Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Masa yang berbeda


__ADS_3

7 tahun sudah berlalu. Setelah di bawa ke Amerika Shireen dan keluarganya mulai menata hidup baru yang jauh dari kehidupan sebelumnya.


Berita kematian Steen sudah tersebar beberapa tahun belakangan dan kakek Bolssom maupun nenek Rue tak pernah mau mengungkit soal itu lagi.


Mereka ingin Shireen hidup tanpa bayang-bayang Edwald yang hanya menyakiti wanita itu. Bahkan, selama 7 tahun ini Shireen memang hidup tapi, hanya demi putranya.


Ealnest Ech Harmon. Bayi prematur yang dulu menjadi sumber tujuan Shireen hidup-pun sudah besar bahkan wajahnya bahkan menjiplak persis ketampanan sang ayah.


"Uncleeee!!"


Suara cempreng tapi nyaring dan tegas yang mengalun dari arah kolam renang. Seorang pria yang tadi tengah menelpon di kediaman depan sana terperanjat begitu juga para pelayan yang ada di sini langsung berlari ke kolam renang di samping bangunan megah ini.


"Eal!!" Paniknya bergegas ke sana. Saat pintu kaca geser di samping di buka, alangkah terkejutnya semua orang yang tadi berbondong kesini.


Bocah dengan wajah tampan dan tinggi sepadan anak 7 tahunan itu berbalik dan dengan santai menunjukan sebuah pisau dapur yang sudah berlumuran darah.


Ia hanya memakai celana pendek tanpa atasan itu-pun sudah basah.


"Uncle! Aku sudah membunuhnya!"


"Kau..."


Cooper seketika gelisah. Ia menyuruh para pelayan wanita yang tadi syok melihat itu segera pergi dari sini. Saat tak ada lagi yang ada di sekitar sini barulah ia mendekati Ealnest yang masih santai memeggang pisau dapur itu.


"Apa yang kau lakukan? Jika sampai mommy-mu tahu, kau akan habis," Ancam Cooper mengambil alih pisau di tangan Ealnest lalu menjauhkan bocah ini dari pinggir kolam yang sudah bercampur dengan darah seekor anjing.


Cooper bingung. Mayat anjing kesayangan milik klien kerja Shireen yang tadi pagi di titipkan disini sudah mengapung di dalam air dengan keadaan sangat tragis.


Ealnest hanya diam. Netra hijaunya yang sama persis dengan Edwald memandang datar tubuh anjing itu lalu beralih pada kedua tangannya yang berlumuran darah.


Sudut bibir pink alaminya terangkat membentuk sarkasan yang mengerikan bahkan Cooper sampai merinding. Ia melihat Edwald di dalam tubuh Ealnest.


"Siapa suruh dia mendekati mommy-ku?!"


"Eal! Mommy-mu dan dia rekan kerja. Mau sampai kapan kau akan selalu melukai mereka?" Tanya Cooper sudah jengah karna Ealnes selalu menyeleksi siapa saja yang mendekati mommy-nya.


Ealnest tak tahu siapa ayahnya karna setiap ia menanyakan itu pada Shireen maupun nenek Rue atau kakek Bolssom maka, mereka akan mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah membuat kriteria daddyku sendiri. Jika mereka tak memenuhinya, jangan harap bisa mendekati mommy-ku."


"Terserah kau saja. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya," Gumam Cooper pusing. Ealnets yang tak mengerti hanya diam.


Ia di tarik Cooper untuk mencuci tangan di kolam ini. Pria dengan bekas luka bakar di bagian leher yang sudah agak memudar itu sangat telaten membersihkan tangan Ealnest agar tak bau amis.

__ADS_1


"Uncle! Dimana daddyku?"


Cooper diam. Ia masih terluka akan kejadian bertahun-tahun lalu. Apalagi, saat malam dimana Shireen ingin di bawa pergi untung saja salah satu anggota yang dulu menolongnya dari maut mengatakan jika Shireen akan di bawa pergi.


Cooper yang saat itu dalam kondisi parah tapi sudah lebih baik-pun bertekad untuk mengikuti kemanapun Shireen dan Ealnest pergi sesuai permintaan Edwald dulu.


Melihat Cooper lagi-lagi diam, Ealnest langsung kesal. Wajahnya dingin dan datar menarik tangannya dari genggaman Cooper.


"Kalian itu aneh. Jika aku tak punya daddy maka, jangan diam. Aku bisa memilih pria di luar sana untuk menjadi daddyku."


"Eal! Kau punya tapi,.."


Cooper tak bisa mengatakan apapun. Jika sampai Ealnest tahu ayahnya seorang kriminal bahkan sudah di hukum mati maka, ntah apa yang akan terjadi.


"Tapi apa? Dimana dia?"


"Daddymu itu ada dalam hati mommy-mu. Paham?"


Ealnest hanya membelo jengah. Selalu saja begitu dan tak ada kemajuan sama sekali.


"Mommy juga seperti tak kenal daddy," Gumam Ealneat menatap datar tubuh anjing yang ada di permukaan air. Cooper hanya bisa diam, pantas Ealnest selalu bertanya karna memang anak seusianya tengah dalam masa ingin tahu segala hal.


"Baiklah. Ayo bantu aku membuang i.."


Setiap Ealnest membuat kekacauan maka ia akan jadi tangan kanan bocah itu untuk membereskannya agar Shireen tak tahu.


Tapi, jauh dari mata Cooper memandang Ealnest seperti Edwald yang dulu juga sangat menyebalkan.


"Kau maupun anakmu sama saja," Gumam Cooper mengambil nafas dalam lalu segera membereskan semua ini.


Sementara di dalam sana. Ealnest pergi ke arah tangga menuju kamarnya di atas dengan para pelayan yang tadi ada di depan hanya bisa memandang Ealnest takut.


"Kalian ingin memberitahu mommy-ku?" Tanya Ealnest berbalik memandang mereka dengan sangat tajam dan membunuh.


Alhasil para pelayan itu berhamburan pergi membuat Ealnest menaikan satu alisnya tajam. Sedetik kemudian terdengar suara mobil di depan sana.


Ealnest sangat hafal dengan suara mobil Rolls Royals milik Shireen. Ia bergegas pergi berlari ke kamarnya yang ada di depan kamar Shireen.


Pintu itu Ealnest dobrak kasar hingga ia segera pergi ke ruang ganti mencari pakaian baru yang tak ada percikan darahnya.


"Bahaya jika mommy tahu," Gumam Ealnest memakai celana pendek berbahan denim lalu atasan kaos simpel berwarna putih.


Ia merapikan penampilannya sampai mencium kedua tangan dan bahunya takut jika aroma darah itu masih tersisa.

__ADS_1


"Booy!!"


Suara Shireen terdengar tegas dan lembut di luar sana. Ealnest segera berlari keluar kamar menuju area tangga dimana Shireen sudah tampak cantik mempesona dengan tampilan keibuannya.


"Mom!"


"Kesini!" Ujar Shireen terlihat lebih beraura wanita dewasa. Rambutnya yang dulu selalu terurai sekarang sudah di sanggul indah dengan hiasan yang natural dan pakaian lebih tertutup.


Ealnest mendekat. Wajahnya yang tadi tampak menakuti para pelayan di bawah sana seketika berubah hangat memandang sang ibu.


"Mom!"


"Dimana peliharaan uncle Brandon? Sayang!" Tanya Shireen menggendong tubuh Ealnest yang diam beralih memandang ke ujung tangga.


Pria berjas dengan wajah ramah dan jambang tipis tampak dewasa itu memandang kearahnya.


"Dimana? Uncle Brandon ingin pulang!"


"Eal tak tahu," Datar Ealnest mengalungkan kedua lengannya ke leher jenjang Shireen yang merasa aneh.


Ia menyipitkan mata hitam indahnya seakan memastikan kebenaran.


"Benar, mom! Eal tak tahu."


"Dimana uncle Cooper?" Tanya Shireen mengusap rambut Ealnest kebelakang agar lebih rapi hingga wajah tampak bocah ini sukses membuat Brandon terkesima.


"Eal baru saja dari kamar. Mungkin bersama uncle Cooper, mom!"


"Baiklah! Pergi ke kamarmu, hm?!" Ucap Shireen mengecup pipi Ealnest yang ia turunkan. Ealnest mengangguk kembali berlari ke kamarnya sedangkan Shireen berjalan turun dengan elegan.


Saat di penghujung tangga sana, ia berhadapan dengan Brandon yang tadi menyaksikan percakapan ibu dan anak itu.


"Peliharaanmu mungkin ada di sekitar sini."


"Ouh, aku akan mencarinya," Jawab Brandon segera pergi ke arah pintu samping dimana kolam renang tengah di kuras oleh Cooper habis-habisan.


Shireen juga berjalan mengikuti Brandon karna merasa bertanggung jawab atas peliharaan rekan kerjanya.


Di tepi kolam sana. Cooper kewalahan membersihkan darah yang bercecer di lantai sedangkan kolam renang yang tadi tercampur darah anjing itu juga masih menampung seperempat air.


"Anak itu memang sangat menyusahkan!" Gumam Cooper yang menggosok lantai. Untung saja ia sudah membuang hewan malang itu dari sini.


.....

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2