
Asap hitam yang mengepul ke atas dan hancurnya salju yang melebur hebat langsung mengguncang tempat ini. Mereka terkejut bahkan masih syok dengan apa yang terjadi.
"Eeeeed!!"
Teriak Shireen keras berlari ke arah kepulan asap yang mulai redup itu diikuti Wesson yang menahan lengannya.
"Shireen! Itu bahaya!"
"T..tidak. Tidak!!!" Teriak Shireen memberontak kembali melanjutkan langkahnya. Ia tak peduli lagi dengan salju yang berhambur dan hamparan mayat yang sudah tak berbentuk karna ledakan itu.
Ia menguak asap yang menyebar masuk dalam poros ledakan tadi mencari dimana Edwald. Sungguh, jantungnya berdebar begitu kuat saat melihat banyak potongan tubuh manusia disini dan yang paling Shireen takutkan ada bagian dari Edwald disana.
"Eeed! Kau.. Kau dimanaa??" Teriak Shireen mencari-cari diantara reruntuhan bangunan. Wesson yang juga khawatir mendekati Shireen yang sudah benar-benar pucat.
"K..kau dimanaa??"
"Steen!" Gumam Wesson berdiri di belakang Shireen yang berjongkok mengais tumpukan salju tebal di kakinya. Heels yang ia kenakan sudah tak bisa di gunakan karna timbunan salju yang berat.
Alhasil Shireen tak memakai alas kaki seakan tak peduli jika kulitnya akan membeku.
"Shireen! Kau pergilah ke mobil. Aku.."
"Kalian jangan diam saja!!! Cepat temukan diaaa!!" Teriak Shireen bercampur marah pada para anggota yang tadi mematung.
Mereka segera sadar dari lamunannya lalu bangkit ikut mencari dimana Edwald. Walaupun mungkin dia sudah tiada pasti ada bagian tubuhnya yang bisa di kenali.
Mersi yang ada di sana diam sejenak. Ia tampak pucat karna merasa ini sangat mustahil tapi, yang ia khawatirkan adalah anggota musuh yang baru akan datang karna keadaan sudah tak terkendali.
"Tuan!"
Mersi mendekati Wesson yang tampak juga menahan kegelisahan.
"Tuan! Sebaiknya kau pergi dari sini. Musuh bisa saja kembali datang karna tuan Steen sudah tiada!"
"JAGA MULUTMU!!!" Geram Shireen langsung menampar Mersi hingga Wesson terkejut.
Cooper yang juga merasa panik ikut senang dengan tamparan yang Shireen layangkan pada Mersi karna mulut wanita itu terlalu lancang.
"Kau menamparku??" Emosinya kelam.
"Yaah!! Berpikirlah sebelum kau bicaraa!!"
"Ini bukan waktunya untuk berpikir. Wanita sepertimu tahu apa?!! Semua ini terjadi karna dirimu!!" Bantah Mersi keras sampai Wesson menyambar.
"Mersi!"
"Tuan! Aku sudah bilang padamu sebelumnya. Dia bukan wanita baik-baik dan berhentilah bersandiwara seakan-akan kau peduli pada GYUF!!" Geram Mersi menyorot penuh kebencian pada Shireen yang tak bisa berkata-kata karna ucapan Mersi ada benarnya juga.
"Kau diam-kan?! Kau diam karna semua yang ku katakan itu benar!"
"Itu tuan Steeen!!"
Teriak salah satu anggota yang telah berdiri di balik reruntuhan atap yang cukup tinggi. Mereka semua bergegas mendekat terutama Cooper yang terkejut melihat Edwald tergeletak di tumpukan kayu ini.
"Astaga, Steen!"
Paniknya langsung membantu para anggota memapah Edwald keluar dari reruntuhan. Mereka semua bekerja sama membawa Edwald yang tampak masih sadar masuk ke penginapan baru yang ada di samping bangunan ini masih satu resort.
Shireen mengikuti mereka dengan perasaan harap-harap cemas. Ia berjalan mendahului para anggota GYUF masuk ke dalam penginapan ini.
"Baringkan disini!"
Pinta Shireen menepuk sofa panjang di ruang tamu. Ia mendorong meja di dekatnya untuk memperluas dan mempermudah anggota GYUF dan Cooper membaringkan Edwald ke sofa panjang ini.
Fokus Shireen tertuju pada luka bakar di kaki dan bahu bagian kanan Edwald. Mantel yang pria itu pakai sobek di bagian bahu dan betis sebelah kanannya hingga terlihat ada luka bakar akibat ledakan tadi.
"Ambilkan kotak obat!" Pinta Shireen duduk di samping Edwald yang memejamkan matanya. Shireen sangat khawatir melihat luka-luka ini sampai tangannya ikut gemetar melepas mantel yang sudah tak bisa di pakai.
"Wesson! Kau harus hubungi dokter secepatnya!"
"Aku mengerti," Jawab Wesson segera pergi ke depan menghubungi dokter pribadi mereka.
Cooper yang juga panik melepas kedua sepatu Edwald yang sudah di penuhi bubuk salju.
__ADS_1
Salah satu anggota yang tadi mengambil kotak obat sudah turun dan memberikan benda itu pada Shireen yang sigap mengambilnya.
"Ambilkan aku air hangat. Kakinya dingin, cepat lakukan!!"
"Baik, nona!" Jawab mereka bepergian sesuai perintah Shireen.
Wajah cantik wanita itu sudah kelap. Shireen yang tampak menahan air matanya membuka mantel Edwald dibantu Cooper yang juga terlihat sangat khawatir.
"Steen! Tak bisanya kau begini. Ada apa denganmu?!" Emosi Cooper bercampur takut.
Shireen yang juga merasakan hal yang sama bahkan lebih itu segera memeggang pipi dingin Edwald. Wajah pria ini sangat pucat membuat Shireen takut dan sangat takut.
"E..ed! Kau.. Kau sadarlah. A..aku mohon."
Mata Edwald tetap tertutup. Cooper diam sejenak. Pandangannya turun ke lengan Edwald dimana ia melihat jari pria ini bergerak.
"Steen!! Kauu.."
Saat Cooper ingin bicara tiba-tiba saja ada kode tersembunyi dari jari Edwald. Pria ini mengetuk tiga kali tanpa sepengetahuan Shireen yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.
"Shiiit!!"
Umpat Cooper berdiri langsung membuat mereka tersentak. Para anggota yang ada disini kebingungan apalagi Shireen yang tampak mengartikan respon Cooper sebagai sebuah diagnosa.
"A..apa yang terjadi? Dia.. Dia baik-baik saja-kan?" Cemas Shireen membuat Cooper terdiam menatap wajh tampan Edwald yang lagi-lagi membuatnya ingin berteriak memaki pria ini.
"Kau memang licik, Steen!"
Batin Cooper menahan kesal tapi segera sadar saat Shireen sudah benar-benar khawatir.
"Apa yang terjadi? Kenap dia belum sadar?"
"Steen.."
Cooper tak bisa melanjutkan kalimatnya seperti sangat berat dan murung. Jantung merek berpacu cepat begitu juga Shireen yang langsung menempelkan telinganya ke dada Edwald.
"J..jantungnya masih ada. Dia.. Dia masih ada, hiks! Jangan seperti ini!!" Isak Shireen sudah tak sanggup dengan degupan takut di dadanya.
"E..ed! Kau.. Kau mendengarku, kan? Kau.."
"Sebaiknya cepat kau obati! Kalau tidak aku tak yakin dia bisa bertahan lama!" Sela Cooper memantik rasa takut Shireen yang semakin menjadi-jadi. Ia menepuk-nepuk pipi Edwald ringan dengan harapan pria ini sadar.
"K..kau dengar aku! Bangun, ayo buka matamu, buka!"
"Dia tak akan bangun dengan cara seperti itu," Gumam Cooper setengah mengumpat. Ia sudah tak lagi panik karna seperti biasa Edwald-lah malaikat maut itu.
Setelah beberapa lama Shireen memanggil Edwald dengan suara paraunya. Tiba-tiba saja Edwald terbatuk dan sontak Shireen sigap melihatnya.
"Kau.. Kau sadar? Edwald, apa kau baik-baik saja?" Cemas Shireen tampak begitu perhatian.
Edwald yang melihat wajah cantik ini sudah sembab merasa bersalah karna berbohong tapi, ia tak bisa menahan kerinduannya.
"Kau jangan diam saja!! Katakan sesuatu, hiks!"
"Susst!! Aku baik-baik saja," Bisik Edwald segera memeluk Shireen yang sangat trauma dengan yang namanya kehilangan.
Ia menangis di pelukan Edwald yang mengusap kepalanya.
"Tenanglah! Aku hanya terluka ringan, hm?"
"Kenapa kau ceroboh? Kau bisa saja mati sia-sia!! Apa yang kau pikirkan, ha??? A..apa kau.."
Shireen terdiam saat kepalanya tiba-tiba pusing. Edwald yang melihat wajah pucat Shireen segera memeggang bahu wanita itu.
"Kau pusing?"
Shireen tak menjawab. Pandangannya berkunang berputar membuat perutnya sangat mual. Tahu akan semua ini, Edwald segera ingin bangkit tapi Shireen menahan pinggangnya.
"Kau harus istirahat!"
"A..aku baik-baik saja," Jawab Shireen menunduk untuk segera merilekskan kepalanya.
Edwald yang khawatir menatap Cooper yang paham. Ia memboyong para anggota disini untuk keluar dulu termasuk Mersi yang tadi hanya memandang dari arah pintu depan.
__ADS_1
Saat hanya mereka disini, Edwald segera meraih duduk dengan baik mengacuhkan luka-luka di tubuhnya.
"Ayo ke kamar! Ini sudah malam dan kau harus tidur!"
"L..luka mu.."
"Ini luka kecil," Jawab Edwald ingin turun dari sofa tapi Shireen menahan pahanya. Keduanya saling pandang sejenak dengan mata sayu Shireen yang tampak kekeh ingin disini.
"Obati dulu lukamu!"
"Aku tak akan mati dengan luka seperti ini."
"Tapi, aku yang akan mati!!" Sambar Shireen kelepasan emosi sampai Edwald mematung memandangnya kosong.
Shireen segera sadar. Ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah dengan wajah linglung dan canggung.
"M..maksudku, kau..kau tak boleh mati jika tak di tanganku!" Elak Shireen tak berani bersitatap dengan Edwald yang diam tapi dadanya tengah diterbangi banyak kupu-kupu.
Tak ingin dalam suasana seperti ini lagi, Shireen segera berdalih dengan membahas tentang luka Edwald.
"B..bagaimana lukamu? Ini bisa saja infeksi dan kau akan menularkannya padaku!" Ketus Shireen menunjuk ke bahu Edwald yang tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
"Kau mencemaskan ku?"
"T..tidak!! Kau bicara apa?!" Bantah Shireen melempar kapas yang tadi ia peggang ke wajah Edwald lalu berdiri ingin pergi.
Tapi, Edwald sigap mendesis sakit cukup keras hingga Shireen bergegas kembali.
"A..asss!!"
"Jangan banyak bergerak," Gumam Shireen kembali duduk di tempatnya tadi. Edwald diam tapi tak dipungkiri jika ia sangat menyukai momen ini.
Melihatmu mengkhawatirkan aku, itu sudah membuatku senang.
Arti pandangan Edwald yang menatap lekat Shireen. Wanita ini dengan telaten melepas kaos yang ia pakai hingga tubuh atletis Edwald dipertontonkan.
Wajah Shireen memerah melihat panorama jantan yang dulu sangat ia minati tapi sekarang rasanya sudah semakin canggung.
"A..aku.."
"Bersihkan lukanya!" Pinta Edwald mendekatkan bahu kekarnya pada Shireen yang mematung. Begitu juga Edwald, jantungnya berdebar kala menghirup aroma mawar yang khas dari tubuh Shireen.
Shireen yang berusaha mempertahankan wajah datarnya dengan cepat memoleskan kapas ini ke luka di bahu Edwald. Tak ada raut sakit di wajah tampan yang fokus pada Shireen yang justru mendesis sendiri karna ikut ngeri.
"Lukamu cukup dalam. Apa tak perih?"
Tanya Shireen meniupnya halus tapi Edwald hanya menikmati visual wajahnya dari jarak sedekat ini. Ntahlah, semalaman-pun dalam kondisi ini Edwald rela asal Shireen yang mengobatinya.
Lama Edwald diam sampai Shireen yang tahu Edwald tengah memandanginya langsung menekan kapas itu di luka ini.
"A.. KAUU.."
"Masih ingin memandangku?!" Geram Shireen memelototi Edwald dengan mata tajamnya. Tapi, di mata Edwald semua yang di tunjukan Shireen adalah sebuah seni yang indah.
"Lalu, aku harus menatap apa?"
"Pejamkan matamu!" Tekan Shireen membekap kedua mata Edwald dengan tangan kirinya sedangkan tangan kananya mengobati luka bakar ini.
Edwald hanya pasrah. Ia membelit pinggang Shireen mencari keuntungan untuk bermanja pada wanita ini. Seumur-umur baru kali ini ia mau terlihat lemah dan tak berdaya hanya karna seorang wanita.
"Kau ingin membunuhku, ha??" Desis Edwald kala Shireen begitu kasar mengusap lukanya.
"Jika kau mengintip, aku akan memukul dadamu!"
"Tak cukup kau melubangi perutku, hm?" Kelakar Edwald namun hal itu hanya di jawab umpatan Shireen yang sangat berani memakinya terang-terangan.
Semua itu langsung tertangkap di kamera Mersi yang tadi merekam semuanya. Ia mengirim ini pada Kimmy agar wanita itu tahu jika Shireen benar-benar sudah membuat tahta tertinggi di hati pria arogan itu.
"Lihat saja, kau tunggu giliran mu!" Geram Mersi tak sabar ingin melenyapkan Shireen. Ia harus menunggu Edwald pergi dan barulah mereka bergerak cepat.
.....
Vote and like Sayang..
__ADS_1