Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Mas Ricard terus memeluk ku dengan sangat erat sekali, setiap sentuhan nya membuat darah ku seakan akan sedang di aliri listrik yang bertegangan tinggi.


Ada rasa takut dalam diriku karena ini hal yang pertama buat aku.


Kita berdua terus saling memberikan sentuhan dan belaian yang membuat kita berdua mabuk kepayang.


Mas Ricard pintar membuat aku serasa melayang di angkasa, hingga tanpa ku sadari kini mas Ricard sudah berada di atas tubuh ku.


Mungkin karena status ku janda jadi mas Ricard kira aku sudah ngga suci lagi, maka dari itu mas Ricard langsung mendaratkan adik kecil nya dan membenamkan nya ke dalam sana.


Sakit dan perih itu yang aku rasakan hingga aku meneteskan air mata ku.


"Sayang, kamu." Tanpa sadar mas Ricard sedikit berteriak dan menghentikan gerakan nya.


Aku mengangguk sambil menahan rasa perih di bawah sana, aku memang merasakan perih tapi entah kenapa tubuh ku menginginkan untuk mas Ricard melanjutkan nya.


"Jadi, selama ini kamu_"


Mas Ricard terlihat sangat kaget campur bahagia setelah mengetahui kalau aku masih suci.


"Ya, selama ini aku masih belum terjamah, dan ini aku berikan sebagai hadiah pernikahan kita." Ucap ku lalu mencium dada bidang nya mas Ricard.


"Maaf kan mas telah membuat kamu merasakan sakit, mas ngga tahu kalau kamu ternyata masih suci, memang nya pris itu belum pernah menjamah kamu."


"Sudah lah mas kita lupakan dulu masalah lain nya, sekarang kamu sudah mengetahui nya dan kamu boleh merasakan nya."


"Baiklah aku akan melakukan nya dengan pelan, tahan ya sayang." Ucap mas Ricard dengan wajah berbinar nya.


Mas Ricard menepati janji nya, dia melakukan nya dengan penuh perasaan.


Kita berdua sama-sama baru merasakan nya, awal nya aku merasakan perih pada anggota tubuh bagian bawah, tapi karena mas Ricard memperlakukan nya dengan lembut dan penuh rasa cinta, rasa sakit itu hilang dan berganti menjadi rasa yang akan menjadi candu buat aku.


Aku terus di buat melayang oleh mas Ricard hingga aku melupakan rasa sakit dan menyuruh mas Ricard mempercepat gerakan nya.


Di pagi yang dingin ini tubuh kita berdua penuh dengan keringat, keringat yang membuat kita berdua bahagia dan melupakan semua nya.


Setelah mas Ricard membawa ku melayang, kini tubuh mas Ricard terkulai lemas dan jatuh di samping ku.

__ADS_1


Mas Ricard memeluk ku hingga hembusan nafas nya mengenai kulit ku.


"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan nya sama aku, kenapa kamu ngga bilang kalau kamu masih suci?" Tanya mas Ricard sambil memeluk ku.


"Mas nya ngga nanya, dan aku memutuskan untuk memberikan surprise buat mas, dan sekalian sebagai hadiah buat mas karena mas sudah mau menjadikan aku sebagai istri mas."


"Mas sungguh kaget dan sekaligus bahagia karena ternyata mas menikahi seorang janda tapi rasa perawan."


Kembali mas Ricard mencium seluruh wajah ku, mungkin karena rasa bahagia nya dengan hadiah yang aku berikan.


"Bagaimana rasa nya mas?" Tanyaku.


"Rasa nya mas lupa, bagaimana kalau kita ulang lagi, biar mas bisa menjawab pertanyaan kamu barusan."


Ternyata aku salah memberikan pertanyaan, sehingga mas Ricard kembali sudah ebrada di atas ku.


Aku hanya pasrah dan menuruti semua keinginan mas Ricard.


Ngga di pungkiri aku pun juga sama seperti mas Ricard yang ingin kembali merasakan nya.


*********


Sementara sepasang pengantin yang sedang memadu kasih di dalam kamar nya, Leo dan Lea sedang membantu para pekerja membereskan rumah nya.


"Pegantin baru sudah hampir jam makan siang begini belum keluar kamar juga." Ucap Lea.


"Ya nama nya juga pengantin baru, nanti juga kamu merasakan nya yang."


"Apa sih mas, ah akhir nya rumah ini sudah kembali bersih, mereka semua cepat juga ya mas bekerja nya."


"Kalau kerja mereka lelet aku tidak akan membayar nya."


Lea dan Leo duduk melepaskan rasa lelah pada tubuh nya.


"Pak Ricard pasti merasakan bahagia yang sangat luar biasa." Ucap Lea .


"Ya pasti lah sayang, secara sekarang dia sudah menikahi Yola, bos beruntung mendapatkan Yola, Yola wanita yang tidak terlalu menuntut walaupun tahu kalau bos sangat kaya raya."

__ADS_1


"Selain mbak Yola wanita baik dan tulus, dia juga masih suci dan kesucian nya dia berikan kepada pak Ricard, sehingga pak Ricard mendapat keuntungan yang lebih banyak lagi."


"Apa! Maksud kamu Yola masih_"


"Ya status mbak Yola memang seorang janda, tapi mbak Yola masih suci, karena selama menikah dengan pak Bagas mbak Yola belum pernah di sentuh sama sekali."


"Sugguh benar-benar beruntung, untung saja malam itu si Bagas tidak menodai Yola, kalau sampai terjadi Yola pasti tidak merasa pantas untuk berada di samping nya bos."


"Ya, dan malam itu mbak Yola juga sempat ragu dengan dirinya, tapi aku selalu meyakinkan nya hingga mbak Yola menerima pak Ricard untuk menjadi suami nya.


"Sungguh luar biasa, ini di nama kan janda rasa perawan."


Lea dan Leo terus membicarakan sepasang pengantin yang masih berada di dalam kamar nya, sedang kan yang sedang di bicarakan baru selesai membersihkan tubuh nya.


"Makasih ya sayang." mas Ricard tiada henti terus mengucapkan rasa terima kasih nya kepada ku.


"Sudah lah mas jangan mengucapkan terima kasih terus, mas pantas mendapatkan nya, karena mas orang baik yang mau menerima aku apa ada nya, menerima seorang wanita yang bertubuh subur dengan wajah yang pas-pasan dimana para pria menjauhi nya bahkan suami nya sendiri merasa jijik kalau berdektan dengan ku, hanya mas seorang yang mau dekat dengan ku dan menerima ku apa ada nya."


"Cup."


Mas Ricard mencium bibir ku sebentar hingga membuat aku menghentikan ucapan ku.


"Sudah jangan di ungkit lagi, mulai sekarang kamu adalah nyonya Ricard, siapa pun yang mengganggu kamu aku akan membuat perhitungan dengan nya."


"Makasih ya mas, selalu menjaga ku."


Aku mencium bibir mas Ricard, dan terjadilah kembali ciuman panas diantara kita berdua.


"Lagi yuk." Bisik mas Ricard.


"Mas, kita sudah melakukan nya tiga kali lo, bahkan di kamar mandi pun mas ngga membiarkan aku mandi dengan tenang, aku lapar lo mas, apa mas mau melihat aku pingsan karena kelaparan." Ucap ku dengan wajah pura-pura kesal.


"Ya ampun mas sampai lupa kalau kita belum sarapan."


"Ini tuh sudah jam makan siang mas bukan sarapan lagi."


Mas Ricard hanya tersenyum, lalu mengajak aku ke ruang makan, sprei yang menjadi saksi kesucian ku pun sudah ku masukan ke keranjang cucian dan mas Ricard tidak mengizinkan siapa pun untuk mencuci nya, karena mas Ricard akan mencuci nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2