
Waktu terus berlalu, tidak terasa kini Rafaizan yang sering di panggil Izan sudah berusia tiga bulan, dan saat ini baby Izan sedang lucu-lucu nya.
Para orang tua semakin hari semakin sering heboh dan selalu memperebutkan baby Izan.
Selama tiga bulan ini baby Izan selalu tidur di kamar aku dan mas Ricard karena baby Izan masih menyusui.
Malam ini aku sudah siap untuk melayani mas Ricard yang selama tiga bulan ini tidak dia dapatkan.
Aku sengaja memakai sebuah lingerie yang dulu di belikan oleh mamah.
Aku tahu selama tiga bulan ini mas Ricard selalu menahan nya, aku suka melihat jakun mas Ricard turun naik di kala dia melihat baby Izan sedang mengisap asi nya.
Sebelum aku menggoda mas Ricard aku memberikan asi yang cukup buat baby Izan dengan harapan baby Izan akan tidur nyenyak dan tidak akan mengganggu aku dan mas Ricard malam ini.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka membuat aku menoleh dan menatap kepada mas Ricard.
Aku tersenyum begitu melihat tatapan mas Ricard yang seakan-akan ingin memangsa ku.
"Sampai segitu nya kamu melihat aku mas." Ucap ku dengan bibir tersenyum.
"Kamu jangan menggoda ku sayang, nanti kalau aku khilaf bagaimana?'
"Syut jangan berisik mas, nanti baby Izan terbangun." Ucap ku lalu membaringkan baby Izan ke dalam box bayi yang sudah di persiapkan oleh mamah.
Lagian kamu mancing-mancing sih." Ucap mas Ricard sambil memeluk ku dari belakang.
"Mancing apa sih mas, aku kan sudah sering pakai baju ini, lagian aku gerah maka nya aku pakai." Ucap ku pura-pura.
Mas Ricard terus mencium tengkuk ku hingga bulu yang ada pada tubuh ku meremang, aliran darah terasa mengalir dari atas sampai bawah karena sudah tiga bulan aku pun tidak merasakan ke kejantanan mas Ricard.
"Tapi aku kan belum boleh mencicipi nya." Bisik mas Ricard dengan ke dua tangan nya yang sudah melanglang kemana-mana.
"Mas." Bisik ku pelan karena takut baby Izan terbangun.
__ADS_1
"Sudah boleh belum sih sayang?" Tanya mas Ricard dengan suara yang pelan.
Aku membalikan tubuh ku hingga kini kita saling berhadapan.
Aku langsung meraup bibir mas Ricard dan melahap nya bak orang yang lagi kehausan yang berada di tengah-tengah gurun pasir.
"Sayang please, aku sudah ngga tahan." Ucap mas Ricard setelah melepaskan pagutan nya.
"Kamu sudah ngga tahan ya mas, kalau begitu kamu diam dan rasakan saja." Ucap ku lalu menarik tangan mas Ricard dan menyuruh mas Ricard untuk berbaring.
"Sayang, memang nya sudah ***_eh."
Aku langsung meraup bibir mas Ricard kembali dan naik ke atas tubuh nya.
"Kalau belum boleh mana mungkin aku melakukan ini." Ucap ku setelah melepaskan ciuman ku.
"Kenapa kamu ngga bilang dari tadi, kamu sengaja ya biar mas tersiksa terus." Ucap mas Ricard sambil membalikan tubuh ku hingga kini aku berada di bawah nya.
"Sudah boleh kan?" Lagi-lagi mas Ricard bertanya karena takut dirinya salah mendengar.
Kini aku hanya memakai dalaman saja dan itu membuat ke dua mata mas Ricard semakin berkabut, jakun nya yang sudah turun naik dari tadi serta adik kecil nya yang sudah terlihat menegang dan sangat menantang.
Tanpa basa basi lagi mas Ricard langsung menikmati seluruh tubuh ku, mas Ricard mencium ku dari atas hingga sampai bawah di mana yang paling bawah adalah tempat favorit nya.
Aku hanya menikmati setiap sentuhan yang mas Ricard berikan untuk ku, tidak munafik karena aku juga wanita normal yang sudah tiga bulan tidak merasakan nya.
Kita berdua saling memberikan kepuasan satu sama lain hingga akhir nya mas Ricard me masukan adik kecil nya ke tempat favorit nya.
"Oek, oek, oek." Sontak mas Ricard langsung terdiam sambil melihat ke arah ku.
"Mas, baby Izan bangun, sebentar ya." Ucap ku sambil sedikit mendorong tubuh mas Ricard.
Dengan wajah sedikit kesal mas Ricard menggeser posisi tubuh nya sambil mengusap kasar wajah nya.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum lalu menghampiri baby Izan yang sedang menangis.
"Iya sayang, kamu lapar lagi ya?" Tanya ku sambil menggendong baby Izan.
"Oh rupanya kamu pipis sayang." Ucap ku karena aku merasakan basah di tangan ku.
"Kenapa kamu ngga memakai kan nya pampers sih sayang?" Tanya mas Ricard dengan wajah kesal nya.
"Ya kan tadi baby Izan nya sudah tertidur, aku takut mengganggu tidur nya." Ucap ku sambil merebahkan baby Izan dan memakai kan pampers.
setelah aku memakaikan Pampers aku kasih asi lagi kepada baby Izan dengan harapan baby Izan akan tertidur lagi dengan nyenyak.
Selama aku memberikan asi, tangan mas Ricard tidak bisa diam, ke dua tangan nya terus berkelana ke seluruh tubuh ku hingga membuat aku merasa sudah ngga tahan lagi.
"Mas, tunggu sebentar dong, biar Baby Izan nya tidur dulu." Ucap ku dengan sangat pelan.
Mas Ricard tidak mendengarkan ucapan ku dan terus saja menyentuh tempat-tempat yang sangat sensitif hingga membuat aku harus terus menahan nya sampai baby Izan benar-benar kenyang dan terlelap.
"Mas minggir dulu, aku mau menidurkan baby Izan." Ucap ku pelan.
Mas Ricard pun dengan secara terpaksa menjauhkan ke dua tangan nya.
Aku kembali merebahkan baby Izan yang sudah terlelap.
"Aw." Ucap ku sedikit berteriak karena kaget mas Ricard langsung menggendong ku setelah aku berhasil menidurkan baby Izan.
"Jangan teriak, nanti saingan mas bangun." Ucap mas Ricard lalu membawa dan merebahkan tubuh ku d atas tempat tidur.
Mas Ricard yang sudah menahan nya tiga bulan ini langsung melancarkan aksi nya hingga membuat aku melayang.
Kita berdua saling memberikan yang terbaik dan saling memuaskan hingga akhir nya kita berdua kelelahan dan terkulai lemas.
Baru juga sekitar lima belas menit aku mengatur nafas karena capek telah memuaskan mas Ricard, tiba-tiba tubuh mas Ricard sudah berada di atas tubuh ku kembali hingga membuat aku pasrah dan melayani keinginan mas Ricard kembali.
__ADS_1
Mas Ricard benar-benar sangat merindukan dan menginginkan nya hingga dia rela tidak tidur dan terus meminta ku untuk melayani nya dengan alasan mumpung baby Izan masih terlelap.