
Aku dan mas Ricard keluar dari kamar, ku lihat Lea dan kak Leo sedang duduk berdua.
"Kenapa kalian keluar? Masuk lagi aja masih pagi kok." Ucap kak Leo.
"Maaf kak kita kesiangan."
"Ngapain saja sih kalian jam segini baru keluar dari kamar."
"Sudah cukup, jangan ganggu istri ku lagi karena istriku sedang kelaparan, ayo sayang kita makan jangan dengarkan ucapan kakak mu yang jomblo itu." Ucap mas Ricard sambil menarik tangan ku.
"Woi, ngga lihat apa ada kekasih ku di sini, aku bukan jomblo ya." Teriak kak Leo, tapi mas Ricard tidak memperdulikan nya dan terus menarik tangan ku masuk ke ruang makan.
"Kapan di bereskan nya ini rumah, sudah bersih dan rapih aja." Ucap ku sambil melihat ke arah sekitar rumah.
"Pasti nya tadi sayang, kamu lihat saja jam makan siang saja sudah lewat." Ucap mas Ricard sambil melirik ke arah bi Narsih yang sedang lewat.
"Itu bi Narsih mas, bukan jam makan siang." Ucap ku sambil menahan tawa.
"Wah pengantin baru, ternyata bangun juga, bibi kira ngga bakalan bangun-bangun." Ucap bi Narsih.
"Kalau ngga bangun-bangun kita ngga bakal keluar jam segini bi, ini saja sudah bangun lagi, tapi Yola nya kelaparan jadi saya harus menahan nya." Ucap mas Ricard yang tidak aku pahami.
"Ah den Ricard mah bisa saja." Ucap bi Narsih sambil tersenyum malu, sedangkan aku menatap mas Ricard karena ngga paham dengan ucapan nya.
"Ya sudah di lanjut sarapan sama makan siang nya, saya ke belakang dulu." Ucap bi Narsih lalu pergi meninggalkan aku dan mas Ricard.
"Mas, aku ngga ngerti deh dengan ucapan yang tadi, maksud nya apa sih?" Tanya ku kepada mas Ricard.
"Ucapan yang mana sayang?" Mas Ricard malah balik bertanya.
"Itu tadi pas mas bicara sama bi Narsih yang berdiri itu apa?" Aku masih penasaran dengan ucapan mas Ricard dan bi Narsih.
Ku lihat mas Ricard tersenyum penuh arti sambil menatap ku.
"Mas, ih kok kamu malah menatap ku sepert itu, senyum-senyum lagi."
"Beneran kamu mau tahu?"
"Is mas jangan bercanda deh, udah jawab saja yang berdiri itu apa?" Aku mengulang pertanyaan ku kembali dengan wajah kesal karena mas Ricard malah senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Benar kamu mau tahu?" Tanya mas Ricard sambil meraih tangan ku, aku hanya mengangguk dan mengikuti kemana arah tangan mas RIcard membawa tangan ku.
"Maksud nya ini yang berdiri, sekarang kamu rasakan, berdiri kan?" Ucap mas Ricard sambil tangan ku dia tempelkan di adik kecil nya membuat aku malu dan menyesal dengan rasa penasaran ku.
"Mas." Ucap ku sambil menatap tajam ke arah mas Ricard.
"Jangan marah, kan kamu sendiri tadi yang memaksa mas untuk menjawab nya."
"Uhuk, kalian lagi apa?" Tanya kak Leo yang sudah berdiri di ambang pintu bersama Lea dan berpura-pura batuk.
"Menurut kakak kita berada di meja makan lagi apa?" Ucap ku sambil ku tarik kembali tangan ku yang masih menyentuh adik kecil mas Ricard.
Aku kembali fokus sama makanan dan berusaha bersikap biasa saja.
"Kalau mau bermesraan nanti di kamar setelah makan nya selesai, ini masih di meja makan lo." Ucap Lea lalu duduk di samping kak Leo.
"Kalian berdua memang cocok ya, kerjaan nya menggoda aku terus."
"Pengantin baru jangan marah-marah, nanti aura nya hilang."
"Sudah jangan berdebat lagi, habiskan makanan kamu setelah itu kamu bereskan semua baju kamu." Ucap mas Ricard membuat aku dan kak Leo langsung menatap nya.
"Maksud bos?"
"Kakak ipar, mulai sekarang Yola adik angkat mu ini sudah resmi menjadi istri ku, jadi aku berhak atas Yola, dan mulai hari ini aku akan membawa nya untuk tinggal di rumah ku, karena rumah ku adalah rumah nya juga." Jawab mas Ricard dengan jelas.
"Yah, kakak tinggal sendiri lagi dong." Ucap kak Leo dengan wajah sedih nya.
"Ngga usah drama, dari dulu juga kan kamu sudah tinggal sendiri."
"Ini semua gara-gara bos, hidup ku kembali mengheningkan cipta." Ucap kak Leo dengan wajah cemberut nya.
"Ya elah kayak bocah saja, ngambek."
"Sudah, kalian berdua lanjutkan saja berdebat nya, aku mau beresin baju nya." Ucap ku lalu berdiri.
"Aku ikut." Ucap Lea.
Aku dan Lea pun meninggalkan ke dua lelaki baik yang sangat menyayangi ku saat-saat ini.
__ADS_1
**********
"Bos bagaimana malam pertama bersama janda rasa perawan?" Tanya Leo.
"Jadi kamu tahu kalau Yola mash perawan?" Bukan nya menjawab pertanyaan dari Leo, Ricard malah balik bertanya karena kaget kalau Leo tahu tentang istri nya.
"Tahu lah, jadi bagaimana?" Ucap Leo sambil memainkan kedua alis nya.
"Brengsek ya kamu, kenapa kamu ngga bilang?"
"Sabar bos, sekarang aku ini kakak ipar bos, jadi bos jangan macam-macam, kalau ngga mau saya ambil kembali Yola."
"Saya ngga takut, karena Yola sekarang sudah menyatu dengan raga saya." Ucap Ricard merasa menang.
********
"Mbak, bagaimana semalam? Pasti pak Ricard kaget kan?" Tanya Lea dengan wajah penasaran nya.
"Sukses Le, mas Ricard terlihat kaget campur bahagia, dan tiada henti nya mas Ricard terus mengucapkan rasa terima kasih nya."
"Wah, selamat ya mbak, aku senang mendengar nya, semoga ke depan nya mbak selalu bahagia dan di karuniai anak-anak yang cantik dan tampan." Ucap Lea sambil tersenyum.
"Makasih ya Le, ini semua juga berkat kamu, tanpa kamu aku tidak akan berada di posisi sekarang."
"Semua ini bukan karena aku mbak, tapi karena kesabaran mbak menghadapi semua nya, dan sekarang mbak memetik hasil kesabaran mbak sendiri."
Aku memeluk Lea dengan erat, hanya Lea lah orang yang selalu mengerti dan menerima aku apa ada nya.
"Oh iya mbak, mau punya anak berapa?" Tanya Lea.
"Aku sih mau nya dua saja, tapi mas Ricard mau banyak, karena di keluarga nya kan susah untuk mendapatkan keturunan, jadi aku tidak di bolehkan untuk memasang kb."
"Ya sudah ngga apa-apa lah mbak, lagian kan pak Ricard adalah sosok seorang suami yamg bertanggung jawab dan juga semua keluarga nya menerima mbak dengan baik, tidak seperti keluarga mantan mbak yang dulu."
"Tapi masa anakku baru beberapa bulan lahir aku langsung harus hamil lagi, kan capek Le."
"Capek pasti mbak karena itu manusiawi, tapi ke depan nya mbak akan merasa bahagia apalagi dengan anak-anak yang akan menghiasi kehidupan rumah tangga mbak.
Aku tersenyum, karena apa yang di ucapkan Lea benar ada nya.
__ADS_1