mendekat lah Ca, kakak lagi dalam posisi nyaman ini." Ucap mas Ricard sambil memeluk erat pinggang ku.


"Gimana ngga dalam posisi nyaman, kamu nya nemplok di tempat pavorite semua pria, jangan-jangan kak Ricard sudah di kasih servis duluan, sehingga kak Ricard nempel seperti perangko." Caca terus bergumam di hati nya.


Ku lihat wajah Caca seperti sedang menahan amarah nya, aku segera menanda tangani berkas yang di berikan Caca.


"Permisi." Ucap nya lalu membalikan tubuh nya hendak pergi dari ruangan ku.


"Eh, dek kamu sudah siap kan untuk ikut acara malam nanti, kalau bisa kerjaan nya selesaikan sekarang juga lalu kamu pulang lah untuk siap-siap." Ucap Ricard yang masih betah tidur di atas kedua paha ku.


"Iya." Hanya satu kalimat pendek yang keluar dari bibir nya Caca.


"Mas, aku kasihan melihat Caca, seperti nya dia sakit hati banget melihat aku sama kamu."


"Biarin saja biar dia sadar, ya sudah kamu sudah selesai belum kerjaan nya, kalau sudah kita pulang, kita harus siap-siap buat nanti malam."


"Sudah mas, ayo."


*********


Waktu pun terus berjalan, tak terasa waktu malam akan tiba, dan tinggal beberapa jam lagi mas Ricard akan datang bersama kedua orang tua nya.


"Le, semua nya sudah siap kan?" Tanya ku kepada Lea.


"Sudah mbak, oh iya mbak, ini gaun yang akan di pakai malam ini." Ucap Lea sambil memberikan sebuah gaun.


Gaun ini memang di pesan oleh mas Ricard khusus untuk acara lamaran malam ini.


"Terima kasih ya Le, terus kamu dan kak Leo kapan mau lamaran?" Tanya ku sambil mengambil gaun yang ada di tangan Lea.


"Aku sih terserah kak Leo saja."


"Iya nanti setelah acara Yola kita juga akan melangsungkan pernikahan." Ucap kak Leo yang sudah berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Lamaran dulu kak, masa langsung nikah, bagaimana kalau keluarga Lea nya ngga merestui hubungan kalian?" Ucap ku.


"Ya kalau ngga di restui kita kawin lari saja." Ucap kak Leo dengan santai.


"Ngga mau aku kawin lari." Ucap Lea dengan wajah di tekuk nya.


"Lah terus kita harus mengakhiri hubungan kita gitu, ayolah Le."


"Ngga mau aku mas."


"Why?"


"Mas pikir saja sendiri, apa mas ngga capek kawin nya sambil lari."


Sontak aku yang mendengar perdebatan mereka berdua dan juga ucapan Lea yang terakhir membuat aku tertawa terpingkal-pingkal.


"Bener itu, kawin lari capek, lagian kan kalian itu mau nikah bukan mau lari marathon." Ucap ku di sela-sela tertawa ku.


"Kamu ini ya Le, aku itu bicara serius." Ucap kak Leo dengan wajah kesal nya karena sudah di permainkan oleh Lea.


"Aku juga serius mas, coba mas pikir deh kalau kita kawin sambil lari, mas akan capek ngga?"


"Au ah, terserah kamu saja lah, mendingan aku bicara sama bi Narsih." Ucap kak Leo sambil pergi meninggalkan aku dan Lea.


"Ngambek dia, ya sudah aku susul kak Leo dulu ya, mbak ganti saja baju nya."


Aku menatap gaun cantik yang kini sudah berada di tangan ku, bibir ku tersenyum membayangkan acara lamaran yang sebentar lagi akan di mulai.


Lea menghampiri dan membujuk Leo hingga Leo sudah bisa tersenyum lagi, mereka berdua melihat ada dua mobil mewah masuk ke pelataran rumah Leo.


"Seperti nya Mereka sudah sampai." Ucap Leo sambil melihat ke arah luar.


"Iya mas benar, kalau gitu aku ke kamar nya mbak Yola dulu ya." Lea pun pergi ke kamar nya Yola setelah melihat sebuah angguk kan dari Leo.


"Mas!." Teriak Lea dengan sangat kencang nya membuat Leo yang sedang menerima keluarga Ricard pun langsung berlari ke kamar nya Yola.

__ADS_1


__ADS_2