
Setelah kepergian Lea, aku memakai gaun yang memang sudah di siapkan untuk ku oleh mas Ricard.
Terdengar suara notif sebuah chat di ponsel ku membuat aku langsung membuka dan membaca nya.
"Kenapa mas Ricard ngga bilang tadi kalau aku harus pergi ke salon." Gumam ku lalu membalas pesan dari seseorang yang tidak aku kenal.
Aku hendak menghubungi mas Ricard, tapi aku melirik ke arah jarum jam, dan ternyata memang sudah tidak banyak waktu lagi hingga aku memutuskan untuk menemui orang suruhan mas Ricard.
"Ya sudah lah kalau begitu aku menemui nya saja, mungkin memang benar dia suruhan nya mas Ricard, kan tidak ada yang tahu aku tinggal di sini selain mas Ricard." Gumam ku lalu keluar dari kamar.
Aku melihat ada mobil di luar, "Mungkin itu dia orang nya." Gumam ku sambil melihat ke arah luar lalu aku menatap ke dalam rumah barangkali ada kak Leo dan Lea, aku ingin pamit kepada mereka, tapi meraka ngga ada entah dimana.
"Sudah lah, nanti saja aku hubungi mereka kalau sudah di salon." Gumam ku lalu menghampiri mobil yang kaca nya sangat tertutup.
Aku mengetuk kaca mobil, lalu seorang pria yang memakai topi dan sebuah kaca mata membuka kan pintu belakang tanpa melihat ke arah ku.
Aku sedikit curiga dengan nya, tapi ya sudah lah mungkin ini hanya perasaan aku saja.
Aku pun masuk dan duduk di kursi belakang, tanpa berbicara apa pun pria itu langsung mengemudikan mobil nya dengan sangat kencang dan mengunci pintu mobil nya.
"Pelan-pelan dong pak." Ucap ku sedikit takut.
"Biar cepat sampai." Ucap nya.
"Suara ini?" Aku terdiam dan mengingat suara pria itu.
"Kamu siapa? Kamu bukan suruhan mas Ricard kan?" Tanya ku dengan tubuh sedikit gemetar.
Aku mencari ponsel ku, dan ternyata aku lupa tidak membawa ponsel nya.
"Ya, aku bukan suruhan calon suami mu, aku adalah mantan suami mu." Ucap nya sambil membuka topi dan menatap ku.
__ADS_1
"Mas Bagas." Gumam ku.
"Rupanya kamu masih mengingat ku sayang." Ucap mas Bagas dengan senyum jahat nya.
"Tolong berhenti, turunkan aku mas, aku mohon." Aku memohon agar mas Bagas mau menghentikan mobil nya.
"Tidak semudah itu sayang, kamu sudah mengambil perusahaan ku dan aku tidak akan membiarkan nya jatuh ke tangan mu." Ucap mas Bagas.
"Aku tidak mengambil nya, itu semua karena ulah kamu sendiri." Ucap ku sambil menahan rasa takut yang mendera.
Mas Bagas terus melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi hingga kini mobil berhenti di sebuah gedung tua yang penerangan nya sangat minim sekali.
Mas Bagas menarik tangan ku dengan kasar lalu membekap mulut ku, aku terus berontak melawan, tapi tenaga mas Bagas lebih kuat dari ku, hingga aku memilih pasrah dan terus berdo*a.
Aku di masuk kan nya ke dalam gedung tua itu, dengan seringai jahat nya mas Bagas mengikat kedua tangan ku dengan tali yang sudah dia persiapkan.
"Tolong, siapa pun tolong aku." Teriak ku di kala ke dua tangan ku di ikat oleh mas Bagas.
"Teriak saja sesuka hatimu, sampai kamu kehabisan suara pun ngga bakalan ada yang mendengar nya." Ucap mas Bagas.
"Kamu sudah mempermalukan aku di depan orang banyak, kamu sudah menghancurkan hidup dan karir ku, kamu sudah merebut perusahaan ku hingga hidup ku sekarang hancur dan tidak punya apa-apa, jadi sekarang lah waktu nya kamu akan aku buat hancur se hancur-hancur nya sampai kamu menganggap diri kamu tidak berguna lagi untuk hidup." Ucap mas Bagas.
Mas Bagas terus memeluk ku dan berusaha untuk mencium ku, dengan tenaga sisa yang aku punya aku angkat kaki ku lalu ku tendang burung nya mas Bagas hingga mas Bagas mengaduh kesakitan dan sedikit menjauh dari tubuh ku.
"Brengsek kamu, sudah berani rupanya kamu melawan ku." Teriak mas Bagas sambil memegang burung nya.
Selagi mas Bagas merasakan kesakitan, aku berusaha untuk melepaskan ikatan yang mengikat kedua tangan ku.
Dengan susah payah dan seuat tenaga aku melepaskan nya, akhirnya tali itu sedikit longgar.
Ku lihat mas Bagas kembali bangun dan menghampiri ku dengan langkah yang sedikit menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Berani sekali kamu melawan ku." Ucap mas Bagas sambil menarik rambut panjang ku hingga kepala ku ikut tertarik ke belakang.
"Cuih." Aku pun langsung meludahi nya hingga wajah mas Bagas penuh dengan air lir ku.
"Ba ji ngan!" Teriak mas Bagas sambil mengusap wajah nya.
Mas Bagas terlihat marah lalu dengan kasar dia berusaha mencium ku.
Bersamaan dengan itu tangan ku pun terlepas dari ikatan tali dan dengan cepat aku memukul wajah mas Bagas.
"Plak, plak, plak." Beberapa kali aku memukul nya hingga tangan mas Bagas menahan tangan ku.
Aku di dorong nya dan di tempelkan ke dinding hingga membuat aku tidak bisa melawan nya lagi.
"Aku mohon, lepaskan aku." Aku terus memohon agar mas Bagas melepaskan aku.
"Lepas? Kamu mau aku lepaskan? Baik! Sekarang aku lepaskan." Ucap mas Bagas sambil menarik gaun yang sedang aku pakai sampai gaun itu robek.
"Tidak! Mas Ricard, maaf kan aku, aku tidak bisa menjaga gaun yang sudah kamu pilihkan untuk malam ini." Gumam ku sambil menitik kan air mata.
Aku merasa bersalah dengan mas Ricard karena aku ngga bisa menjaga gaun cantik yang sudah di pilihkan nya untuk ku.
"Ya Allah, tolong hadirkan seseorang untuk menolong ku, mas Ricard tolong aku mas, aku butuh kamu sekarang." Gumam ku dalam hati.
Aku terus berdo*a di dalam hati agar ada seseorang yang mau menolong ku walaupun itu tidak mungkin karena posisi gedung ini jauh dari keramaian.
Mas Bagas terus menarik gaun ku hingga robek dan kini tinggal dalaman ku yang tersisa.
Aku terus memukul sembarangan tubuh mas Bagas hingga tenaga ku mulai melemah dan pasrah karena sudah kehabisan tenaga, hanya air mata yang terus menetes.
"Mas Ricard, seandainya malam ini kesucian ku harus terenggut oleh mas Bagas, aku minta maaf, dan aku akan pergi dari kalian semua nya, aku ngga mau kamu menanggung malu karena aku."
__ADS_1
Aku sudah lelah dan pasrah dengan apa yang akan di lakukan mas Bagas kepada ku, aku hanya bisa berharap dan berdo*a agar ada orang yang mau menolong aku.
Di pikiran ku terus terlintas wajah mas Ricard dengan senyuman nya.