Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Barang Bekas


__ADS_3

[ Pov Elena ]


Taksi yang di sewa Elena ikut berhenti di depan cafe tersebut.


"Pak tolong belikan makanan untuk makan siang di dalam sambil bapak lihat suami saya dengan siapa di dalam." Ucap Elena sambil memberikan lima lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Tapi bapak ngga tahu menu nya non, bapak belum pernah makan di cafe seperti ini." Ucap pak sopir dengan tatapan bingung nya.


"Bapak bilang saja menu untuk makan siang lengkap dengan minuman nya."


"Baiklah non." Jawab si bapak sopir pasrah.


Mau tidak mau sopir taksi itu harus mau melaksanakan apa yang di suruh Elena, karena dirinya sudah di bayar mahal oleh nya.


Sopir taksi itu masuk ke dalam dan memesan makanan yang di minta Elena.


Elena yang sedang menunggu di dalam taksi melihat ada seorang perempuan masuk ke dalam cafe.


Karena Elena tidak melihat wajah nya, Elena pun mengabaikan nya dan berpikir kalau wanita itu hanya pengunjung biasa.


Selagi menunggu makanan nya selesai, bapak sopir itu melihat ke arah sekeliling hingga mendengar seorang pelayan menyebut nama Bagas.


Pak sopir itu tahu kalau suami penumpang nya itu juga nama nya Bagas, jadi pak sopir itu mengikuti mereka sambil berpura-pura melihat ke arah sekitar cafe.


Pak sopir itu pura-pura duduk di dekat meja Bagas dan melihat dengan jelas wajah Bagas.


"Benar, dia itu suami nya nona yang ada di mobil ku, rupanya dia selingkuh dengan wanita cantik ini, kasihan nona itu, mana dia lagi hamil." Gumam bathin pak sopir.


Pak sopir melihat dengan jelas kalau Bagas memeluk wanita selingkuhan nya.


Pak sopir itu tidak bisa lama-lama melihat mereka berdua, karena pelayan sudah memanggil dirinya karena pesanan makanan nya sudah selesai.


Pak sopir itu bergegas keluar cafe dan masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana pak, dengan siapa suami saya di dalam?" Tanya Elena penasaran.


"Sebelum nya saya minta maaf nona, suami anda di dalam lagi sama seorang perempuan cantik, dan bahkan mereka berdua saling berpelukan." Sebenar nya pak sopir ngga tega harus mengatakan kepada Elena tentang suami nya itu.


"Apa wanita nya yang ini?" Tanya Elena sambil memperlihatkan poto Yola yang pernah Yola kirim kepada nya.

__ADS_1


Pak sopir menatap baik-baik poto Yola yang ada di ponsel nya Elena.


"Benar nona, wanita nya yang ini." Ucap pak sopir.


Sebisa mungkin Elena menahan amarah nya, dia bersiap-siap untuk keluar dari mobil.


"Nona, ini makanan nya." Ucap pak sopir sambil memberikan nya.


"Makan saja sama bapak, anggap itu bonus dari saya." Ucap Elena lalu keluar dari dalam taksi.


"Terima kasih nona." Ucap pak sopir dengan wajah berbinar nya, baru kali ini dia mendapat uang yang banyak dari penumpang nya sekaligus makanan yang sangat enak yang belum pernah ia rasakan.


Elena keluar dari taksi, baru saja kaki nya mau melangkah, seorang wanita memanggil nya.


"Elena." Panggil seseorang membuat Elena menghentikan langkah nya lalu membalikan tubuh nya dan menatap ke arah wanita yang memanggil nya.


"Mamah." Gumam Elena dengan mata yang sudah berlinang.


Elena langsung memeluk mertua nya sambil menitik kan air mata nya.


"Ada apa kamu menyuruh mamah kesini sayang?" Tanya mertua nya sambil melepaskan pelukan nya.


"Mah, Yola kembali dan menggoda mas Bagas, mereka berdua bahkan sudah tidur bareng." Jawab Elena sambil mengusap air mata nya.


"Jangan bicara sembarangan kamu, mana mungkin Bagas mau sama wanita gendut itu."


"Mah Yola sekarang sudah langsing, dan aku punya bukti nya." Elena memperlihat kan poto dan semua video yang Yola kirim kepada nya.


"Dasar wanita murahan, sekali nya murahan tetap saja murahan, mamah ngga rela kalau dia kembali sama wanita miskin itu." Ucap mamah Elsa dengan wajah amarah nya.


"Mamah tahu sekarang mereka lagi lunch berdua di dalam."


"Kalau begitu ayo kita masuk." Mamah Elsa menarik tangan Elena lalu membawa nya masuk ke dalam cafe.


Dengan langkah dan menahan amarah di dada nya, ke dua wanita berbeda usia itu masuk dan langsung mencari sosok Bagas.


Mereka berdua kaget begitu melihat orang yang mereka kenal sedang bercumbu di tempat umum.


"Mas Bagas."

__ADS_1


"Bagas."


Ke dua nya memanggil Bagas secara bersamaan.


Bagas kaget dan melepaskan pagutan nya, lalu melihat kearah suara dua wanita yang dia kenal.


"Elena, mamah." Gumam Bagas dengan wajah kaget nya.


"Apa yang kamu lakukan di sini Bagas?" Tanya mamah Elsa dengan wajah bengis nya.


"Mah, ini semua tidak seperti yang mamah pikirkan." Bagas ingin membela diri.


"Kamu jangan membela diri, oh rupanya kamu sudah merubah penampilan ya? Dan sekarang kamu datang ingin menghancurkan rumah tangga mereka." Ucap mamah Elsa dengan suara lantang nya membuat pengunjung cafe yang lagi ramai pun langsung menatap ke arah mereka.,


"Apa anda tidak salah bicara nyonya? Bukan kah yang sudah menghancurkan rumah tangga itu kalian berdua? Bukan kah wanita ini yang sudah merebut suami saya?" Ucap ku dengan santai.


"Kamu harus nya tahu diri kenapa anak saya bisa selingkuh? Itu karena tubuh kamu yang gemuk dan wajah kamu yang sangat buruk."


"Tapi anda bisa melihat nyakan sekarang saya bagaimana? Apa anda buta sehingga anda tidak bisa melihat nya?"


"Kamu." Teriak mamah Elsa sambil melayangkan tangan nya dan hampir menampar pipi ku, tapi ada sebuah tangan yang menahan nya.


"Jangan coba-coba berani menyentuh calon istri ku." Aku kaget dan langsung menatap wajah nya.


"Mas Ricard." Ternyata mas Ricard yang sudah menahan tangan dari mantan mertua ku itu.


"Kamu." Teriak mas Bagas sambil menatap tajam ke arah mas Ricard.


"Siapa kamu berani-berani nya ikut campur dalam urusan keluarga ku." Teriak mamah Elsa yang tidak terima dengan kehadiran mas Ricard.


"Saya calon suami nya, dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh atau menyakiti nya." Ku lihat mas Ricard menatap balik mas Bagas dengan tajam.


Aku terpana dengan keberanian mas Ricard, ku dengar bisikan-bisikan dari para pengunjung yang sedang membicarakan kami.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?'" Tanya mas Ricard sambil memeriksa tubuh ku dari atas sampai bawah.


"Tidak mas, aku tidak apa-apa." Mas Ricard memeluk ku dengan erat.


Ku lihat dari pancaran ke dua mata mas Bagas, kalau dia sedang menahan amarah nya.

__ADS_1


"Memang seorang pelayan itu sangat pantas untuk mendapatkan makanan sisa." Ucap mas Bagas membuat aku sakit hati sudah di katakan barang bekas oleh nya.


__ADS_2