Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Rencana Yola


__ADS_3

"Permisi mbak, maaf mengganggu pak Bagas sudah datang. Ucap mbak Ratih setelah mengetuk pintu.


"Oh iya mbak suruh masuk saja." Ucapku, untung aku sudah selesai makan dan membereskan nya.


"Siang mbak Yola, saya kesini untuk melanjutkan pembicaraan yang kemarin." Ucap mas Bagas dengan tatapan genit nya


"Oh iya silahkan duduk pak Bagas." Aku menyuruh nya duduk di sofa, sedang kan mbak Ratih langsung undur diri dari ruangan ku.


"Sebelum nya saya minta maaf pak Bagas, karena bos belum kasih saya kabar jadi mungkin pak Bagas harus menunggu nya untuk sementara waktu biar nanti saya yang hubungi bos." Ucap ku lalu duduk di depan nya mas Bagas.


"Ngga jadi masalah kalau bos kamu ngga kasih kabar juga, jadi aku ada alasan untuk datang kesini dan bertemu dengan kamu." Mas Bagas pinda duduk jadi di samping aku.


"Maksud mas?" Aku pura-pura ngga mengerti.


"Yola, semalaman aku ini ngga bisa tidur, aku terus kepikiran sama kamu, apa kamu tega melihat aku tersiksa seperti ini." Ucap mas Bagas dengan wajah memelas nya.


"Kamu bilang aku tega mas, terus dulu kamu menghina dan berbuat semau kamu kepadaku apa kamu ngga tega, kamu bahkan menuduh ku berselingkuh hanya karena kamu ingin mengusir dan menceraikan aku hingga aku jelek di mata kakek kamu." Ucap ku dalam hati, karena ngga mungkin juga aku langsung mengatakan nya kepada mas Bagas.


"Kenapa juga mas harus memikirkan aku, oh iya mas sudah menikah kan sama mbak Elena?" Aku sengaja memancing mas Bagas.


"Maafkan aku Yol, waktu itu aku terbujuk rayuan nya sehingga aku menyakiti kamu, aku terpaksa menikahi nya karena dia sedang mengandung anakku." Pintar sekali pria brengsek ini mencari alasan.


"Terus kalau mbak Elena sudah menjadi istri nya mas, kenapa aku yang di pikirkan?"


"Elena sudah ngga cantik lagi, bodi dia saja sekarang gendut, kamu tahu sendiri kan kalau aku itu suka nya wanita cantik dan seksi seperti kamu." Ucap mas Bagas, tangan nya mengelus tangan ku.


Sebenar nya aku ingin sekali menampar dan menjauh dari mas Bagas, tapi dengan sekuat tenaga aku menahan nya karena aku belum puas untuk membuat nya hancur.

__ADS_1


"Rasa cinta kamu hanya sebatas wajah dan bodi mas, kamu tidak pernah tulus mencintai seorang perempuan, dulu aku di hina karena wajah dan bodi ku sekarang, semua itu berbalik kepada selingkuhan kamu yang selalu kamu puji di depan ku." Gumam ku di dalam hati.


Aku hanya tersenyum smirk, saat nya aku masuk ke dalam kehidupan mereka dan membuat mereka hancur lebih dari yang aku rasakan.


"Makasih mas atas pujian nya, tapi aku menjadi cantik dan bodi ku menjadi seksi begini ngga murah lo mas, aku harus mengeluarkan banyak uang demi penampilan ku yang sekarang." Ucap ku dengan nada menggoda.


Sumpah demi apa pun aku di depan mas Bagas kali ini seperti wanita mu ra han, tapi aku mengabaikan nya hanya demi balas dendam ku.


Terlihat mas Bagas mengambil cek kosong lalu menuliskan angka dengan nominal lumayan banyak menurut ku.


"Ini ambilah, untuk biaya perawatan, kalau kurang kamu tinggal menghubungi aku." Ucap mas Bagas sambil memberikan cek dengan nominal seratus juta.


"Ngga usah mas, aku ngga mau nanti istri kamu marah sama aku." Aku menyandarkan kepala ku di dada nya.


"Kena kamu mas, aku akan mengambil semua harta kamu." Ucap ku dalam hati, bibir ku tersenyum lebar tapi mas Bagas tidak melihat nya.


"Menikah?" Ucap ku sambil menatap wajah mas Bagas, wajah yang dulu pernah membuat aku jatuh hati, tapi sekarang semua itu musnah dan berubah menjadi wajah yang paling aku benci.


"Ya menikah, mau kan kamu menjadi istri ku kembali." Ucap mas Bagas lalu mencium telapak tangan ku.


"Ngga mas, aku ngga mau jadi yang ke dua." Jawab ku sambil menarik tangan ku dari tangan nya.


"Kamu tenang saja sayang, kalau Elena sudah melahirkan aku akan menceraikan nya, jadi kamu nanti akan menjadi satu-satu nya istri aku." Kembali mas Bagas mencium telapak tangan ku.


"Andaikan dari dulu kamu berbuat manis seperti ini mas, betapa bahagia nya aku." Gumam ku dalam hati.


"Kalau begitu tunggu kamu jadi duda dulu baru aku mau jadi istri kamu kembali." Entah kenapa aku bisa mengucapkan nya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu permintaan kamu, aku akan sabar menunggu dan kita akan berhubungan di belakang mereka, bagaimana?"


Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab nya, perlahan mas Bagas mendekatkan wajah nya ke wajah ku, aku merasa terhipnotis dengan tatapan nya hingga membuat aku hampir memejamkan ke dua mata ku, andai saja suara ponsel ku tidak berdering.


"Maaf mas, seperti nya itu telepon dari bos." Aku tersadar lalu berdiri dan mengambil ponsel yang ku simpan di atas meja kerja ku.


Aku menerima panggilan dari bos ku yang mengingatkan aku kalau aku jangan sampai terbuai oleh mas Bagas.


Aku heran dengan bos ku ini, dari mana dia tahu kalau aku hampir saja terbuai oleh tatapan nya, aku melirik ke ruangan bos, tapi pintu ruangan bos tertutup rapat, sedangkan ruangan nya di kelilingi kaca cermin, terus bos bisa tahu dari mana, aku melirik ke setiap sudut, tapi tidak ada satu cctv pun yang menempel di ruangan ku.


Lamunan ku buyar ketika kembali ada suara ponsel yang berdering, rupanya ponsel mas Bagas sekarang yang berdering.


Aku menyimpan kembali ponsel ku setelah bos menutup panggilan nya.


Aku menatap mas Bagas lalu menghampiri nya dan duduk di sebelah nya.


"Kenapa ngga di angkat mas." Ucap ku sambil melirik ke arah ponsel mas Bagas yang di taro di atas meja, ku lihat nama istriku tertera di sana.


"Sudah lah paling juga dia nanya sudah makan siang atau belum, ngga usah di hiraukan, aku ikut ke toilet ya." Mas Bagas pergi ke toilet setelah aku mengizinkan nya.


Selagi mas Bagas di toilet kembali ponsel nya berbunyi, aku langsung mengambil dan menerima panggilan nya.


Aku tahu apa yang aku lakukan ini tidak sopan, tapi aku ingin rencana ku berhasil dengan sempurna.


"Halo." ucap ku.


"Mas Bagas nya lagi mandi." Ucap ku dengan senyuman lebar menghiasai bibir ku.

__ADS_1


__ADS_2