
"Kalian duduk dulu di sini sebentar, mamah mau menemui rekan mamah." Ucap mamah lalu meninggalkan kita berdua.
Mas Ricard duduk setelah aku duduk di salah satu kursi tunggu.
"Mas, bisa ngga duduk nya agak jauhan, perut ku mual." Ucap ku dengan pelan.
Ku lihat mas Ricard hanya menghembuskan nafas nya dengan kasar lalu sedikit menjauh dari ku dengan wajah kesal nya.
Entah lah perut ku ini ada masalah apa sehingga setiap mas Ricard di dekat ku perut ku langsung merasakan mual, tapi setelah mas Ricard menjauh perut ku kembali normal.
"Sayang, ayo masuk." Ucap mamah sambil melambaikan tangan nya.
Aku heran kenapa mamah ngajak masuk ke ruangan itu, tapi aku tidak mau membuat mamah malu atau sedih akhir nya aku menuruti nya.
Mas Ricard ikut mengikuti ku dari belakang, dia berjalan dengan mimik wajah yang kesal.
"Ada apa mah?" Tanya ku setelah mendekat.
"Kenalkan ini menantu ku dok, nak ini dokter Wini, beliau yang akan memeriksa kandungan mu." Ucap mamah yang membuat aku melongo.
"Maksud mamah?"
"Ikuti saja apa yang dokter Wini ucapkan, dokter Wini lebih mengetahui nya.
"Ayo silahkan berbaring." Ajak dokter Wini yang usia nya tidak jauh beda dengan mamah.
Aku melihat mamah menganggukkan kepala nya, aku pun berbaring menuruti kemauan sang dokter.
"Mah." Terdengar mas Ricard memanggil mamah.
"Sudah kamu tenang saja, kamu lihat saja layar itu." Ucap mamah membuat ke dua mata ku juga terarah ke arah layar monitor.
"Maaf ya." Ucap dokter Wini sambil mengangkat baju ku ke atas, lalu mengoleskan sesuatu yang membuat perut ku terasa dingin,
Dokter Wini menggeserkan nya ke kanan ke kri dan sesekali dengan gerakan memutar.
"Selamat dok, anda mau punya cucu, dokter lihat titik hitam ini, dia adalah calon cucu anda." Ucap dokter sambil menggeser kursor komputer nya dan mengarahkan ke sebuah titik yang di yakini itu adalah seorang janin.
__ADS_1
"Apa! Jadi benar dugaan ku ini, aku mau punya cucu, terima kasih sayang kamu sudah memberi mamah seorang cucu." Ucap mamah sambil menitik kan air mata nya.
"Mak_maksud dokter?" Tanya mas Rehan ingin memastikan nya.
"Anda mau jadi seorang ayah, jaga istri dan calon anak anda jangan sampai istri anda capek dan banyak melakukan pekerjaan yang akan membuat nya stres dan capek." Ucap dokter Wini.
"Apa! Mah aku akan jadi seorang ayah, ah terima kasih sayang terima kasih kamu sudah mau mengandung anak ku." Ucap mas Ricard sambil mencium seluruh wajah ku.
"Huek, mas jangan mendekat." Ucap ku yang membuat wajah bahagia mas Ricard langsung kembali ke wajah kesal nya.
"Kenapa sih dok dengan istri saya ini, masa setiap saya mendekat dia selalu mual?" Tanya mas Ricard.
Ku lihat mamah dan dokter Wini hanya tersenyum, lalu menutup kembali perut ku.
"Usia nya berapa minggu dok?" Tanya mamah.
"Kita duduk dulu." Ajak dokter Wini.
Aku di bantu mamah untuk turun dari ranjang, awal nya mas Ricard yang ingin membantuku tapi aku menolak nya.
Kini aku dan mamah sudah duduk di depan dokter Wini, sedangkan mas Ricard berdiri di belakang kita.
"Berarti anak yang di kandungan Yola sudah dua bulan dok?" Tanya mamah Mesti.
"Ya, usia nya sudah dua delapan minggu, dan di usia ini lagi ngidam-ngidam nya, dan untuk suami nya bersabar lah menghadapi istri yang lagi ngidam." Ucap Dokter Wini sambil menatap mas Ricard.
"Jadi sikap dia yang tidak mau saya dekati juga itu termasuk ngidam dok?" Tanya mas Ricard.
"Ya, semua sikap yang ditampilkan istri anda itu semua karena semata-mata ngidam."
"Terus itu terjadi sampai kapan dok?" Tanya mas Ricard.
"Ngga lama kok itu terjadi paling dua atau tiga bulan saja, tapi tergantung orang nya juga ada yang hanya dua bulan, tiga bulan dan bahkan sampai anak nya lahir."
"Kamu jangan lama-lama ya sayang, aku ngga akan kuat." Ucap mas Ricard dengan wajah yang memelas.
"Berdo^a saja, oh iya ini resep vitamin nya dan jangan lupa makan makanan yang sehat dan bergizi dan jangan lupa minum susu." Ucap dokter Wini sambil memberikan resep nya.
__ADS_1
"Terima kasih dok." Ucap kita bertiga, lalu kita keluar dari ruangan dokter Wini setelah pemeriksaan selesai.
"Nak, kamu jangan pergi ke kantor, kamu ikut mamah saja ke ruangan, seharian ini biar mamah yang jaga dan kamu pergi saja ke kantor." Ucap mamah.
"Kok aku malah di usir? Kan yang anak mamah aku bukan Yola." Ucap mas Ricard.
"Dia kan yang lagi hamil yang harus di jaga, kalau kamu yang harus bertanggung jawab semua nya, sudah sana pergi ke kantor biar Yola mamah yang jaga, kamu cari uang sebanyak-banyak nya buat biaya lahiran istri kamu."
Mas Ricard pergi dengan wajah kesal nya, sebelum mas Ricard pergi, mas Ricard sempat mengusap perut ku, sebenar nya aku merasakan mual, tapi aku menahan nya karena kasihan melihat mas Ricard yang ingin sekali menyentuh anak nya.
"Sayang, papah pergi kerja dulu, kamu baik-baik ya sama mamah." Ucap mas Ricard lalu mencium perut ku, begtu mas Ricard mau mencium ku, aku sedikit mundur dan jaga jarak.
"Baiklah aku berangkat." Mas Ricard pun pergi dengan wajah kesal nya, setelah pamit sama mamah dan aku.
"Ayo nak kita ke ruangan mamah, sebentar lagi mamah praktek." Ajak mamah sambil menarik tangan ku.
*********
Kini aku sedang berada di ruang kerja mamah, ruangan nya sih tidak terlalu besar seperti ruangan mas Ricard, tapi sama-sama nyaman buat ku.
Aku kaget begitu melihat lukisan yang ada di ruangan mamah.
"Mah lukisan ini?" Tanya ku sambil menatap lukisan karya tangan ku.
"Itu karya tangan kamu kan? Mamah sangat menyukai nya, lukisan itu hadiah ulang tahun dari Ricard." Ucap mamah Mesti.
"Jadi waktu iru kak Leo beli lukisan ini buat mamah?"
"Ya, seperti nya Ricard menyuruh Leo untuk membelikan nya."
Seorang ob masuk sambil membawa dua kantong yang berisi makanan dan minuman.
"Dok pesanan nya." Ucap ob itu setelah membuka pintu.
"Taro saja di meja, makasih ya." Ucap mamah sambil tersenyum.
"Ini kembalian nya dok."
__ADS_1
"Sudah ambil saja buat makan siang kamu nanti."
"Makasih banyak dok, permisi mbak." Ob itu keluar dari ruangan setelah menyimpan makanan yang di pesan mamah.