Dendam Seorang Istri

Dendam Seorang Istri
Barang Ori


__ADS_3

Terlihat wajah mereka bertiga sedih, tubuh mereka seakan tidak ada tenaga untuk bangun, sebenar nya sih kasihan melihat mereka yang sedang terpuruk seperti itu apalagi melihat Elena yang sedang hamil besar, tapi mengingat akan semua penghinaan mereka kepadaku rasa kasihan itu dengan sendiri nya hilang.


"Tuan kalau semua cabang memutuskan kerja sama nya, saya membiayai anak dan istri saya dari mana?" Ucap Bagas dengan wajah penyesalan nya.


"Sekarang kamu ingat dengan anak kamu, kemarin kemana saja hah." Ucap mas Ricard dengan wajah yang tidak bersahabat.


Baru kali ini aku melihat wajah mas Ricard yang menampak kan kemarahan.


"Ternyata kalau marah seram juga kamu mas." Gumam ku dalam hati.


"Ampun tuan, maafkan saya dan saya mohon jangan memutus kerja sama nya." Lagi-lagi mas Bagas memohon.


"Maafkan kami tuan, kami tahu kami salah, tapi tolong jangan hancurkan perusahaan kami." Mamah Elsa ikut memohon kepada mas Ricard.


Semua orang melihat ke arah kami, ada yang merasa kasihan dan ada juga yang bahagia melihat mereka seperti itu.


"Untuk apa kalian sekarang memohon? Tidak ada guna nya sama sekali, perusahaan kita sudah hancur dan sekarang kita tidak punya apa-apa lagi." Ucap seseorang yang baru datang dan kini sudah berada di samping mereka.


Kia semua melirik ke arah suara dan ternyata itu pak Samba ayah nya mas Bagas.


"Papah."

__ADS_1


"Mas, maaf kan aku dan Bagas mas, kita berdua khilaf." Ucap mamah Elsa bersimpuh di depan suami nya.


"Sebelum melakukan sesuatu harus nya kalian memikirkan akan dampak dari semua perbuatan kalian, dunia ini berputar dan tidak mungkin Yola akan diam di tempat, sekarang terima saja hukuman dari tuhan untuk kita semua." Ucap pak Samba lalu menatap ke arah mas Ricard.


"Tuan Ricard, saya selaku ayah dari Bagas memohon maaf atas semua perlakuan nya kepada anda, dan saya pribadi menerima hukuman ini, terima kasih anda hanya memutuskan kerja sama dengan perusahaan nya dan anda masih berbaik hati tidak melaporkan kami ke polisi." Pak Samba dari dulu memang bijaksana orang nya, tidak seperti istri dan anak nya.


Ku lihat mas Ricard hanya diam dan tidak mau berkomentar apa-apa, aku menyentuh bahu nya membuat mas Ricard menatap aku.


"Kalian salah meminta maaf, karena seharusnya kalian meminta maaf kepada calon istri saya, karena calon istri saya ini sering kalian hina dan kalian sakiti." Ucap mas Ricard sambil memeluk bahu ku.


Keluarga mas Bagas termasuk Elena menatap ku lalu semua nya bersimpuh di depan ku.


"Yola, maaf kan semua kelakuan mas kepada kamu, mas janji tidak akan mengganggu hidup kamu lagi." Ucap mas Bagas sambil menunduk lesu.


"Nak, maaf kan mamah, selama ini mata hati mamah tertutup oleh kesombongan dan keangkuhan mamah." Mamah Elsa ikut meminta maaf kepada ku.


Nak? Sejak menikah dengan mas Bagas tidak pernah kata-kata itu keluar dari mulut nya, tidak ada kata-kata lembut yang keluar dari mulut nya untuk ku selain kata hinaan dan caci maki saja, tapi sekarang, kata-kata lembut dan sopan dia tujukan kepada ku.


"Yola, aku pribadi minta maaf sama kamu, aku sudah merebut mas Bagas dari hidup kamu, seandainya kamu ingin kembali sama mas Bagas, aku rela dan aku akan mundur dari mas Bagas, aku akan membesarkan anak ini sendirian asal kamu memaafkan semua kesalahan ku selama ini sama kamu." Ucapan Elena membuat ke dua mata mas Ricard menatap ku dengan tajam.


Sekarang saja sudah seperti ini kamu rela mundur dari samping nya mas Bagas, dulu sewaktu kamu merebut nya dari ku apa terbesit kamu akan mundur, yang ada kamu malah merasa bangga sudah merebut nya dari ku.

__ADS_1


Aku melihat ketakutan dan rasa cemburu di mata mas Ricard, dia seperti nya takut aku akan kembali kepada mas Bagas.


Aku memeluk erat pinggang mas Ricard sambil tersenyum, aku ingin dia tahu kalau aku tidak akan pergi dari nya.


"Nak, papah mohon, maaf kan kesalahan kita semua, keluarga papah sudah menerima hukuman nya, dan biar papah yang menghukum istri dan anak papah selanjut nya." Ucap pak Samba memohon kepada ku.


"Sudah lah lupakan semua nya, kalian semua sudah aku maaf kan, tapi untuk masalah perusahaan kalian, itu bukan urusan saya tapi semua itu urusan calon suami saya." Ucap ku sambil menatap mas Ricard dengan bibir ku yang tersenyum dan alhasil semua yang aku ucapkan membuat bibir mas Ricard ikut tersenyum.


"Oh iya, dan untuk kamu Elena, maaf aku sudah tidak ingin menerima barang bekas, jadi kamu ambil saja dan kamu pungut dia, karena aku sudah mendapatkan barang ori." Ucap ku lalu menatap dengan mesra wajah tampan mas Ricard.


Semua nya terdiam, mungkin kalau kondisi mereka masih seperti dulu, mereka akan marah kepadaku terutama mas Bagas, tapi sekarang aku yang mengendalikan semua nya sehingga aku bebas untuk berbicara apapun kepada mereka semua.


"Baiklah, karena calon istri saya sudah memaafkan kalian semua, jadi kalian juga saya maafkan, tapi kalau masalah kerjasama dengan semua cabang perusahaan saya, keputusan saya tidak bisa di ubah dan tetap akan memutuskan kerja sama nya." Ucap mas Ricard.


"Terima kasih tuan anda sudah berbesar hati sehingga anda mau memaafkan kami semua." Ucap pak Samba.


"Oh iya satu lagi." Ucapan mas Ricard membuat kita semua menatap nya karena penasaran dengan apa yang akan di ucapkan nya.


"Tidak lama lagi perusahaan kalian akan saya ambil alih, dan untuk kamu Bagas, kalau kamu tidak mau hidup sengsara, kamu boleh bekerja di perusahaan itu tapi di bagian gudang." Ucap mas Ricard.


Ternyata mas Ricard masih punya hati sehingga dia masih memberi kan mas Bagas pekerjaan.

__ADS_1


Ku lihat mas Bagas seperti nya mau protes dengan posisi nya, tapi pak Samba sebagai ayah nya menatap tajam kepada mas Bagas seolah-olah pak Samba menyuruh mas Bagas diam dan jangan melawan.


"Baiklah Tuan, terima kasih atas kemurahan hati nya sehingga anak saya masih bisa di terima bekerja di perusahaan, kalau begitu kami mohon undur diri dan sekali lagi saya pribadi mohon maaf untuk kejadian hari lalu dan hari ini." Ucap pak Samba lalu menjabat tangan kita semua di ikuti isti, anak dan menantu nya.


__ADS_2