
Siang ini mas Ricard ngajak aku pergi ke salah satu toko perhiasan ternama.
Semenjak turun dari mobil tangan mas Ricard terus menggenggam tangan ku.
"Mbak tolong carikan sepasang cincin buat lamaran." Ucap mas Ricard kepada pelayan di toko itu.
"Baik tuan, ini ada model terbaru dan limited edition barang kali tuan dan nona menyukai nya." Ucap nya sambil memberikan sepasang cincin yang sangat bagus sekali.
"Wow. bagus sekali, aku coba ya." Ucap ku sambil memasukan cincin nya ke jari manis ku.
Cincin ini sangat bagus dan sangat cantik berada di jari ku, aku menatap nya kagum.
"Cantik sayang, cincin itu cocok di jari kamu, bagaimana? Kamu suka?" Tanya mas Ricard.
"Suka mas."
"Ya sudah mbak bungkus yang ini saja." Ucap mas Ricard.
"Mas, jangan yang ini, yang ini harga nya pasti mahal yang biasa saja." Aku merasa ngga pantas memakai cincin mahal itu.
"Sudah yang itu saja, cincin itu sangat cocok dan cantik kalau berada di jari kamu."
"Ngga mas, yang biasa saja."
"Ngga, pokok nya yang itu, bungkus aja mbak."
"Jangan mbak."
Aku dan mas Ricard pun terus berdebat membuat pelayan toko perhiasan itu hanya diam dan terus melihat ke arah kita.
"Mbak, bungkus saja." Ucap mas Ricard sambil memberikan sebuah kartu yang berwarna hitam.
Mbak pelayan itu pun mengambil kartu dan memasukan kotak perhiasan nya ke sebuah paper bag.
Aku pasrah melihat kelakuan mas Ricard, bukan nya aku ngga suka, sumpah demi apa pun aku sangat menyukai cincin itu, tapi aku ngga mau mas Ricard dan keluarga nya mengira kalau aku ini matre.
*******
[ Pov Caca ]
"Kenapa sih harus di tempatkan di perusahaan yang ini, aku itu mau nya di perusahaan pusat, dimana di sana ada kak Ricard nya, kalau begini kapan aku mau membuat kak Ricard jatuh ke dalam pelukan ku." Gumam bathin Caca.
Caca dengan terpaksa menerima tawaran dari Ricard untuk bekerja di perusahaan lain nya.
__ADS_1
"Pah, suruh kak Ricard kesini dong sekali-sekali, biar kak Ricard ajarin Caca, kalau yang ngajarin orang lain apalagi cowok, Caca merasa ngga enak, apalagi Caca kan anak baru di sini." Ucap Caca kepada pak Anwar.
"Ya, nanti papah yang bicara sama Ricard."
"Makasih ya pah."
"Ya sudah kamu coba pelajari saja pelan-pelan."
"Baik pah."
"Kalau begitu papah pergi dulu ya, papah ada janji dengan klien."
"Oke, hati-hati pah."
Sepeninggal pak Anwar Caca mempelajari pekerjaan nya, sebentar-sebentar Caca bertanya dengan orang yang ada di dekat nya.
Tak terasa waktu pun terus berjalan, hingga jam sudah menunjuk kan jam makan siang.
"Hai anak baru, kita ke kantin yuk." Ajak Feni.
"Saya Caca." Ucap Caca sambil mengulurkan tangan nya.
"Aku Feni." Jawab Feni sambil membalas uluran tangan Caca.
Mereka berdua pergi ke kantin sambil bercerita, kadang mereka tersenyum kadang juga serius seperti orang yang sudah lama berteman.
"Maaf pak saya ngga sengaja." Ucap Caca.
"Ngga apa-apa, maaf saya juga ngga melihat nya." Jawab Bagas lalu pergi dan duduk di kursi nya.
Ya, orang yang sepatu nya ke injak Caca adalah Bagas mantan bos perusahaan tempat Caca bekerja sekarang.
"Dia karyawan juga? Kerja nya bagian apa?" Tanya Caca sambil terus melihat ke arah Bagas.
"Iya dia kepala gudang." Jawab Fani.
Kini mereka sudah duduk saling berhadapan dan siap menyantap makan siang nya.
"Menurut ku dia itu ngga pantas lo jadi kepala gudang, dia itu cocok nya jadi presdir, wajah nya lumayan tampan dan perawakan nya pun lumayan sedikit berwibawa sih menurut ku." Ucap Caca sambil menikmati makan siang nya.
"Dulu dia memang yang punya perusahaan ini."
"What! Kok bisa sekarang dia jadi kepala gudang." Ucap Caca dengan nada sedikit tinggi, untung suasana kantin sedang ramai karena memang jam makan siang, jadi ngga ada yang mendengar ucapan dari Caca.
__ADS_1
"Berarti kak Ricard membeli nya dari dia, dan dia melamar pekerjaan di sini." Gumam Caca di dalam hati nya.
"Jangan kenceng-kenceng, nanti ada yang mendengar." Ucap Fani sambil menepuk tangan Caca.
"Iya maaf, habis nya aku kaget dengan jawaban dari kamu, masa iya yang punya perusahaan menjadi kepala gudang."
"Ya sudah aku ceritakan awal mula nya pak Bagas menjadi kepala gudang sekarang, jadi pak Bagas itu_." Belum juga Feni melanjutkan ucapan nya, Caca sudah memotong nya.
"Jadi dia itu nama nya Bagas?"
"Ya dia itu pak Bagas, memang dulu nya perusahaan ini milik kakek nya, tapi setelah pak Bagas menikah dengan Yola perusahaan ini langsung di berikan kepada nya."
"Apa! Yola." Lagi-lagi Caca kaget di buat nya.
"Pelan-pelan." Ucap Feni sambil menepuk tangan Caca kembali.
"Iya maaf-maaf."
"Memang nya kamu kenal dengan Yola?" Tanya Feni sambil menatap Caca.
"Ngga, aku cuma spontan saja tadi, aku kira Yola sepupu aku, padahal sepupu aku itu masih sekolah." Caca sengaja tidak langsung mengakui kalau dirinya kenal dengan Yola, Caca ingin mengorek lebih dalam lagi masalah Bagas dan Yola.
"Kamu ini, sudah mau di lanjut lagi ngga cerita nya?" Tanya Feni.
"Lanjut dong, aku jadi penasaran dengan kisah nya, bisa-bisa nya dari seorang bos perusahaan kini bekerja hanya menjadi kepala gudang."
*******
"Mas, seharusnya beli cincin yang biasa aja, ini terlalu mahal untuk ku." Ucap ku yang sudah duduk di samping mas Ricard.
Setelah kita berdua membeli cincin dan makan, kita memutuskan untuk pulang.
"Sudah jangan di bahas lagi, dari tadi bahas cincin melulu." Ucap mas Ricard sambil melajukan mobil nya.
"Aku ngga enak saja mas sama kamu, dari pertama kita bertemu, kamu sudah benyak sekali membantu aku, aku jadi bingung harus membalas nya bagaimana."
Mas Ricard menepikan mobil nya lalu menghadap ke arah ku.
"Cukup kamu mencintai dan menyayangi mas dengan setulus hati kamu." Ucap mas Bagas sambil tersenyum.
Aku menatap ke dua mata nya, sungguh indah sekali mata mas Ricard ini, entah kenapa aku tiba-tiba memejamkan kedua mata ku dan tidak lama ada benda kenyal menyentuh bibir ku.
Kenyal dan manis yang aku rasakan, mungkin karena sering nya aku di cium oleh mas Ricard, sekarang aku tidak kaku lagi untuk membalas ciuman nya.
__ADS_1
Ciuman kita berdua terlepas ketika ada yang mengetuk kaca mobil mas Ricard.
Aku dan mas Ricard langsung melepaskan ciuman kita dan sedikit menjaga jarak.