Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Menggertak


__ADS_3

"Biar saya yang bawa mobil nya." Ucap Leo sambil mengambil kunci mobil dari tangan Ricard lalu masuk dan duduk di belakang kemudi, Leo ngga mau kalau sampai Ricard yang mengemudi, Leo tahu kalau Ricard sedang marah biasa saja suka lupa sama nyawa nya sendiri apa lagi kalau sedang marah besar seperti sekarang.


Kini semua sudah masuk ke dalam mobil, semua nya tidak ada yang berani bicara.


"Tunggu mas sayang, mas tidak akan membiarkan laki-laki brengsek itu hidup jika terjadi apa-apa sama kamu." Gumam bathin Ricard sambil terus melihat ke arah layar laptop nya.


Sebenar nya bisa saja dia pindahkan ke ponsel nya, tapi karena Ricard sudah ngga sabar ingin segera menemukan Yola dirinya langsung mengambil laptop Leo tanpa seizin Leo.


Leo ngga mempermasalah kan laptop nya di bawa bahkan di hancurkan sekali pun sama Ricard, karena di pikiran mereka semua saat ini hanyalah keselamatan Yola.


Yola memang bukan siapa-siapa mereka, tapi Yola sudah menjadi orang yang ada di hati mereka, kebaikan dan kelembutan Yola sudah menghipnotis semua orang yang mengenal nya.


"Belok kanan." Ucap Ricard dengan serius.


Leo yang sedang mengemudi pun mengikuti apa yang diarahkan oleh Ricard.


"Nak, jangan sampai emosi mu menjadi sebuah penyesalan nanti, kamu harus bisa sedikit memperhitungkan nya." Ucap pak Anwar sambil mengelus bahu Ricard.


Ricard mendengar apa yang di ucapkan ayah nya, tapi dia tidak menjawab nya, dia fokus kepada titik dimana calon istri nya berada.


***********


"Saya menghormati kamu karena kamu anak nya om dan tante nya pak Ricard, seandainya saja kamu bukan anak mereka, sudah aku habisi kamu." Ucap Lea sedikit mengancam Caca.


Sebenar nya Lea sudah tahu kalau Caca ini hanya anak angkat dari mereka, tapi Lea tidak mengatakan nya karena itu bukan hak diri nya.

__ADS_1


"Memang nya kamu siapa mau menghabisi saya? Apa kamu adik nya si janda gatel itu?" Ucap Caca dengan tatapan yang meremehkan nya.


"Jaga bicara kamu." Ucap Lea yang sudah mulai tersulut emosi nya, jari telunjuk nya menunjuk tepat di depan hidung Caca.


Lea tidak terima Yola yang sudah dia anggap sebagai saudara nya di katain seperti tadi.


"Memang benar kan kalau dia itu seorang janda? Aku heran sama kak Ricard, kenapa harus memilih seorang janda kalau para gadis yang masih suci banyak termasuk aku." Ucap Caca dengan senyum smirk nya.


"Ya dia memang seorang janda, tapi dia janda terhormat di banding kan dengan seorang wanita yang mengaku masih suci." Lea orang yang ngga mau kalah dalam hal berdebat, jadi apa pun yang di ucapkan oleh Caca, Lea akan membalas nya.


"Maksud kamu, aku tidak terhormat gitu." Ucap Caca merasa kalau ucapan Lea tertuju kepada diri nya.


"Pikir saja sendiri, kamu itu wanita terhormat atau bukan? Kamu kan sekolah tinggi jadi kamu pasti tahu mana wanita terhormat dan mana wanita yang mu ra han." Ucap Lea sedikit menekan kan kata-kata mu ra han.


Lea sudah tahu semua cerita tentang Caca ini dari Yola, jadi Lea sedikit menekan kan kata-kata itu.


"Apa! saya ngga takut, saya sudah tahu semua nya." Ucap Lea sambil menatap dengan tatapan yang menantang.


"Kalian berdua memang wanita yang tidak tahu diri, yang satu janda gatel dan yang satu kegatelan."


"Lebih baik kita gatel kepada pasangan kita masing-masing, dari pada kita kegatelan kepada laki-laki yang sudah punya pasangan apalagi ada niat mau memisahkan nya, bukan kah itu yang nama nya sangat kegatelan? Atau mungkin orang seperti itu bisa di katakan orang yang tidak tahu diri." Ucap Lea membuat emosi Caca semakin meningkat hingga Caca melayang kan tangan nya dan hendak menampar pipi Lea, tapi Lea yang sudah antisipasi dari awal langsung meraih dan menggenggam erat tangan Caca hingga membuat Caca sedikit meringis karena sakit.


"Tak akan aku biarkan tangan kamu menyentuh kulit ku, dan jika itu terjadi aku akan membalas nya lebih dari sekedar sebuah tamparan." Ucap Lea lalu menghempaskan tangan Caca dengan kasar.


"Aw," Caca meringis sambil menyentuh tangan nya yang di genggam oleh Lea.

__ADS_1


Caca terdiam sambil merasakan sakit di pergelangan tangan nya, dia merasa kalau Lea ini wanita yang tidak bisa di gertak.


"Sekarang kita keluar dari sini, dan ingat satu hal, jika benar kamu ikut andil dengan hilang nya mbak Yola, maka kamu siap-siap jadi gelandangan." Ucap Lea lalu menarik tangan Caca dan membawa nya ke ruangan di mana ada bu Mesti dan tante Dori yang sedang menunggu.


Caca hanya diam dan menurut dengan apa yang di lakukan oleh Lea kepada dirinya.


Caca teringat kembali saat dia sudah menghadiri penyerahan perusahaan Ricard yang di berikan kepada Yola.


Waktu itu semua nya sudah meninggalkan ruang meeting dan hanya menyisakan dirinya dengan Bagas.


"Pak Bagas lihat kan? Sekarang mantan pak Bagas lah yang berkuasa di perusahaan ini, apa pak Bagas ngga ada niat untuk mengambil nya kembali." Ucap Caca mulai menghasut Bagas.


"Sebenar nya saya tidak rela perusahaan saya berada di tangan nya, tapi mau bagaimana lagi sekarang saya sudah ngga punya kuasa, apalagi sebentar lagi istri saya mau lahiran dan banyak membutuhkan uang untuk semua itu, belum lagi istri saya yang suka menuntut ini dan itu."


"Nah, maka dari itu pak Bagas harus bisa mengambil nya kembali, dengan kembali nya perusahaan pak Bagas, kehidupan pak Bagas tidak akan susah seperti sekarang." Caca terus menghasut Bagas hingga Bagas sampai benar-benar terhasut dengan ucapan nya.


"Bagaimana cara nya?" Tanya Bagas yang sudah terhasut dengan ucapan Caca.


"Malam minggu besok pak Ricard mau melamar janda gatel itu, pak Bagas culik dan paksa dia agar mau menyerahkan perusahaan ini ke tangan pak Bagas kembali, bagaimana pun cara nya terserah, bahkan bapak ingin menikmati tubuh nya kembali kan bisa bapak lakukan, saya yakin dengan cara begitu perusahaan ini akan kembali ke tangan bapak." Ucap Caca dengan penuh keyakinan.


Bagas terdiam dan mencerna semua yang diucapkan oleh Caca hingga dirinya menyetujui rencana Caca.


"Kalau begitu mulai hari ini kita ikuti kemana mereka pergi, soalnya saya belum tahu tempat tinggal nya Yola yang sekarang."


"Deal, kita akan cari tahu dulu rumah nya, tapi setelah perusahaan ini menjadi milik pak Bagas kembali, jadikan saya sebagai sekertaris anda."

__ADS_1


"Itu bisa di atur." Ucap Bagas dengan senyuman yang mengembang.


__ADS_2