
( Pop Ricard )
Setelah mengantarkan Yola Ricard pulang ke rumah nya, sudah terlihat kedua orang tua nya sedang berbincang hangat di ruang keluarga.
Diantara mereka juga ada Caca yang ikut nimbrung dalam perbincangan mereka.
Satu Minggu ke depan kedua orang tua nya Ricard akan mengurangi kerjaan nya karena mereka ingin yang terbaik buat Ricard.
Mereka ingin mempersunting Yola buat Ricard, mulai besok mereka akan mempersiapkan apa yang di perlukan saat acara lamaran.
Ke dua orang tua Caca sudah pulang tapi Caca memilih untuk tingga di sana dengan alasan ingin bekerja di perusahaan nya Ricard.
Ke dua orang tua Caca sudah menyuruh nya untuk bekerja di perusahaan papah nya, tapi Caca berdalih ingin hidup mandiri yang tidak bergantung kepada ke dua orang tua nya.
Akhir nya kedua orang tua Caca mengizinkan Caca untuk tinggal bersama keluarga pak Anwar.
"Malam semua nya." Ucap Ricard lalu duduk dekat Caca.
"Malam nak."
"Malam kak."
Jawab mereka secara bersaman.
Jawaban kedua orang tua Ricard biasa saja seperti berbicara kepada anak nya, lain lagi dengan nada Caca yang sedikit manja kepada Ricard.
Caca terus menatap penuh damba kepada Ricard, ingin sekali dirinya memeluk Ricard kala itu, tapi dia masih menghormati pak Anwar.
Ricard merasa ngga nyaman dengan tatapan dari Caca, entah kenapa ucapan Yola terngiang kembali di telinga tentang Caca.
"Nak, Caca ingin bekerja di perusahaan kamu, jadi kasih saja dia pekerjaan dan ajari dia." Ucap pak Anwar.
"Kenapa ngga bekerja di perusahaan om Bimo? Kan bisa sekalian di ajarin om Bimo." Ucap Ricard.
"Aku ingin mandiri kak, masa aku harus ikuti papah kemana pun." Ucap Caca.
"Ngga mungkin aku memperkerjakan Caca di perusahaan, yang ada hubungan aku dan Yola ngga akan baik ke depan nya, mana aku akan melamar nya lagi." Gumam bathin Ricard.
"Sudah lah nak, dia juga kan adik kamu, ajar saja dia, dan barang kali dia ketemu dengan jodoh nya di perusahaan kamu." Ucap bu Mesty.
"Iya kan jodoh ku kak Ricard." Gumam Caca di dalam hati nya, bibirnya tersenyum penuh arti dan lirikan nya seperti lirikan seorang kekasih.
__ADS_1
"Tapi di perusahaan ku sudah penuh pah, ngga ada lowongan." Ucap Ricard.
"Tempat kan aku dimana saja kak, yang penting aku bisa bekerja di perusahaan kakak." Ucap Caca sedikit memaksa.
"Tapi di perusahaan kakak memang lagi penuh dan ngga ada lowongan, tapi tunggu sebentar." Ucap Ricard lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Ke dua orang tua Ricard dan Caca diam mendengarkan obrolan Ricard dengan seseorang di ponsel nya.
"Baiklah kalau memang Caca ingin bekerja dan mandiri, kakak tempatkan kamu di bagian distribusi di perusahaan xxxx." Ucap Ricard setelah menutup panggilan nya.
"Bukan kah itu perusahaan pak Bagas." Ucap pak Anwar yang memang mengenali nya.
"Ya, dulu nya itu memang perusahaan nya pak Bagas, tapi sekarang sudah menjadi milik Ricard."
"Kak, kenapa ngga di perusahaan kakak saja sih, aku mau nya kerja di perusahaan kakak." Ucap Caca sedikit emosi karena tidak satu gedung dengan Ricard.
"Kan itu juga perusahaan kakak." Ucap Ricard.
"Maksud aku kenapa ngga satu gedung dengan kakak, kan kalau satu gedung kita berangkat nya bisa barengan."
"Kamu berangkat sendiri saja, mobil ada di garasi, kalau kamu mau pakai sopir pakai saja, kan ada pak Nanang tuh, dia juga kerja nya hanya ngantar bibi ke pasar saja." Ucap Ricard.
Ricard ngga mau momen kebersamaan nya dengan Yola di recokin oleh Caca.
Pak Anwar dan bu Mesty hanya saling menatap heran.
"Kamu sudah dewasa, dan bukan kah kamu ingin mandiri? Jadi mulai lah melakukan apa pun sendiri." Ucap Ricard yang mulai kesal dengan Caca.
"Tapi kak_,"
"Tidak ada tapi-tapian, kalau kamu mau serius bekerja ikuti semua aturan kakak, tapi kalau kamu ngga mau serius kerja dan hanya ingin main-main, lebih baik pulang sekarang juga." Ucap Ricard lalu pergi meninggalkan ruangan keluarga dan masuk ke dalam kamar nya.
Mereka semua terdiam, bu Mesty tahu kalau Ricard lagi dalam keadaan emosi.
"Sudah lah nak, ikuti saja aturan kakak mu." Ucap bu Mesty.
"Kakak sekarang berubah ya mah." Ucap Caca dengan wajah sedih nya.
"Mungkin kakak mu lagi capek, sudah jangan di pikirkan lagi, sekarang kamu istirahat, besok kan mulai kerja."
"Baiklah mah, pah, aku istirahat dulu ya." Ucap Caca lalu masuk ke kamar nya.
__ADS_1
"Seperti nya ada yang tidak beres dengan Caca pah." Ucap bu Mesty ketika Caca sudah masuk ke kamar nya.
"Maksud mamah?" Tanya pak Anwar dengan kening berkerut.
"Seperti nya Caca mempunyai perasaan sama Ricard."
"Mamah ini, ngga mungkin lah mah, mereka itu sudah seperti kakak dan adik kandung dari kecil."
"Mungkin hanya perasaan mamah saja ya pah."
"Sudahlah jangan di pikirkan lagi, sekarang kita juga istirahat sudah malam." Ajak pak Anwar.
"Papah duluan saja, mamah mau ke kamar nya Ricard dulu sebentar."
Pak Anwar pun pergi ke kamar nya sendirian, sementara bu Mesty pergi ke kamar nya Ricard.
"Nak, sudah tidur belum? Ini mamah, boleh mamah masuk." Ucap bu Mesty sambil mengetuk pintu kamar Ricard.
"Masuk saja mah." Ucap Ricard sambil membuka pintu nya.
Bu Mesty duduk di sofa yang ada di kamar nya Ricard.
"Ada apa mah? Tumben mamah ke kamar nya Ricard?" Tanya Ricard.
Memang bu Mesty ini tidak pernah masuk ke kamar nya Ricard kalau ngga ada perlu nya.
"Nak, apa kamu sudah yakin untuk menjadikan Yola sebagai istri kamu?" Tanya bu Mesty dengan lembut.
"Ricard yakin mah, dari pertama bertemu Ricard sudah yakin dengan Yola, kenapa mamah tanyakan lagi?" Ricard balik bertanya karena heran dengan sikap mamah nya.
"Mamah cuma memastikan saja, mamah tidak mau nanti begitu waktu nya tiba kamu merasa tidak yakin, oh iya nak, kenapa kamu tadi kasar kepada adik mu?"
"Sebelum aku menjawab pertanyaan mamah, apa boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja nak, mamah akan berusaha menjawab nya."
"Apa Caca itu anak kandung om Bimo dan tante Dori?"
Bu Mesty terdiam, dia kaget dengan pertanyaan ayng di lontarkan anak nya.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan soal Caca?" Bu Mesty penasaran dengan Ricard, karena selama ini Ricard ngga pernah bertanya masalah Caca.
__ADS_1
Ricard pun menceritakan semua kelakuan Caca yang manja nya keterlaluan hingga membuat Yola punya pikiran kalau Caca menyukai diri nya.