
Hari demi hari rutinitas ku seperti biasa nya, semenjak kejadian di cafe waktu itu aku tidak melihat lagi mas Bagas bahkan mas Bagas juga tidak ada menghubungi ku.
Hidup ku sedikit tenang tapi belum bisa fokus dengan kerjaan karena aku masih penasaran dengan sosok bos ku.
"Mbak, kata bos boleh pinjam sopir nya ngga? Soalnya sopir bos tadi pulang karena istri nya sakit." Ucap mbak Ratih yang sekarang berada di ruangan ku.
"Bos meminjam sopir? Tapi aku ngga pakai sopir mbak." Ujarku sambil menatap mbak Ratih.
"Terus yang selalu mengantar jemput mbak itu siapa?"
"Itu mas Ricard calon suami ku."
"Nah maksud bos dia mau minjam calon suami nya mbak, soalnya ada pertemuan yang sangat penting dan hanya bos sendiri yang akan menemui nya, karena klien yang sekarang tidak mau ada orang yang tahu, intinya rahasia." Ucap mbak Ratih.
Aku terdiam dan bingung harus menjawab apa, karena bagaimana pun mas Ricard bukan sopir ku melainkan calon suamiku yang menjadi asisten pribadi ku.
Lamunan ku buyar ketika suara ponsel ku berdering sangat nyaring hingga membuat aku langsung meraih dan menerima panggilan nya.
"Sebentar ya mbak." Ucap ku minta izin untuk menerima panggilan nya.
"Halo mas, kenapa?" Tanya ku dengan bibir tersenyum, padahal aku sadar kalau mas Ricard tidak akan melihat nya, tapi entah kenapa bibir ku selalu tersenyum di kala mendengar suara nya.
"Jadi mas sudah bersama bos ku?" Tanya ku sambil menatap mbak Ratih dengan tatapan kaget ku.
"Ya sudah kalau gitu nanti aku pulang sendiri saja."
"Baiklah mas, aku akan selalu menunggu mu, love you to." Aku pun memutuskan panggilan ku dengan mas Ricard.
"Aduh mbak Yola ini sangat mesra sekali dengan calon suami nya, sekali-kali kenalkan dong sama mbak." Ucap mbak Ratih.
"Suatu saat aku akan mengenalkan nya sama mbak." Ucap ku sambil tersenyum.
"Bagaimana ya reaksi mbak Yola begitu dia tahu kalau calon suami nya itu bos perusahaan ini, dan entah sampai kapan pak Ricard Mau menyembunyikan status nya." Gumam bathin Ratih.
Ratih sudah tahu semua nya karena Ricard sendiri yang bicara kepada diri nya.
*******
[ Pov Ricard ]
__ADS_1
"Sayang, kamu kemana saja, mamah kangen lo." Ucap bu Mesty ibu nya Ricard.
Kini Ricard sedang menerima panggilan dari ibu nya, dan menanyakan kabar tentang nya.
"Ricard di kantor mah, nanti kapan-kapan Ricard pulang ke rumah." Ucap Ricard.
"Ngga, bagaimana pun cara nya sekarang temui mamah di rumah, mamah kesepian di rumah sendirian."
"Memang nya mamah tidak pergi ke rumah sakit?"
"Mamah ngambil libur satu minggu sayang."
"Ada apa? Mamah baik-baik saja kan?" Tanya Ricard penuh dengan rasa khawatir.
"Kemarin mamah kurang enak bada, mungkin karena mamah kecapean dan butuh istirahat."
"Mamah sakit? Kalau begitu Ricard sekarang pulang."
"Mamah tunggu ya nak."
Ricard pun mematikan ponsel nya. Dia berpikir untuk mencari alasan pulang ke rumah nya kepada Yola.
Terlihat oleh Ricard Ratih sudah masuk ke dalam ruangan Yola dan mengatakan apa yang dia suruh.
Ricard melihat kalau Yola sedang bingung pun langsung meraih ponsel dan menghubungi nya.
"Halo sayang." Ucap Ricard dengan mesra.
"Begini sayang, aku mau minta izin kalau hari ini aku mau mengantarkan bos mu, kasihan dia ngga ada sopir untuk menemui klien penting nya.
"Iya sayang, aku sudah bersama bos kamu, ya sudah aku mau antar bos kamu dulu, i love you."
Ricard menutup panggilan nya, bibir nya tersenyum lalu pergi keluar setelah memberi kode kepada Ratih.
Ricard pun langsung pergi untuk menemui ibu nya.
Dalam perjalanan pulang nya bibir Ricard terus tersenyum, dia sangat bahagia karena semakin hari hubungan nya dengan Yola semakin mesra saja.
*******
__ADS_1
Aku melihat jam yang ada di ruangan, jam sudah menunjukan jam waktu nya untuk pulang.
"Mas Ricard seperti nya belum pulang deh." Gumam ku sambil membereskan berkas-berkas di atas meja.
"Mbak, kita pulang bareng saja, kalau calon suami mbak belum pulang." Ucap mbak Ratih menawarkan diri.
"Ngga usah mbak, aku nunggu mas Ricard kembali saja." Ucap ku.
"Ya sudah kalau gitu kita keluar nya bareng saja."
Aku dan mbak Ratih pun berjalan berdampingan dan masuk ke dalam lift.
Mbak Ratih menemaniku menunggu mas Ricard kembali, tapi karena aku ngga mau menghambat jam pulang nya mbak Ratih, aku pun menyuruh mbak Ratih untuk pulang duluan.
"Mbak, mbak pulang duluan saja." Ucap ku.
"Ngga apa-apa, mbak akan temani sampai calon suami kamu datang."
"Tapi mbak?" Aku merasa ngga enak dengan mbak Ratih.
"Ngga apa-apa, atau bagaimana kalau kita menunggu nya sambil makan?"
"Ide yang bagus, ya sudah kita mau makan di mana mbak?" Aku menerima usul dari mbak Ratih.
"Bagaimana kalau kita makan di cafe itu." Ucap mbak Ratih sambil nunjuk ke cafe yang ada di seberang kantor.
"Boleh, yuk."
Aku dan mbak Ratih pun melangkahkan kaki menuju cafe.
Aku dan mbak Ratih duduk di tempat yang menurut kita nyaman, lagian meja kosong hanya ada beberapa saja.
Sambil menunggu makanan datang aku mengirim pesan kepada mas Ricard kalau aku menunggu nya di cafe seberang kantor.
Aku dan mbak Ratih pun bercengkerama hingga kita semakin dekat, aku menolak untuk dipanggil mbak oleh nya karena memang usia ku lebih muda dari mbak Ratih.
"Oh ternyata wanita murahan ini sedang makan di sini juga, kenapa ngga makan di restoran tempat pacar kamu bekerja saja." Ucap seseorang hingga membuat aku dan mbak Ratih menoleh ke arah suara.
Nampak tiga manusia yang sangat aku hindari dalam hidup ku, sebenar nya aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka, tapi mau tidak mau aku harus menghadapi nya tanpa ada mas Ricard di samping ku yang selalu menjaga ku.
__ADS_1
Mbak Ratih menatap ku dengan banyak pertanyaan, aku hanya mengangguk dan dan memberi kode dengan kerlingan mata ku.