
Kini seisi cafe menjadi riuh, mereka semua membicarakan tentang apa yang sedang mereka lihat di depan mata nya.
Mereka semua kaget ketika melihat wajah yang ada di video, mereka semua melihat ku dan kembali melihat ke arah layar, mungkin mereka ingn jelas melihat apa yang mereka lihat itu benar atau tidak nya.
Wajah mas Bagas seketika ku lihat merah padam, dia mungkin malu dan marah sama aku, itu semua terlihat dengan tatapan yang sangat tajam nya kepada ku.
Aku menggenggam tangan mas Ricard dengan erat karena takut dengan tatapan dari mas Bagas.
"Sudah jangan takut, ada aku yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu." Bisik mas Ricard seakan-akan dia tahu kalau aku sedang takut.
Aku hanya mengangguk kan kepala ku, jantung ku sedikit berdebar karena aku takut mas Bagas murka dan menindas ku.
Tubuh ku yang sedikit gemetar dan jantung ku yang berdegup kencang kini sudah tidak terlalu dan merasa tenang setelah mas Ricard menenangkan aku.
"Mas, bukan nya kata kamu mengirim video nya sudah di edit?" Tanya ku dengan penasaran.
"Mas sudah mengedit nya kok sayang, kalau belum mas edit mana mungkin si Bagas itu mau memutar nya di depan umum seperti ini."
"Betul juga ya mas, tapi siapa yang punya video nya selain kamu."
"Entahlah sayang, nanti aku akan mencari tahu nya."
"Mas Bagas."
"Bagas."
Teriak Elena dan mamah Elsa secara bersamaan, mereka berdua kaget karena yang ada di dalam video itu terlihat jelas kalau yang melakukan nya bukan aku dan mas Bagas melainkan wanita lain, mungkin mereka berdua malu dan kecewa karena yang ada di video tersebut bukan aku.
"Matikan video nya dan kembalikan ponsel saya." Teriak mas Bagas dengan wajah murka nya dan tanpa memperdulikan istri dan ibu nya.
Pelayan yang sedang memegang ponsel nya mas Bagas menghampiri dan memberikan ponsel nya.
Mas Bagas langsung mematikan ponsel nya dengan wajah marah.
Seisi cafe kembali riuh karena mereka merasa heran dengan video yang masih memutar sedangkan ponsel nya sudah di matikan oleh mas Bagas.
"Bajingan, siapa yang memutar video nya, matikan segera atau ku bakar cafe ini." Teriak mas Bagas sambil menendang kursi yang ada di dekat nya hingga suasana pun semakin riuh di buat nya.
__ADS_1
"Bagas cukup! sekarang kita pergi dari sini dan jelaskan semua nya kepada mamah." Teriak mamah Elsa.
Mas Bagas menatap ku dengan penuh amarah seolah-olah dirinya ingin memangsa ku.
Aku yang takut dengan tatapan dari mas Bagas memeluk erat tubuh mas Ricard sambil menyembunyikan wajah ku di dada nya.
"Tenang sayang, kamu jangan takut, mas ada di sini." Bisik mas Ricard menenagkan aku.
Mamah Elsa menarik tangan mas Bagas dan membawa nya pergi ke luar dari cafe dan di ikuti oleh Elena istri nya mas Bagas.
Para pengunjung cafe kembali riuh melihat mereka bertiga keluar dari cafe dan mencemooh nya, ada juga sebagian dari mereka yang menyoraki nya.
Para pengunjung cafe sudah mulai tenang sejak kepergian keluarga mas Bagas, video juga sudah di matikan.
Sebagian para pengunjung cafe menghampiri ku dan mereka meminta maaf atas persepsi yang salah yang ada di benak mereka, aku memaafkan mereka dan sebalik nya aku juga meminta maaf kepada mereka karena dengan ada nya kejadian tadi sudah membuat mereka tidak nyaman melakukan makan siang nya.
Mas Ricard memanggil manager cafe nya untuk meminta maaf karena sudah membuat gaduh dan membuat semua nya tidak nyaman.
"Anda manager nya?" Tanya mas Ricard kepada seorang pria di depan nya.
"Saya minta maaf atas kegaduhan tadi, dan ini saya bawa uang cash sedikit untuk mengganti kerugian." Ucap mas Ricard sambil memberikan segepok uang kepada pak manager cafe.
"Darimana mas Ricard punya uang sebanyak itu? Bukan nya dia hanya seorang pelayan dan sekarang hanya menjadi asisten ku, sedangkan uang nya saja kemarin sudah habis banyak di pakai operasi di luar negeri oleh ku." Aku bertanya-tanya dalam hati sambil menatap mas Ricard.
"Tapi ini terlalu banyak tuan."
"Ngga apa-apa, ambil saja uang ini, anda bayar makanan yang sudah dia pesan tadi, terus anda ganti kursi yang dia rusak itu dan sisa nya anda bagikan kepada semua pelayan yang ada di sini, bagaimana pun mereka tadi sempat kaget dengan kejadian yang tidak terduga sama sekali."
"Baik tuan, nanti saya akan membagikan nya kepada mereka, sekali lagi terima kasih banyak." Ucap pak manager itu dengan wajah senang nya.
"Tunggu sebentar, jawab dengan jujur dari mana kalian bisa punya video tadi? siapa yang memberikan nya kepada kalian?" Tanya mas Ricard dengan wajah serius nya.
"Itu tadi dari_ em,_"
"Saya yang sudah menyuruh mereka memutar nya dan saya juga yang memberikan nya kepada mereka." Teriak seorang pria.
Aku dan mas Ricard langsung menoleh ke arah suara yang sudah kita kenal.
__ADS_1
"Kak Leo." Gumam ku sambil menatap kak Leo.
Kak Leo tersenyum lalu menghampiri aku dan mas Ricard sambil menggandeng tangan Lea.
"Kalian juga di sini?" Tanya mas Ricard.
"Maaf tuan, kalau begitu saya permisi kembali ke belakang." Ucap pak manager dengan sopan.
"Silahkan, dan jangan lupa uang nya bagikan kepada mereka dengan adil."
"Baik tuan."
"Kakak dari mana kakak punya video tadi?" Tanya ku kepada kak Leo.
"Kakak akan ceritakan semua nya, tapi kita sambil makan, kakak sudah menahan lapar dari tadi gara-gara harus memutar video adegan orang yang tidak berguna itu." Ucap kak Leo sambil duduk.
"Ya sudah kalau begitu kita pesan makanan di sini saja, lagian kita juga sudah lapar." Ucap mas Ricard.
"Mas." Teriak ku dengan spontan membuat mereka yang mendengar nya menatap ku.
"Kenapa sayang? Ada apa?" Tanya mas Ricard dengan wajah khawatir nya.
"Aku sudah terlambat." Ucap ku ambigu.
"Apa! Terlambat? jadi kalian berdua sudah?" Tanya Lea sambil menatap ku curiga.
"Sudah apa? pikiran mu ya Le." Ucap ku yang tahu arah pembicaraan Lea kemana.
"Lah terus terlambat apa kalau bukan terlambat bulan?"
"Aku itu terlambat pergi ke kantor Lea, bukan terlambat bulan." Jawab ku dengan sedikit kesal.
Ku lihat mas Ricard dan kak Leo tersenyum mendengar perdebatan antara aku dan Lea.
"Sudah sayang kamu tenang saja, aku sudah izinkan kamu tadi." Ucap mas Ricard santai.
"Kapan mas minta izin, bukan nya dari tadi mas tidak membuka ponsel?" Tanya ku sambil menatap mas Ricard.
__ADS_1