Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Besok Kita Mulai


__ADS_3

Wesson tengah bicara dengan salah satu penjaga yang tadi menghadang penyerangan itu. Ia berdiri di depan pintu kamarnya menyelidiki tentang penembakan tadi.


Apa Shireen benar-benar menembak atau wanita itu hanya menduganya saja?!


"Apa yang terjadi? Kenapa dia sampai ketakutan seperti itu?" Tanya Wesson mencecar.


"Tuan! Memang tadi ada satu anggota musuh yang lolos. Dia mendekati pelayan-mu dengan niat melecehkan dan membunuh. Saat pistol beralih ke tangan wanita itu, tiba-tiba saja tuan Steen menembak dari belakang!"


"Steen?" Gumam Wesson tersentak. Mustahil Edwald mau menolong seseorang yang tak penting baginya.


"Yah, tuan! Untuk detailnya kami tak tahu karna keduanya terlihat bicara tapi wanita itu seperti marah besar."


Wesson menghela nafas dalam. Ia harus menemui Edwald untuk memperjelas maksudnya menakuti Shireen dengan cara seperti ini.


"Panggil dia ke kesini!"


"Baik!" Jawab penjaga itu dan pergi. Wesson bersandar ke daun pintu dengan pikiran yang melayang. Ia tak bodoh untuk mengira jika Edwald dan Shireen pasti memiliki hubungan karna sejak pertama mereka bertemu ada hawa aneh yang sangat mengganggu.


"Dia memang misterius," Gumam Wesson kembali masuk ke dalam kamar.


Diatas ranjang sana Shireen sudah tertidur. Untung saja tadi ia tak terluka dan hanya mengalami keram karna kedinginan.


Wesson duduk di tepi ranjang memandangi lekat wajah pucat cantik Shireen yang tadi gemetar dan melamun. Ia tahu Shireen pasti tak biasa dengan baku tembak dan darah hingga jiwanya cukup terguncang.


"Kau berbeda," Gumam Wesson mengulur tangannya untuk menyentuh puncak kepala Shireen.


Jarinya perlahan terulur membelai pipi lembut dan mulus ini dengan tatapan terpikat yang dalam. Banyak wanita yang cantik di luar sana tapi Shireen memiliki kehangatan bahkan bisa membuat orang nyaman di sampingnya.


"Tak tahu kenapa aku sangat nyaman denganmu. Jauh dari keindahan fisik ini, batinmu lebih cantik," Gumam Wesson tanpa sadar membungkukkan tubuhnya dengan niat ingin mengecup bibir pink agak pucat Shireen yang menjadi daya pikat bagi lelaki.


Saat jaraknya hanya 2 senti lagi. Tiba-tiba saja suara keras dari pintu mengejutkan Wesson yang seketika menarik diri dari posisi ini.


Ia menoleh ke sumber suara tadi dan ternyata Edwald berdiri di depan pintu dengan pecahan vas yang tadi ada di sampingnya.


"Steen!"


Wesson berdiri. Wajah Edwald benar-benar dingin bahkan kedua tangannya mengepal melihat Shireen terbaring di atas ranjang lelaki lain yang nyaris saja mengambil keuntungan besar.


"Kau memecahkan vas-nya?"


"Tak sengaja," Datar Edwald acuh. Pandangannya masih mengintimidasi ke arah Shireen yang masih belum sadar.


Sungguh darah Edwald mendidih melihat wanita itu ada disini. Bahkan, ia ingin sekali menyeretnya keluar dan mengikat Shireen erat di tiang ranjangnya.


"Masuklah!"

__ADS_1


Edwald masuk dengan langkahnya yang tegas. Ia berdiri berhadapan dengan Wesson yang berwajah tenang menghadapinya.


"Kenapa kau menakutinya?"


"Aku?" Tanya Edwald santai.


"Yah. Bukan dia yang menembak tapi kau mengatakan hal berbeda," Jawab Wesson menyelipkan nada marah.


Sangat berbeda dengan Edwald yang justru tersenyum licik dan remeh. Ia menatap Shireen dengan pandangan yang jenaka seperti tak menghiraukan wanita itu.


"Dia tak bisa melindungi dirinya sendiri. NA'IF!"


"Wajar dia seperti itu karna dia tak sama dengan kita. Untuk apa kau sampai melakukan hal ini, ha?" Kesal Wesson sangat mengkhawatirkan Shireen. Mendengar hal itu darah Edwald semakin mendidih. Tatapan penuh cinta dan kagum Wesson pada Shireen sangat-sangat mengusiknya.


"Kau menyukainya?"


"Yah. Jika tidak untuk apa aku bawa dia ke kamarku," Tegas Wesson sontak membuat kepalan tangan Edwald di dalam saku celananya.


Wajahnya tenang tapi ada ranah iblis yang tengah bergejolak di dalam sana.


"Dia hanya akan menambah bebanmu!" Tukas Edwald tapi Wesson tak perduli.


"Aku tak masalah. Jangan kau lakukan hal itu lagi dan dia tak ada hubungan apapun denganmu, paham?"


"Kau kenal dia?" Tanya Wesson menyelidik.


Edwald diam sejenak melukis jelas wajah Shireen di matanya.


"Aku tak sudi!"


"Baguslah," Gumam Wesson lega. Ia pikir Edwald juga menyukai Shireen atau mungkin keduanya menjalin kedekatan sebelumnya.


"Kalau dia menerimaku. Aku akan menikahinya!"


"Nikahi secepat mungkin. Atau dia akan di rebut oleh-ku," Kelakar Edwald di anggap candaan oleh Wesson yang tak tahu jika ucapan Edwald memang sangat benar.


"Steen! Kau sudahi acara bermain-mainmu. Nikahi Kimmy!"


"Itu pasti!" Jawab Edwald tapi masih memandang Shireen. Ia tahu wanita ini sama sekali tak tidur karna ia melihat pelupuk mata Shireen bergetar dan bibirnya terkatub rapat.


Padahal, saat Shireen tidur pasti bibirnya akan merekah kecil bak kelopak bunga dengan posisi tidur tidak seperti ini. Dari mana Edwald tahu?! Sudah jelas hobby tersembunyi-nya memandangi Shireen sepanjang malam.


"Pastikan dia tak menularkan penyakit untukmu!"


"Kau terlalu pedas," Gumam Wesson membiarkan Edwald pergi. Ia jadi lega setelah mengetahui jika Edwald tak menentang hubungannya dengan Shireen.

__ADS_1


Namun, tanpa sepengetahuan Wesson. Edwald menempelkan alat penyadap suara di ranjang Shireen. Benda kecil samar itu melekat di bawah tiang ranjang dengan rapi.


Wesson pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sementara Shireen segera membuka mata. Ia mendengar semua percakapan dua pria itu dan yang paling membuatnya bertambah muak adalah sikap Edwald.


"Aku memang tak bisa menyaingi kekuatanmu tapi lihat saja. Aku akan membongkar semua kedok kriminal kalian," Gumam Shireen sudah memiliki rencana yang tepat.


Ia akan mencari bukti pekerjaan ilegal disini dan memberikannya pada pihak kepolisian. Yah, dengan begitu kelompok mafia ini akan mendekam bahkan membusuk di penjara.


"Kau sudah sadar?"


Suara Wesson dari arah pintu kamar mandi. Pria itu masih berpakaian lengkap ingin mengambil handuk tapi ia melihat Shireen sudah membuka mata.


"Apa tubuhmu masih sakit? Atau kau merasa bagian lain yang tak nyaman?"


"Hm, Kepalaku sedikit pusing," Lemah Shireen memeggangi kepalanya.


Wesson segera mendekat. Ia meraih gelas air di atas nakas ranjang lalu duduk di samping Shireen.


"Minumlah!"


Shireen mengangguk meminum air yang di sodorkan Wesson. Ia terlihat benar-benar lemah padahal tubuhnya sudah membaik.


"Apa perlu aku panggil dokter?"


"Tidak. Aku hanya butuh tidur," Lirih Shireen memejamkan matanya sejenak menenagkan pikiran.


Wesson menghela nafas dalam. Jika begini terus nyawa Shireen akan dalam bahaya. Ia juga tak bisa selalu ada di samping wanita ini.


"Kau belajar beladiri?"


"Ha?" Tanya Shireen agak terkejut. Shireen diam saat Wesson menggenggam kedua tangannya. Perasaan tulus Wesson benar-benar membuat Shireen mematung.


"Aku akan mengajari beladiri dan menggunakan senjata. Jangan berpikir aku akan memperalat-mu tapi aku hanya ingin kau baik-baik saja dan.."


"Aku mau!" Sambar Shireen bersemangat. Ia baru sadar jika datang kesini hanya mengandalkan tubuh lemahnya maka ia tak akan bertahan dua hari.


"Kau yakin?"


"Yah, yakin!" Jawab Shireen tapi tersentak saat Wesson memeluknya. Ia kaku dan tak bisa bergerak karna ia belum pernah di peluk seerat ini.


"Besok kita mulai."


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2