Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Di Terima Kerja


__ADS_3

Kini aku dan Ricard sudah berada di dalam mobil, Ricard akan mengantarkan aku ke tempat kerja baru ku.


"Kamu belum kerja di restoran mas?" Tanya ku sambil menatap nya yang sedang mengemudi.


Aku suka dengan cara nya mengemudi, Mas Ricard terlihat keren kalau sedang berada di belakang kemudi.


"Kan aku di suruh kakak menjaga kamu selama dua puluh empat jam." Jawab nya.


"Mas, tapi aku kerja, masa aku di ikuti terus sama kamu, ngga enak lah sama yang lain nya, apalagi aku masih baru diperusahaan itu."


"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengekor di belakang kamu, aku akan menunggu di mobil."


"Tapi kamu pasti bosan mas, mending kamu balik ke restoran selama aku bekerja, nanti pas aku pulang baru mas jemput aku." Aku memberikan saran buat mas Ricard.


"Ngga ada kata bosan untuk menunggu cewek cantik seperti kamu." Ucap Ricard.


"Masih pagi mas udah gombal aja, ya sudah terserah kamu lah mas, aku masuk dulu ya." Ucap ku sambil mau membuka pintu mobil.


"Kiss dulu dong." Tangan ku di tarik nya membuat aku menatap nya.


"Apa sih mas, ini sudah hampir terlambat lo."


Belum selesai aku berbicara, bibir mas Ricard sudah nempel saja di bibir ku.


Di rasa sudah cukup aku pun melepaskan nya, lalu melihat penampilan ku di spion.


"Ini semua gara-gara mas, aku jadi harus benerin riasan nya." Ucap ku sambil merapihkan kembali riasan yang sudah diobrak abrik oleh mas Ricard terutama di bagian bibir.


Mas Ricard hanya menatap ku sambil tersenyum. "Habis bibir kamu manis sayang."


"Cukup, jangan gombal lagi aku masuk sekarang." Aku sudah ngga mau mendengar gombalan mas Ricard lagi karena takut terlambat.


Sekilas aku melirik ke arah mas Ricard, ku lihat dia melambaikan tangan nya sambil tersenyum, aku membalas nya lalu masuk ke dalam perusahaan.


Aku langsung menuju ruang HRD dan mengetuk pintu nya.

__ADS_1


"Selamat pagi pak, saya Yolanda, saya mau melamar kerja atas rekomendasi atas nama Ricard." Ucap ku setelah di persilahkan masuk.


"Masuk lah nona, silahkan duduk, perkenalkan saya Beni." Ucap pak Beni sambil mengulurkan tangan nya.


"Saya Yolanda pak." Aku pun menerima uluran tangan nya.


"Baiklah Nona Yolanda, anda bisa langsung bekerja, kalau ada yang belum di mengerti anda bisa tanya yang lain nya atau kepada saya." Ucap pak Beni tanpa memeriksa surat lamaran ku dulu.


Entah kenapa aku merasa ada yang aneh, pak Beni tidak memeriksa sama sekali lamaran kerja ku, dan aku tidak melalu interview dulu tapi aku langsung di terima kerja dan di tempatkan sebagai seorang sekertaris.


"Anda tidak memeriksa surat lamaran ku dulu pak?" Tanya ku dengan wajah penasaran.


"Ngga perlu, pak Ricard sudah memberitahu kami semua tentang kemampuan anda, jadi anda bisa langsung bekerja." Ucap pak Beni.


"Terima kasih pak." Ucap ku sambil sedikit menunduk.


"Hanya satu yang ingin saya ingatkan kepada anda nona, anda jangan penasaran dengan wajah direktur kita, karena beliau orang nya ngga mau bertatap muka dengan siapa pun." Ucap pak Beni membuat aku semakin penasaran.


Belum juga rasa penasaran ku hilang tentang penerimaan ku bekerja di kantor ini, aku sudah di buat penasaran lagi dengan penuturan pak Beni barusan.


"Benar-benar aneh, tapi ya sudah lah yang penting aku bekerja dan terima gaji saja, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan mengembalikan semua uang yang sudah aku pakai untuk operasi." Gumam ku dalam hati.


"Nona Yola, apa anda sudah mengerti?" Tanya pak Beni.


"Eh, iya pak saya sudah mengerti." Ucapan dari pak Beni membuat aku kaget dan membuyarkan lamunan ku.


"Kalau begitu mari saya antar ke ruangan anda." Ucap pak Beni.


Aku mengikuti langkah nya pak Beni dari belakang, aku heran dengan semua orang yang melihat ku, mereka seakan-akan sungkan dan hormat kepada ku, padahal aku baru pertama kali datang ke kantor itu.


"Mereka itu seperti nya sungkan dan hormat sama aku, apa memang penyambutan anak baru begini ya kalau di kantor ini." Gumam ku di dalam hati.


Gedung nya besar dan tinggi membuat aku harus pintar mengingat dan menghapal jalan, aku takut pas pulang nanti aku ngga tahu jalan.


Aku terus berjalan mengikuti langkah nya pak Beni, sekarang aku lagi di dalam lift bersama nya, ku lihat ternyata lantai yang paling atas.

__ADS_1


Suara lift terbuka lalu aku pun melangkah keluar dari lift.


"Ini ruangan anda nona, dan itu ruangan pak direktur, anda hanya akan berkomunikasi dengan beliau lewat interkom ini." Pak Beni menjelaskan nya.


"Baik pak, terima kasih."


"Ini pekerjaan yang harus anda pelajari nona, kalau begitu saya permisi ke ruangan saya kembali."


"Baik pak, terima kasih banyak."


Aku menatap ruangan ku, rapih dan bersih membuat aku nyaman di dalam ruangan ini.


Ke dua mata ku melihat ke arah ruangan direktur yang terbuat dari kaca semua nya, tapi aneh nya aku tidak bisa melihat ke dalam.


"Keren banget ruangan nya, bukan nya aku yang melihat pak direktur, malah aku melihat diriku sendiri di kaca." Gumam ku sambil merapihkan penampilan ku di depan ruangan pak direktur.


"Ah jadi penasaran dengan wajah pak direktur nya, sudah lah Yola, kamu datang kesini itu untuk bekerja bukan untuk melihat wajah nya pak direktur."


Aku pun memutuskan untuk duduk dan mempelajari pekerjaan ku dan menghilangkan rasa penasaran ku.


[ Pov Ricard }


Setelah melihat Yola masuk ke dalam, Ricard langsung masuk ke dalam ruangan nya lewat lift khusus.


Karyawan nya yang melihat hanya mengangguk kepala nya dengan hormat.


Ricard menerima telepon dari seorang karyawan nya yang memang sudah di tugaskan untuk selalu mengamati Yola.


"Bos, nona Yola ke ruangan nya sekarang di antar pak Beni."


"Baik, terima kasih." Ucap Ricard lalu memutuskan panggilan nya dan menatap ke arah ruangan sekertaris yang ada di hadapan nya.


Terlihat pak Beni sedang menjelaskan kerjaan Yola lalu pergi meninggalkan Yola sendirian.


Bibir Ricard tersenyum di kala melihat Yola yang sedang melenggak lenggok kan tubuh nya di depan dirinya.

__ADS_1


"Setiap hari kamu semakin cantik sayang, mantan suami kamu pasti akan merasakan penyesalan yang dalam karena sudah membuang permata dan memungut batu pasir." Gumam Ricard sambil terus menatap ke arah Yola.


__ADS_2