
Pria setengah baya itu berjalan menghampiri kursi kosong dengan tas dan beberapa map di tangan nya, lalu duduk di samping nya mas Ricard.
Mereka semua menatap nya, seperti nya mereka juga tidak mengenali bapak paruh baya itu sama seperti aku.
"Siapa lagi pria tua ini." Gumam bathin Caca.
"Apa sebenar nya yang akan di bicarakan oleh pak Ricard ini, kenapa ada Yola dan pria di luar dari perusahaan." Gumam bathin Bagas.
"Tidak apa-apa pak, kita juga belum mulai kok barusan cuma perkenalan saja, oh iya pak kenalkan ini Yolanda calon istri saya." Mas Ricard pun kembali mengenalkan aku kepada pria paruh baya itu.
"Oh ini toh yang membuat pak Ricard semakin rajin masuk kantor." Ucap pria itu.
"Bapak bisa saja, kenalkan sayang ini pak Budi, pak Budi ini adalah pengacara mas."
Aku pun menjabat tangan pak Budi sambil tersenyum.
"Silahkan duduk pak, kita akan mulai meeting nya." Ucap mas Ricard mempersilahkan pak Budi.
"Baiklah, karena semua nya sudah hadir, maka saya akan memulai nya, sebenar nya saya mengumpulkan kalian di sini hari ini bukan untuk membicarakan apa-apa, saya hanya ingin kalian semua menjadi saksi atas surat yang akan di bacakan oleh pak Budi pengacara saya ini." Ucap mas Ricard dengan tegas dan berwibawa.
Entah kenapa aku sangat suka sekali melihat dia sedang bicara di depan para karyawan nya, mas Ricard terlihat seperti pria cool dan energik, tapi kalau sudah berdua, mas Ricard manja dan posesif.
"Silahkan pak, bisa di mulai." Ucap mas Ricard kepada pak Budi.
"Baiklah, pertama-tama saya perkenalkan diri saya adalah Budi Hermawan SH, saya adalah seorang pengacara dan salah satu nya klien saya adalah pak Ricard ini, saya di utus dan di berikan wewenang untuk membuat surat pengalihan perusahaan ini kepada saudara Yolanda yang sebentar lagi akan menjadi istri nya pak Ricard." Ucap pak Budi dengan sangat jelas dan membuat aku kaget dengan ucapan nya.
"Apa!" Teriak mas Bagas dan Caca secara bersamaan membuat semua mata orang tertuju kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Kenapa? apa kalian berdua merasa keberatan?" Tanya mas Ricard sambil menatap tajam ke arah mereka.
"Ti_tidak." Jawab mas Bagas dan Caca.
"Ya sudah kalau memang tidak keberatan, tapi seandainya diantara kalian ada yang merasa keberatan, silahkan keluar dari ruangan ini." Lagi-lagi aku melihat kilatan api kemarahan di mata mas Ricard.
"Mas." Ucap ku sambil mengelus tangan nya, mas Ricard melirik dan tersenyum lalu mengangguk kan kepala nya.
"Apa-apa an ini, kenapa sekarang perusahaan ku menjadi milik Yola, aku tidak rela kalau perusahaan ku diambil nya, kalau dia pemilik perusahaan ini, berarti dia akan menginjak-injak harga diriku di depan semua karyawan, pokok nya sebisa mungkin perusahaan aku ini harus kembali ke tangan ku." Gumam bathin Bagas.
Bagas yang kesadaran nya mulai melemah karena kondisi keuangan yang benar-benar tidak stabil di tambah mau menghadapi lahiran istri nya, iman nya mulai goyah kembali, dan bisikan-bisikan setan terus terdengar di telinga nya kalau dirinya harus bisa merebut kembali perusahaan nya dari tangan mereka.
"Lanjut saja pak." Ucap mas Bagas setelah keadaan mulai tenang kembali.
"Baiklah, silahkan bapak tanda tangani di sini dan di sini, dan juga nona Yolanda tanda tangani di sini dan di sini." Ucap pak Budi sambil menunjuk kan kolom yang harus kita berdua tanda tangani.
"Apa ini sebuah mimpi, kenapa semenjak aku kenal dengan mas Ricard, keberuntungan selalu menghampiri ku, terimakasih Tuhan, engkau sudah mempertemukan aku dengan mas Ricard." Gumam ku di dalam hati.
"Kenapa kamu diam saja, ayo tanda tangani." Ucap mas Ricard membuyarkan lamunan ku.
"Tapi mas, kenapa kamu memberikan nya pada ku, aku takut ngga bisa menjalankan nya dengan baik." Ucap ku yang merasa ngga enak dengan semua ini.
"Sudah nanti kita bahas lagi, sekarang kamu tanda tangani saja surat-surat nya." Ucap mas Ricard sambil memberikan ballpoint nya kepada ku.
Aku menatap pak Budi, dan pak Budi tersenyum sambil mengangguk kan kepala nya.
"Ayo dong sayang, biar cepat selesai."
__ADS_1
Aku pun menorehkan tanda tangan ku di atas kertas-kertas yang sudah di jelaskan oleh pak Budi tadi.
"Baiklah, surat-surat pengalihan perusahaan sudah selesai di tanda tangani oleh kedua belah pihak, dan sekarang waktu nya pak Ricard menyerahkan nya kepada nona Yolanda." Ucap pak Budi.
"Tolong bapak dan nona berdiri di sini." Ucap pak Budi sambil menggeser kursi nya.
Mas Ricard menarik tangan ku agar aku mau berdiri di tempat yang di tunjuk pak Budi.
"Dengan di saksikan para staf yang ada di perusahaan ini, saya Ricard Anthoni menyerahkan perusahaan ini kepada calon istri saya yang bernama Yolanda sebagai hadiah lamaran." Ucap mas Ricard sambil menyerah kan sebuah map yang berisi surat-surat kepemilikan yang sudah kita tanda tangani.
Dengan sedikit Ragu aku menerima map dari tangan mas Ricard, aku menatap nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, aku tidak menyangka semua ini akan terjadi dalam hidup ku.
"Terima lah." Ucap mas Ricard sambil mengangguk kan kepala nya.
"Baiklah, saya menerima nya, tapi saya masih memerlukan anda tuan Ricard untuk lebih memajukan kembali perusahaan ini." Ucap ku sambil tersenyum.
"Saya sebagai calon suami anda akan selalu berada di samping anda nyonya Ricard, kita saling membantu dan saling mendukung dalam segala hal." Ucap mas Ricard sambil tersenyum.
Tepuk tangan pun meriah dari mereka yang hadir di ruangan meeting., kecuali mas Bagas dan Caca, mereka berdua hanya menatap ku dengan tatapan tajam nya, seolah-olah mereka berdua tidak rela aku mendapatkan semua ini.
"Selamat nyonya, kami juga akan bekerja lebih giat lagi dan akan membuat perusahaan ini melesat tinggi hingga bisa menyaingi perusahaan utama pak Ricard nanti nya." Ucap kepala HRD sambil tersenyum.
"Terima kasih semua nya sudah mau membantu mengembangkan perusahaan ini, dan ucapan bapak aku suka sekali, kita akan menyaingi perusahaan utama pak Ricard, siap-siap ya mas aku dan mereka akan sekuat tenaga agar bisa menyaingi kamu." Ucap ku bercanda.
"Aku sangat senang sekali jika semua itu terjadi, berarti kamu asli nyonya Ricard."
Semua orang tertawa, aku sangat bahagia karena mereka menerima ku, walaupun ada dua orang yang seperti nya tidak menyukai ku.
__ADS_1