Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Bingung


__ADS_3

Hari-hari ku sekarang penuh dengan kebahagiaan, semenjak aku kenal dengan mas Ricard seperti nya aku lupa dengan kata sedih.


Aku sudah ngga mau tahu tentang kabar mas Bagas, walaupun aku tahu mas Bagas kerja di bawah kepemimpinan mas Ricard.


Setiap hari rasa cinta ku kepada mas Ricard semakin besar, apalagi kita seperti nya sudah tidak bisa di pisahkan lagi.


Sesuai keinginan mas Ricard, aku kini menjadi asisten pribadi nya yang selalu ada di samping nya.


Semua kebutuhan dan keperluan mas Ricard aku yang menangani kecuali satu, yaitu tidur bersama.


Aku dan mas Ricard berkomitmen untuk tidak melakukan hal diluar batas sebelum kita resmi menikah.


Mungkin kebanyakan orang bilang kalau seorang janda pasti akan merayu dan membuat pria terpuaskan, tapi itu bukan aku.


Status ku memang seorang janda, tapi untuk melakukan hubungan suami istri sama sekali aku belum pernah melakukan nya.


Dulu memang sempat aku tidur sekamar dengan mas Bagas pas di malam pertama, tapi aku tidur di sofa karena mas Bagas merasa jijik dekat dengan aku.


Mas Ricard aku ajak berziarah ke makam kakek dan juga makam kakek nya mas Bagas.


Mas Ricard mencari tahu letak makam nya kakek mas Bagas, sehingga aku dan mas Ricard bisa berziarah ke makam nya.


Mas Ricard mengusulkan untuk mencari tahu tentang kematian kakek nya mas Bagas, karena mas Ricard curiga dengan mas Bagas dan juga ibu nya, tapi aku melarang nya, karena bagi ku kakek sudah tenang di sana dan tidak perlu di usik lagi, walaupun memang kakek meninggal nya karena mas Bagas atau mamah Elsa, biar Tuhan saja yang membalas nya.


*******


"Sayang pulang nya kita mampir ke rumah mamah dulu ya, sekalian kamu aku kenalkan kepada mamah dan semua keluarga ku, kebetulan hari ini mereka sedang berkumpul di rumah." Ucap mas Ricard sambil membereskan meja kerja nya.


"Tumben mas mau mengenalkan aku ke keluarga mas, memang nya mas sudah benar-benar cocok sama aku?"


"Sayang, kalau tidak cocok dari kemarin-kemarin sudah aku buang kamu ke laut."


Aku tertawa mendengar ucapan dari mas Ricard, dan aku pun teringat pertemuan pertama ku dengan nya.


"Mas kamu ingat ngga pas pertama kita bertemu?"

__ADS_1


"Ya ingat lah sayang, mas tidak akan pernah melupakan dan sampai kapan pun mas tidak akan melupakan nya."


"Soswit nya calon suami aku." Ucap ku sambil mencubit sayang pipi mas Ricard.


"Ya sudah ayo kita pulang." Mas Ricard menarik tangan ku dan mengajak keluar dari ruangan nya.


Kita berdua berjalan dengan saling menggenggam tangan, terlihat dari kaca cermin yang sering ku lihat dan aku mengajak mas Ricard untuk berhenti dan menatap wajah kita di cermin besar itu.


"Semua ini ide siapa sih mas, sampai-sampai aku tertipu oleh kamu." Ucap ku sambil menata wajah mas Ricard di balik cermin.


"Sewaktu aku keluar negeri aku pernah melihat ruangan seperti ini, jadi mas ingin membuat nya sekalian mas bisa tahu yang masuk ke ruangan mas itu siapa saja." Aku hanya mengangguk tanda mengerti.


"Tahu ngga mas, dulu aku sampai bingung dengan bos tampan ku ini." Ucap ku.


"Bingung kenapa?"


"Bos ku itu selalu tahu apa yang sedang aku lakukan di ruangan ku hingga membuat aku penasaran dan terus mencari di sudut ruangan kali saja ada cctv terpasang di sana."


"Jadi kamu sudah tertipu oleh bos mu?"


"Sayang tunggu, kamu sudah mulai nakal ya sekarang." Teriak mas Ricard sambil mengejar ku dan masuk ke dalam lift.


Mas Ricard langsung memeluk ku dengan erat dan bahkan mas Ricard sempat mencium leher dan bibir ku.


"Mas, ini dalam lift nanti ada yang masuk lagi." Ucap ku yang lupa kalau yang kita pakai sekarang adalah lift rahasia nya mas Ricard.


"Siapa yang berani masuk lift ini, mereka ngga ada yang berani kecuali nona Yola yang sebentar lagi menjadi nyonya Ricard Anthony." Ucap mas Ricard dan kembali mencium pipi ku dengan mesra.


Ya Tuhan, aku tidak mau kebahagiaan ini berakhir, aku ingin terus hidup bahagia dengan mas Ricard.


Pintu lift terbuka aku dan mas Ricard keluar sambil bergandengan.


Seperti biasa nya mas Ricard tidak akan masuk ke dalam mobil sebelum aku duduk dengan nyaman duluan.


Setelah melihat aku sudah duduk dengan nyaman baru mas Ricard masuk dan duduk di belakang kemudi.

__ADS_1


Aku sempat menyuruh mas Ricard untuk mencari sopir untuk mengantar kan aku dan mas Ricard kemana pun, tapi mas Ricard ngga mau dengan alasan tidak bebas untuk berduaan.


Mas Ricard pun melajukan mobil nya, jujur hati ku merasa bergetar di kala aku mau di kenalkan dengan keluarga besar nya.


Banyak sekali ketakutan-ketakutan dalam diriku apalagi aku pernah punya mertua seperti mamah Elsa dulu.


"Mas, aku takut." Ucap ku dengan nada sedikit gemetar.


"Takut? Takut kenapa? Mas ajak kamu ke rumah mas bukan ngajak kamu terjun ke jurang." Ucap mas Ricard sambil fokus mengemudi.


"Aku taku keluarga mas tidak menerima aku apalgi dengan kedua orang tua mas." Ucap ku sambil menautkan jari jemari ku.


"Kamu tenang saja sayang, keluarga ku tidak seperti keluarga Bagas, mas yakin mamah dan papah akan menerima kamu dengan lapang dada." Mas Ricard menenangkan ku.


"Memang nya di rumah kamu lagi ada acara apa sih mas?" Tanya ku penasaran.


"Aniversary pernikahan papah dan mamah."


"Apa!," Aku berteriak kaget karena aku tidak membawakan hadiah untuk papah nya mas Ricard.


"Kenapa kamu kaget begitu?"


"Mas, kenapa ngga bilang dari siang, kan aku bisa beli hadiah dulu buat papah dan mamah kamu." Ucap ku dengan nada kesal.


"Sudah ngga usah kasih hadiah mereka, mereka sudah punya segala nya, cuma satu yang mereka belum punya."


"Apa?"


"Seorang menantu, dan itu akan mereka dapatkan di malam ini, aku akan memperkenalkan kamu sebagai menantu mereka." Ucap mas Ricard dengan bibir tersenyum.


Aku tersenyum malu mendengar nya, ada rasa bahagia dan juga ada rasa khawatir pada diriku, khawatir akan meredupkan senyuman di bibir nya mas Ricard, aku khawatir mereka menolak ku.


Ku lihat bibir mas Ricard tersenyum, tangan nya yang sebelah kiri terus menggenggam tangan ku hingga mobil mas Ricard berhenti di depan sebuah rumah besar.


Aku merasa minder dengan mas Ricard, rumah yang besar belum lagi mobil-mobil mewah berjejer di halaman nya.

__ADS_1


__ADS_2