
Kedua mobil rombongan Ricard pun memasuki halaman rumah nya Leo, bibir Ricard semakin lebar karena sebentar lagi dia akan melamar wanita pujaan nya.
"Ini rumah Leo nak?" Tanya bu Mesti sambil menatap rumah yang berukuran besar walau tetap masih besar rumah mereka.
"Iya mah, ya sudah ayo kita turun saja." Jawab Ricard sambil membuka pintu mobil nya.
Semua nya keluar dari dalam mobil, mereka melihat ke arah sekeliling rumah yang lumayan bersih dan nyaman.
Mereka pun membawa beberapa hadiah yang sudah di siapkan untuk acara lamaran malam ini.
"Sudah datang rupanya, ayo silahkan semua nya masuk." Ucap Leo yang sudah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kedatangan mereka.
Satu persatu leo menjabat tangan mereka.
"Sekarang kamu sudah sukses ya Le, rumah kamu saja besar begini." Ucap pak Anwar sambil menerima jabat tangan Leo.
"Alhamdulilah pak, semua nya berkat bos Ricard." JAwab Leo sambil melirik ke arah Ricard.
"Kak Leo." Gumam Ricard sambil menatap tajam ke arah Leo.
Leo hanya tersenyum melihat Ricard menatap nya seperti itu, semenjak Ricard mau melamar Yola, Leo memang di larang memanggil nya bos lagi, tapi Leo sering menggoda nya.
"Oh jadi si janda gatel ini tinggal bersama kakak rese." Gumam bathin Caca.
"Hai Ca, apa kabar?" Sapa Leo setelah kini giliran menjabat tangan Caca.
"Baik lah kakak rese, ternyata rumah kakak rese besar juga, tapi sayang ya tetap aja masih jomblo." Ucap Caca yang memang ngeselin.
"Sebentar lagi juga aku melepas titel jomblo kok, lihat saja nanti, ya sudah ayo duduk semua nya, sebentar ya Yola nya lagi di panggil dulu." Leo pun mengajak mereka untuk duduk di tempat yang sudah di persiapkan oleh Leo.
Bi Narsih dan kerabat nya yang melihat tamu Leo sudah datang pun langsung menyediakan makanan dan minuman di atas meja.
"Silahkan di nikmati." Ucap bi Narsih lalu mereka kembali ke belakang.
Mereka pun bercengkerama sambil menunggu kedatangan Yola.
"Mulia benar hati mu Le, kamu bisa menjadikan Yola sebagai adik kamu." Ucap pak Anwar.
"Karena saya juga merasakan hidup tanpa keluarga itu bagaimana."
"Kalian tinggal berdua? Kalian kan bukan saudara sedarah, apalagi dia itu seorang jan_."
"Mas Leo, mbak Yola." Teriak Lea dari dalam kamar nya Yola.
"Lea." Gumam Leo.
__ADS_1
"Yola." Gumam Ricard.
Meraka berdua langsung berlari menuju kamar nya Yola.
Terlihat Lea sedang mencari-cari Yola, dia terlihat sangat khawatir.
"Le, ada apa? Yola kemana?" Tanya Leo.
"Mas, mbak Yola ngga ada mas." Jawab Lea dengan wajah cemas nya.
"Apa!" Teriak Leo dan Ricard secara bersamaan, mereka berdua kaget.
Ricard dan Leo menelisik seluruh kamar Yola, semua mereka buka dari kamar mandi lemari dan bahkan jendela kamar nya.
"Sayang, kamu dimana." teriak Ricard sambil terus mencari nya.
"Kenapa dia bisa menghilang Leo?" Tanya Ricard dengan wajah penuh amarah nya.
"Tadi dia di sini, bahkan seperti nya dia sudah berganti pakaian." Jawab Leo.
"Ada apa?" Tanya bu Mesty yang penasaran dengan teriakan dari Lea.
"Yola hilang mah." Jawab Ricard dengan wajah sendu nya.
"Kok bisa?" Ucap bu Mesty dan yang lain nya.
"Akhirnya batal juga lamaran mereka, bisa dong aku yang menggantikan nya sebagai calon pendamping kak Ricard." Gumam bathin Caca.
"Apa kalian punya musuh? sehingga Yola menghilang? Ngga mungkin kan kalau dia pergi begitu saja." Tanya pak Anwar.
"Tidak tuan, perasaaan kita selama ini hidup aman-aman saja di rumah ini." Jawab Leo.
"Apa kalian sudah menghubungi no ponsel nya?" Tanya tante Dori.
"Ini ponsel nya tante, tadi aku menemukan nya di atas kasur." Jawab Lea sambil memegang ponsel nya.
"Coba kamu cek ponsel nya, barangkali ada yang menghubungi nya sebelum dia menghilang." Ucap pak Anwar.
"Tapi ponsel nya di kunci." Ucap Lea.
"Sini biar aku yang membuka nya." Ucap Ricard dengan wajah marah nya.
Ricard memang tahu kata sandi ponsel Yola, karena dirinya sering membuka ponsel Yola dan tidak ada rahasia diantara mereka.
Ricard membuka nya dan langsung membuka isi chat nya, wajah Ricard merah menahan amarah.
__ADS_1
"Bajingan, mau main-main dengan ku rupanya." Gumam Ricard dengan tatapan tajam nya, mata dan wajah merah nya menandakan dia sedang marah besar.
Semua orang saling menatap, mereka kaget melihat ekspresi wajah Ricard.
Kalau Ricard sudah menampak kan wajah seperti sekarang, berarti dia sedang marah besar.
"Seram juga ya kakak kalau lagi marah." Gumam Caca di salam hati nya.
"Ada apa nak? Kamu harus tenang ya, biar kita bisa mencari solus nya." Bu Mesti menenangkan Ricard.
Pak Anwar mengambil ponsel Yola dari tangan Ricard lalu membaca chat dari orang yang tidak tertera nama nya.
..."Nona Yola, saya di suruh pak Ricard untuk membawa anda ke salon, dan sekarang saya sudah berada di depan rumah anda." Kata seseorang yang mengirimkan chat....
"Tapi mas Ricard ngga bilang apa-apa sama saya." Yola pun membalas chat nya.
"Mungkin belum sempat, karena tadi pak Ricard juga sedang buru-buru pergi ke salon, dan saya di suruh menjemput anda."
"Baiklah kalau begitu, tunggu saya mau menghubungi mas Ricard dulu."
"Tidak perlu nona, waktu nya sudah mepet jadi nona harus segera pergi dengan saya, karena pak Ricard bilang kepada saya harus secepat nya membawa anda kesana."
"Baiklah kalau begitu anda tunggu sebentar saya ke depan sekarang."
"Berarti ada orang yang menculik Yola." Ucap pak Anwar membuat semua orang kaget.
"Apa!" Teriak mereka bersamaan, kecuali Caca dan Ricard.
"Apa pak Bagas yang sudah menculik mbak Yola." Ucap Lea membuat semua mata menatap nya.
"Bagas? Siapa Bagas?" Tanya bu Mesti dan tante Dori secara bersamaan.
"Dia itu mantan suami nya mbak Yola." Jawab Lea.
"Bajingan, kalau benar dia yang melakukan nya, aku tidak akan membiarkan nya hidup dengan tenang." Ucap Ricard sambil mengepalkan kedua tangan nya.
"Sabar nak, kita selesai kan dengan kepala dingin, seandainya dugaan kita benar, kita juga ngga tahu kan Yola di bawa kemana?" Ucap pak Anwar.
"Benar kata bapak, tapi bagaimana cara nya kita mencari Yola."
"Pah." Ucap Ricard sambil menatap pak Anwar.
"Ya, jalan satu-satu nya kita harus meretas no ponsel yang mengirimkan pesan ini."
"Kak Leo, aku pinjam komputer nya." Ucap Ricard.
__ADS_1
Banyak orang yang tidak tahu bahkan bu Mesti sendiri tidak tahu kalau suami dan anak nya ini sangat jago dalam hal meretas, mereka bisa menghancurkan musuh dalam hitungan detik, tapi mereka tidak sejahat itu orang nya, tapi kalau sudah membuat mereka marah besar, maka jiwa jahat nya muncul.