
Hari berlalu dengan seiring nya jarum jam, hari-hari seperti biasa nya mereka lewati dan tidak ada yang berubah, dimana pagi hari mereka berangkat kerja dan sore hari mereka pulang dan istirahat di rumah.
Waktu terus berjalan hingga acara lamaran pun tinggal dua hari lagi.
Semua persiapan sudah mereka siapkan, Leo menyuruh bi Narsih membawa saudara atau teman nya untuk membantu membuat makanan sedikit banyak dan juga untuk membereskan rumah nya.
Leo ngga mau bi Narsih kerepotan sendiri, dan tidak lupa Leo juga sudah menyiapkan baju couple dengan Lea.
Aura Yola semakn bersinar apalagi seyuman nya selalu menghiasi bibir nya setiap hari.
Ricard yang memang sudah ngga sabar dengan acara lamaran tersebut semakin gelisah, dia takut acara nya gagal, hati nya sudah ngga sabar ingin segera waktu nya tiba.
Semua orang terlihat bahagia karena tidak lama lagi mereka akan segera melaksanakan acara lamaran tersebut, tapi tdak dengan Caca, hati nya semakin panas dan terbakar api cemburu.
******
Hari ini mas Ricard mengajak ku berkunjung ke perusahaan mas Bagas, awal nya aku ngga mau, tapi mas Ricard meyakin kan aku kalau dia akan selalu menjaga ku.
"Mas akan memperkenalkan kamu ke semua karyawan mas kalau kamu adalah calon istri mas." Ucap mas Ricard dengan senyuman manis nya.
"Mas, bukan nya Caca ada di kantor itu?" Tanya ku yang baru ingat kalau Caca ada di sana.
"Iya sayang, memang nya kenapa?"
"Ngga, aku hanya takut dia berulah lagi sama kamu."
"Kan ada kamu, mas yakin kamu bisa membuat Caca merasa tersingkir,." Ucap mas Ricard lalu menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Kenapa mas?" Aku penasaran kenapa mas Ricard sampai menghembuskan nafas kasar nya.
"Mas ngga nyangka saja sayang, mas itu sudah sangat menyayangi nya sebagai adik mas sendiri, papah dan mamah juga menyayangi nya seperti ke anak kandung sendiri, tapi kenapa sekarang dia seperti itu, dia memang baik kepada kita semua, dia juga penurut, tapi kenapa dia harus menyimpan rasa untuk mas, apa selama ini mas terlalu berlebihan memanjakan nya?"
"Mas, menurut aku mas dan semua nya tidak salah, kalian semua menyayangi dan memanjakan nya karena kalian mengharapkan kehadiran nya apalagi om dan tante, mereka sangat mengharapkan sekali dengan seorang anak, tapi sikap Caca lah menurut aku yang berlebihan dan tidak tahu diri, seharus nya Caca bersyukur sudah mendapat kan kasih sayang dari mereka para orang tua yang baik dan sangat menyayangi nya, aku saja dari dulu ingin disayang sama ke dua orang tua ku sampai sekarang belum terlaksana."
"Sebentar lagi kamu akan mendapatkan kasih sayang itu dari papah dan mamah, oh iya memang nya kamu ngga penasaran sayang dengan orang tua kamu?"
__ADS_1
"Dulu sih aku sangat penasaran dan ingin sekali bertemu dengan mereka, tapi sekarang aku sudah ngga perduli lagi, aku sudah lelah dan capek terus berharap mas, mungkin mereka memang tidak menginginkan kehadiran ku."
"Jangan bersedih, mulai sekarang ada mas, mamah dan papah yang akan selalu menjaga dan menyayangi kamu." Ucap mas Ricard sambil menggenggam tangan ku.
Ucapan mas Ricard membuat hati ku tenang dan bahagia, walaupun aku tidak menadapat kan kasih sayang dari ke dua orang tua ku, tapi aku akan mendapatkan semua kasih sayang itu dari keluaraga mas Ricard.
Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan berbakti kepada mereka, aku akan mengabdikan seluruh hidup ku untuk keluarga mas Ricard.
"Ayo kita turun." Ucap mas Ricard lalu keluar dari mobil.
Aku keluar setelah mas Ricard membuka kan pintu nya, sungguh semenjak kenal dengan mas Ricard aku di perlakukan bak seperti seorang ratu, hingga aku melupakan kapan terakhir aku mengeluarkan air mata kesedihan.
Mas Ricard memeluk pinggangku dengan mesra, aku melangkahkan kaki ku di samping mas Ricard.
Awal masuk ke dalam perusahaan, mata para karyawan langsung menatap aku dan mas Ricard.
Aku merasa ngga percaya diri karena mereka melihat ku.
"Ngga usah grogi, ada mas yang akan selalu menjaga kamu." Bisik mas Ricard.
"Selamat datang pak Ricard." Ucap para karyawan sambil menunduk hormat.
"Baik pak."
Aku melihat ke arah mereka seperti ada rasa ke khawatiran dengan kedatangan mas Ricard ini, mungkin mereka belum siap dengan meeting dadakan yang akan di lakukan mas Ricard.
"Ayo sayang." Mas Ricard pun mengajak ku menuju ke ruang meeting.
"Mas, aku mau ke toilet." Ucap ku.
"Toilet yang di dalam ruangan saja sayang."
"Ngga usah mas, toilet karyawan saja."
"Ya sudah mas antar." Ucap mas Ricard.
__ADS_1
"Ngga usah mas, mas tunjukin saja toilet nya dimana."
Terlihat ada seorang office girl sedang membersihkan kaca.
"Kamu, sini sebentar." Pnaggil mas Ricard.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya office girl yang bernama Mega itu.
"Tolong kamu antarkan calon istri saya ke toilet, lalu nanti kamu antar kan ke ruang meeting."
"Baik pak."
"Ya sudah mas tunggu di ruang meeting ya sayang."
"Iya mas."
Aku pun pergi ke toilet dengan di antar Mega, aku tahu nama nya dari name tag yang tersemat di baju nya.
"Ayo nona ikuti saya." Ucap Mega sambil mulai melangkah.
Aku mengikuti langkah Mega menuju toilet, "Kamu tunggu di sini ya, jangan kemana-mana." Ucap ku, aku takut nanti ngga bisa menemukan ruang meeting nya.
"Baik nona."
Aku masuk dan meninggalkan mega di luar, untung toilet nya kosong jadi dia agak sedikit nyaman.
Ketika aku mau membuka pintu toilet terdengan ada beberapa karyawan wanita masuk ke toilet dan mendengar nama mas Ricard mereka sebut hingga membuat aku terdiam dan memutuskan untuk diam dan tidak keluar dari toilet.
"Eh kalian lihat ngga tadi wanita yang bersama pak Ricard?" Tanya seorang wanita.
"Ngga, kenapa gitu? Memang nya ada pak Ricard ya kesini?" Tanya teman nya.
"Dia itu sangat cantik sekali, body nya, uh body kita-kita mah lewat, dia itu udah cantik langsing ramah lagi, begitu masuk ke dalam kantor ini, senyuman nya terus mengembang, dan kalian tahu ngga, seperti nya pak Ricard sangat mencintai nya, terlihat pak Ricard terus menggandeng dan memeluk pinggang nya dnegan sangat mesra, mereka itu sangat serasi kalau menurut ku."
"Tapi yang aku dengar kekasih nya pak Ricard itu mantan nya pak Bagas yang gendut itu kan?"
__ADS_1
Aku memutuskan keluar dari dalam toilet sebelum mereka melanjutkan acara gosip nya.
"Nona." Ucap seorang karyawan wanita yang melihat ku di saat aku pertama masuk ke perusahaan ini.