Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Jadi penonton


__ADS_3

[ Pov Leo ]


Kita makan di dekat kantor Yola yuk sayang." Ajak Leo kepada Yola.


"Ya sudah ayo mas, siapa tahu ada Yola juga jadi kita bisa makan bersama." Ucap Lea.


Leo dan Lea pun menuju cafe yang berada di seberang kantor nya Ricard.


Mobil Leo pun memasuki pelataran parkir cafe dan berhenti.


"Itu kan kantor nya mas?" Tanya Lea sambil menunjuk ke arah bangunan tinggi di seberang cafe.


"Ya itu kantor nya bos Ricard, dan masih ada beberapa cabang lagi, dan sebenar nya cafe ini juga sudah menjadi milik nya." Ucap Leo.


"Wow, ternyata pak Ricard banyak sekali bisnis nya ya, tapi dia tidak memperlihatkan kalau dia itu seorang pria yang sukses hingga siapa pun yang melihat nya pasti menganggap pak Ricard itu hanya seorang pelayan biasa saja." Lea memuji Ricard.


"Ya, dan ini hanya sebagian kecil saja bagi dirinya."


"Tapi aku heran lo mas."


"Heran kenapa?" Tanya Leo sambil mengerutkan kening nya.


"Mbak Yola kan kerja di perusahaan nya pak Ricard, bahkan satu gedung lagi, apalagi kan mbak Yola itu sekertaris nya, tapi kok bisa ngga bertemu?" Lea sangat penasaran sekali.


"Itu lah bos, dia itu pintar dalam segala hal, Yola memang tidak melihat nya, tapi bos Ricard bisa melihat apa yang di lakukan Yola di ruangan nya." Ucap Leo yang memang sudah tahu seluk beluk kantor Ricard.


"Kok bisa? Apa ruangan mbak Yola di penuhi cctv atau tersimpan cctv rahasia?"


"Tidak, bos tidak menyimpan cctv di ruangan Yola." Jawaban Leo membuat Lea semakin penasaran.

__ADS_1


"Terus kok bisa pak Ricard bisa melhat mbak Yola seharian?"


"Karena ruangan bos di kelilingi kaca dimana orang yang melihat ke arah ruangan nya dia sedang bercermin, tapi kalau dari dalam ruangan bos, maka dia melihat apa yang kita lakukan di luar ruangan nya." Jawaban dari Leo membuat Lea terdiam dan mencerna semua ucaan dari Leo.


"Wow, keren sekali, aku jadi penasaran dengan ruangan nya."


"Nanti suatu saat kamu juga pasti akan melihat nya, ya sudah ayo kita turun kita makan, kamu hubungi Yola untuk kesini." Ucap Leo lalu keluar dari dalam mobil di ikuti oleh Lea.


Leo menggandeng mesra tangan Lea dan masuk ke dalam cafe, terdengar samar-samar ada orang yang lagi ribut-ribut, sementara para pengunjung hanya bisa diam menikmati makanan nya sambil melihat keributan di depan nya.


"Ada apa ini?" Tanya Leo sambil melihat ke arah orang yang sedang membuat rusuh.


"Mas, itu mbak Yola, ayo kita kesana." Lea menarik tangan Leo dan menghampiri nya.


Terlihat oleh Leo kalau Bagas sedang melayangkan tangan nya untuk menampar pipi Yola.


"Jangan pernah menyakiti nya lagi dan jangan pernah menyentuh nya." Teriak Leo sambil menatap tajam ke arah Bagas.


Aku yang sedang memejamkan ke dua mata ku mendengar suara teriakan dari kak Leo membuat aku membuka ke dua mata ku dengan perlahan.


"Pak Leo." Gumam mbak Ratih yang sangat jelas aku mendengar nya, tapi aku mengabaikan nya karena aku melihat kak Leo yang ada di depan ku saat ini dan menolong aku dari sebuah tamparan dari mas Bagas.


"Kak Leo." Ujar ku dengan pelan, aku tersentak karena ada yang memeluk ku dari samping dan ternyata dia Lea yang selalu menguatkan aku dari dulu.


"Lea." Aku memeluk balik Lea, aku sangat beruntung selalu ada yang menolong dan menjaga ku, apalagi mereka itu orang-orang yang sangat menyayangi ku.


"Anda jangan ikut campur pak Leo, ini urusan saya dan mantan istri saya." Teriak Bagas penuh dengan emosi.


"Ini akan menjadi urusan saya karena Yola adalah adik saya." Ucap mas Leo dengan menekan kan kata-kata adik.

__ADS_1


"Adik? Adik ketemu gede maksud nya? Saya ini tahu siapa dia, dia itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, kalau anda mau memungutnya silahkan saja, aku sudah bosan dengan dia, lagian ya pak Leo dia itu wanita mu ra han yang selalu merayu para lelaki yang berduit." lagi-lagi ucapan mas Bagas membuat aku sangat sakit hati.


"Jaga mulut anda pak Bagas, anda tidak berhak bebicara seperti itu, anda akan tahu akibat nya kalau anda menyakiti nya." Terlihat kak Leo sangat marah dengan mas Bagas.


Aku di peluk oleh dua wanita, mereka menguatkan aku dan menenangkan aku ketika mereka mendengar ucapan dari mas Bagas.


Walaupun aku baru dekat dengan mbak Ratih, tapi aku tahu dan aku merasakan kalau mbak Ratih itu penyayang.


"Anda mengancam saya? Anda kira saya takut dengan ancaman anda? saya ini direktur perusahaan xxxx dan sebentar lagi akan melakukan kerja sama dengan perusahaan xxxx yang ada di seberang sana, anda tahu kan? Bukan kah anda pernah bilang kalau anda sangat dekat dengan nya? apa semua itu hanya kepalsuan belaka agar anda bisa berlindung kepada nya?"


Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan mas Bagas, apa benar kak Leo juga kenal dengan bos ku.


"Apa kak Leo juga kenal dengan bos ku." Gumam ku di dalam hati.


"Saya sangat mengenal anda sekali, tapi seperti nya di sini hanya anda saja yang tidak tahu siapa saya." Ucap kak Leo dengan bibir tersenyum yang penuh arti.


"Anda hanya pemilik restoran saja sudah sombong."


"Berarti anda tidak mengenal saya, karena bukan saya pemilik restoran mewah itu."


Aku sangat kaget mendengar ucapan dari kak Leo, kalau bukan kak Leo pemilik nya terus siapa?


"Oh jadi anda ini hanya seorang jongos, berarti benar dong kalau anda ini tidak dekat bahkan tidak mengenali bos perusahaan ternama itu, dan sekarang anda ingin menjadi jagoan dan melindungi wanita mu ra han ini, apa jangan-jangan anda juga sudah mencicipi nya." Ucapan mas Bahas membuat kak Leo emosi hingga dirinya melayangkan sebuah pukulan keras ke wajah mas Bagas hingga membuat semua orang yang melihat nya menjerit.


"Biarkan saya yang akan menghabisi nya." Ucap seseorang sambl menahan dan menarik tangan kak Leo.


"Bugh, bugh, bugh." Beberapa kali pukulan keras mengenai tubuh dan wajah mas Bagas membuat mas Bagas terhuyung dan jatuh ke lantai.


Mereka semua yang ada di dalam cafe tidak ada yang melerai bahkan menolong nya sekali pun, mereka hanya melihat dan benar-benar jadi penonton saja.

__ADS_1


__ADS_2