
Beranjak dari markas tadi, Edwald langsung menemui tahanan baru yang telah di bawa ke kota Verona oleh anggota tersembunyi mereka. Tepat di sebuah gedung tua terbengkalai jauh dari keramaian kota ini, mereka melakukan penyelidikan intens.
"Apa tugasmu di dalam rumah sakit jiwa itu?" Tanya Cooper mengacungkan pistol ke kepala pria paruh baya ini.
Edwald duduk di kursi tepat di depan pria yang tengah di ikat dengan rantai dan berlutut di hadapannya.
Mereka tengah ada di atas gedung dengan bagian langit terbuka luas memperlihatkan cahaya mentari yang tak begitu terik bahkan mendung. Tapi, hawa gelap ini tentu sangat mematikan karna ada lima pria berpakaian gelap mengelilingi setiap sudut teras ini.
"Kau tak ingin menjawab?!" Desis Cooper yang geram karna sedari kemaren pria ini bungkam padahal tubuhnya sudah dianiaya sampai tak ada kulit yang bersih lagi.
"Aku tak akan memberi tahu apapun pada kalian!! Bunuh saja akuu!!"
"Sialan!!" Geram Cooper lalu menoleh pada Edwald yang sedari tadi diam dengan tatapan manik hijau elang itu nyaris menguliti pria ini.
"Steen! Dia tak mau bicara."
"Kau pria bodoh itu??" Tanya pria paruh baya ini tersenyum sinis pada Edwald yang hanya diam tapi wajahnya benar-benar dingin.
"Kau akan segera berakhir!! Tunggu saja kehancuranmu!"
Bughh..
Cooper langsung meninju wajah pria ini sampai tergeletak di lantai. Mulutnya berdarah dengan telinga yang sudah di penuhi luka sayatan.
Dengan marah Cooper menarik rambut pria ini hingga mengadah ke atas sangat kasar dan pedih.
"Jaga bicaramu!"
"Cih, kenapa? Kau takut?" Desisnya dengan mulut penuh darah.
Melihat sosok ini rela mati demi menjaga rahasia Suma tentu ini bukanlah hal sederhana. Pasti yang di rahasiakan Suma kali ini menyangkut tentang GYUF atau masa lalunya.
"Steen! Dia tak berguna. Apa perlu aku mengulitinya sekarang?"
"Jangan terburu-buru," Jawab Edwald mengetuk peggangan kursi dengan jari kekarnya yang berhasrat membunuh.
"Biarkan dia melihat, siapa tamu baru kita, hm?!" Imbuh Edwald menyeringai. Salah satu dari 5 anggota tadi segera menjemput seseorang dari arah pintu di belakang mereka.
Beberapa detik kemudian pria paruh baya ini syok kala melihat putrinya yang berusia 7 tahun di seret kasar kesini bersama istrinya.
"Yieaaan!!!" Teriaknya pada seorang wanita berperawakan Tionghoa. Wanita itu tampak terkejut melihat keadaan suaminya sementara bocah perempuan 7 tahun itu sudah menangis.
"Daddyy!!! Hiks, lenganku sakiit!!"
"Putriku!" Lirih pria itu cemas dan tak menyangka.
Ia sudah menyembunyikan anak dan istrinya ke negara lain agar tak ikut dalam masalah ini. Tapi, bagaimana bisa pria ini menangkap keduanya dalam waktu dekat?!
Seketika pandangan pria itu menghunus tajam pada Edwald yang memberi seringaian iblis dan licik tiada tara.
"Kenapa? Kau ingin bertanya, kenapa bisa ada disini, hm?"
__ADS_1
"Sialaaan!! Kau memang benar-benar ibliiiss!!" Makinya pada Edwald yang seketika tersenyum jenaka tapi itu sangat menakutkan.
Wajahnya sering berubah-ubah tapi percayalah, dalam mode seperti ini ia benar-benar terlihat seperti seorang malaikat maut.
"Kau baru tahu?" Tanya Cooper puas melihat respon ketakutan pria ini.
"Kau katakan sekarang, atau siaplah menonton pertunjukan," Imbuh Cooper membuat pria paruh baya ini menatap istrinya yang sudah di dekati oleh dua anggota mereka dengan niat yang cabul.
Leher putrinya sudah di tekan dengan pisau bahkan bocah kecil itu menangis heroik.
"Bunuh mereka!!" Titah Edwald dan sontak pria itu berteriak saat leher putrinya ingin di gorok.
"Jangaan!!! Jangan lakukan itu!!"
"D..daddy hiks! Sakiit!!" Tangis bocah itu pecah karna mata pisau anak buah Edwald dengan sengaja menyayat kecil di lehernya hingga darah keluar dengan manis.
"Kau bicara atau akhir ini!"
"A..aku.. Aku akan mengatakannya!" Sambar pria itu dengan gelisah dan takut jika istri dan anaknya jadi korban.
Mendengar itu Cooper langsung ambil sikap. Segera menanyai pria ini.
"Apa hubunganmu dengan Suma dan kenapa kau di rumah sakit jiwa itu?"
"Aku .. aku penanggung jawab atas wanita yang di kurung di sana."
Cooper seketika menoleh pada Edwald yang tampak masih menunggu lanjutannya.
"Lalu?"
Penjelasan pria ini membuat Cooper tersentak. Edwald-pun merasa jika ini ada hubungannya dengan kematian istri Suma yang dulu mengatakan jika wanita itu bunuh diri tapi, Edwald tak percaya itu.
"Siapa wanita itu?" Tanya Cooper mendalami.
"Aku tidak tahu! Tuan Suma hanya memintaku untuk selalu menjaganya di rumah sakit itu hingga keadaanya sekarang sudah sangat mengenaskan."
"Maksudmu?" Tanya Cooper belum mengerti.
Pria itu mengambil nafas dalam untuk sejenak menatap wajah anak dan istrinya.
"Saat pertama kali datang, wanita itu sudah hampir mati karna racun. Tapi, tuan Suma meminta kami untuk menyelamatkannya dan saat sadar wanita itu langsung di masukan ke rumah sakit jiwa. Aku tak tahu hubungan mereka apa tapi, wanita itu selama bertahun-tahun selalu menangis dan berteriak ingin menjumpai anak-anaknya. Dan sekarang dia jatuh sakit dan sulit menjelaskan keadaanya."
"Anak-anak?" Gumam Edwald berpikir keras. Ia memandang penuh isyarat pada Cooper agar mencari foto istri Suma yang katanya sudah meninggal dunia.
Tak butuh waktu lama bagi Cooper mendapatkan foto itu. Ia menghubungi team IT mereka di tempat lain agar mencari apa yang dibutuhkan.
"Apa wanita ini?"
Menunjukan ponselnya pada pria paruh baya tadi. Sontak matanya menyipit lalu melebar dan mengangguk cepat.
"Iya, ini.. ini foto saat dia datang ke rumah sakit!"
__ADS_1
Jawaban itu membuat mereka terkejut. Cooper benar-benar tak menyangka jika istri Suma masih hidup dan apa yang selama ini pria itu katakan hanyalah omong kosong.
"Steen! Apa-apaan ini? Dia sudah mempermainkan kita semua!!" Decah Cooper naik pitam meremas ponselnya.
Edwald tenang. Ia sudah menduga ini sebelumnya dan ternyata itu semua benar. Suma mengarang cerita soal pengkhianatan istrinya agar dua putranya memupuk dendam dan bekerja keras mendapatkan apapun untuknya.
"Apa wanita itu masih bisa di selamatkan?"
"Ntahlah, mungkin dalam satu minggu kedepan dia masih bisa hidup," Jawab pria itu mengatakan hal yang jujur.
"Apa rencanamu kedepannya? Steen! Kita tak punya banyak waktu."
Edwald mengambil nafas dalam. Suma benar-benar licik dan pandai mempermainkan emosi. Pria ini tak bisa dianggap remeh.
"Kau harus bekerja untukku!"
"Tapi, aku.."
"Mereka akan baik-baik saja jika kau patuh padaku!" Tegas Edwald berdiri dari duduknya. Tubuh tegap gagah dan hawa keangkuhan ini kembali menguar membuat mereka tertepis.
"Namun, jika tidak.."
Edwald menjeda ucapannya dengan satu alis naik menyiratkan hal yang begitu mengerikan. Pria itu akhirnya mengangguk patuh karna tahu Edwald tak akan bisa di hindari.
"Baiklah. Aku akan menurutimu!"
"Hm, jalankan semua perintahku," Ucap Edwald melangkah pergi ke pintu di belakang sana sementara Cooper memerintahkan anggota mereka untuk mengurus ini dan barulah ia mengikuti Edwald.
"Steen! Apa yang akan kau lakukan pada Suma?"
Edwald diam sejenak melangkah turun dari tangga lantai atas ini. Ia menyusuri dinding gedung yang berdebu dan tua tapi ini tempat paling aman untuk mereka.
"Akan sulit membuat dia mengaku. Tapi, ini bukan lagi tugasku."
"Maksudmu?" Tanya Cooper tak mengerti.
"Dia bersalah pada putranya. Maka, mereka yang akan menentukan apa yang pantas di lakukan," Jawab Edwald menghela nafas dalam.
Ia berjalan sampai ke arah tangga pembatas di bawah sana tapi, Edwald tampak memiliki rencana sendiri. Ia berulang kali menghela nafas seakan-akan menyingkirkan beban secara teratur.
"Steen! Setelah melakukan semua itu kau akan apa?"
Cooper yang berdiri di samping Edwald. Mereka berdiri di tepi pagar seperti balkon gedung menatap luasnya langit dan hamparan rumput dan barang rongsokan di bawah sana.
Pandangan Edwald terlihat ringan dan penuh pemikiran. Cooper tak bisa menebak apa yang diinginkan Edwald.
"Aku akan meninggalkan GYUF!"
Deggg...
Cooper terkejut bahkan ia sampai mematung kosong seperti tak percaya Edwald mengatakan hal ini.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang..