
Tante Dori menangis sambil memeluk bu Mesti, dirinya kecewa dengan sikap Caca yang selama ini dia besarkan dari sejak bayi.
Dirinya merasa gagal dalam mendidik caca selama ini, selain kecewa dengan perilaku Caca anak angkat nya, tante Dori juga malu sama keluarga suami nya.
Mereka yang ikut menyayangi Caca dari kecil hingga mereka sudah menganggap Caca anak mereka juga tapi Caca telah menyalah artikan kasih sayang mereka kepada nya.
Tante Dori sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya menangis dalam pelukan kakak ipar nya.
Ingin sekali om Bimo menampar dan bahkan membunuh Caca sekarang juga, tapi dia masih sadar kalau Caca seorang anak perempuan, om Bimo hanya mengusap wajah nya dengan kasar.
"Pah, mah, maaf kan Caca." Lagi-lagi Caca memohon kepada orang tua angkat nya agar kesalahan nya di maaf kan.
"Pergi! Saya sudah tidak mau melihat kamu lagi, mulai sekarang aku hapus kamu dari kartu keluarga saya." Teriak om Bimo dengan mata nya yang sudah merah.
Bagaimana pun juga Caca sudah dianggap nya sebagai anak kandung nya sendiri, tapi dengan kejadian ini Bimo sudah merasa kecewa dan Bimo tidak mau kejadian yang sama terjadi lagi.
Ingin sekali Bimo menangis seperti apa yang sedang istri nya lakukan, tapi dia seorang pria yang bisa menahan rasa kesedihan nya di depan semua orang.
"Tidak pah, aku tidak mau, maaf kan aku pah, aku bersumpah tidak akan melakukan kesalahan lagi." Ucap Caca yang masih bersimpuh sambil terus menangis.
"Sudah cukup, jangan panggil saya papah lagi, saya sudah muak mendengar nya." Teriak om Bimo.
"Pikirkan baik-baik, jangan kamu mengambil keputusan di saat kamu emosi." Ucap pak Anwar sambil menepuk pundak nya.
Om Bimo hanya terdiam, rasa malu, kecewa, dan marah menjadi satu dalam diri nya.
Setelah mengeluarkan kemarahan nya Ricard menghampiri Yola dan menggenggam tangan nya.
Lea sedikit memberikan jarak buat Ricard agar bisa dekat dengan Yola.
__ADS_1
"Bangun sayang, aku mohon." Ucap Ricard sambil terus mencium telapak tangan nya.
Yola mengerjapkan ke dua mata nya, dia mulai sadar dari pingsan nya.
Pertama yang dilihat nya sosok Ricard yang sedang menunduk sambil terus mencium telapak tangan nya membuat Yola kaget dan berteriak.
"Tidak! Pergi kamu, tolong." Teriak ku sambil memeluk tubuh ku, aku belum sadar sepenuhnya kalau aku sudah berada di rumah nya kak Leo.
"Tenang sayang, kamu sudah aman, ini aku Ricard, aku calon suami kamu." Ucap mas Ricard membuat aku menatap ke arah nya.
"Tenang sayang, kamu lihat baik-baik, aku ini Ricard dan kamu sekarang sudah aman, kamu sudah berada di rumah Leo." Mas Ricard terus meyakinkan aku.
"Mas, ini kamu kan?" Tanya ku memastikan nya, aku takut yang aku lihat sekarang hanya halusinasi ku saja.
"Iya sayang, aku calon suami kamu, ini ada Lea dan kak Leo juga mamah dan papah ada di sini juga." Ucap mas Ricard sambil melihat ke arah mereka.
Aku langsung memeluk mas Ricard dengan sangat erat sekali, aku merasa bersalah dengan mas Ricard, aku merasa sudah ngga pantas lagi untuk menjadi pendamping mas Ricard.
"Tidak sayang, bagaimana pun keadaan kamu, mas akan menerima kamu."
"Kamu lihat mereka, terbuat dari apa hati kamu itu, kamu dengan tega nya ingin mereka berpisah, sekarang kamu pergi dari sini, sudah tidak ada tempat lagi untuk kamu di keluarga ini." Teriak om Bimo lalu menyeret Caca keluar dari rumah Leo.
Om Bimo sudah memikirkan nya dengan keputusan mengusir Caca dari dalam kehidupan nya.
"Pah." Teriak tante Dori yang merasa kasihan dengan Caca, tante Dori memang sedang marah dengan Caca, tapi melihat Caca di perlakukan seperti itu oleh suami nya ada rasa kasihan di hati nya.
Om Bimo tidak mendengar teriakan dari istri nya dan terus menyeret Caca hingga kini Caca sudah berada di luar rumah.
Bu Mesti memeluk erat tante Dori, "Sudah lah jangan di tangisi lagi, kalau memang kamu menjaga dan menyayangi Caca harus sampai di sini ikhlas kan saja, kita sayangi dan jaga Yola mulai sekarang, kita anggap Yola anak kita." Ucap bu Mesti sambil mengusap lembut punggung tante Dori.
__ADS_1
Di rasa tante Dori sudah tenang, bu Mesti pun melepaskan pelukan nya lalu menghampiri Yola.
"Sayang, kamu sudah aman sekarang, kamu jangan memikirkan apa-apa, kami semua menerima kamu dan jadilah kamu anak di rumah kami bukan jadi menantu." Ucap bu Mesti sambil mengusap lembut punggung ku.
"Tapi mah, aku sudah_"
"Tidak! Stop! Sudah lupakan semua nya, sekarang kamu mandi untuk menghapus jejak pria brengsek itu, dan kamu ngga usah khawatir lagi, aku akan selalu menjaga kamu dan kita akan menikah besok biar aku bisa selalu ada di samping kamu selama nya." Ucap Ricard membuat semua orang kaget dan saling menatap.
"Nak, apa tidak tergesa-gesa dengan keputusan kamu? Kita belum menyiapkan segala sesuatu nya." Ucap pak Anwar.
"Aku akan menyuruh orang-orang ku untuk mempersiapkan semuanya mulai besok pagi, dan malam hari nya kita akan melangsung kan pernikahan kita." Ucap Ricard dengan sungguh-sungguh.
Semua nya terdiam, mereka tidak bisa menolak atau membantah keinginan Ricard.
"Lea, tolong bawa Yola ke kamar dan suruh dia untuk segera membersihkan tubuh nya, kita menunggu nya di sini." Ucap mas Ricard sambil menatap ke arah Lea.
"Ayo mbak." Ajak Lea sambil menggandeng tangan ku dan membawa ku ke kamar.
Sedangkan Caca di luar sedang menangis tersedu sambil memeluk kedua lutut nya, dia menyesali semua perbuatan nya.
Kini dia harus siap menjadi seorang gelandangan, dia tidak tahu harus pergi kemana lagi.
Caca bangun dan mulai melangkahkan kaki nya, dia berjalan tanpa arah dan tujuan.
Pikiran Caca kacau dan kalut, Caca terus memikirkan semua yang sudah dia lewati dan dia lakukan.
Tanpa di sadari nya ada dua orang preman sedang mengikuti nya.
Di jalan sepi dan sedikit gelap ke dua preman itu membekap mulut Caca dan membawa nya ke semak-semak.
__ADS_1
Mereka berdua pun memper ko sa Caca dengan cara bergilir, Caca hanya bisa menangis dan meratapi nasib nya.
Hancur semua nya, masa depan yang seharusnya cerah kini menjadi gelap, kesucian yang selama ini ia jaga untuk orang yang ia cintai pun harus hilang di renggut oleh ke dua preman dengan cara tidak manusiawi.