Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Aku kembali!


__ADS_3

Cahaya yang lolos dari sela jendela ruangan rawat ini seketika mengusik sesosok wanita yang tadi terbaring cukup lama di ranjang rumah sakit. Wajah cantiknya yang semula tampak pucat sudah terlihat lebih baik dengan mata mulai terbuka pelan.


Desisan ringan mulai terdengar beradu dengan denyutan di kepalanya. Ia memejamkan mata sejenak merilekskan tubuh dan mengumpulkan kesadaran barulah ia kembali memandang ke atas.


"Ini.."


Shireen tersentak. Diedarkannya pandangan ke seluruh sudut ruangan dimana tak ada satupun orang disini selain dirinya.


Ingatan Shireen tiba-tiba tertuju pada kejadian semalam. Matanya memandang kosong keatas langit-langit kamar seperti menduga-duga apa yang ia alami semalam?!


Itu dia..aku sangat hafal tatapan itu tapi,..


Shireen bingung. Apa itu hanya sekedar perasaanya saja atau mungkin Edwald benar-benar ada?! Sungguh, Shireen merasa kacau karna ia takut jika hal ini hanya sekedar ilusi baginya.


"T..tidak. Aku tak bisa terus begini," Gumam Shireen meremas kepalanya. Dadanya sesak bahkan begitu sakit jika selalu di hantui bayang-bayang pria itu.


Kau sudah pergi. Kau memilih untuk pergi dan aku tak akan memikirkanmu, tidak!


Tegas Shireen menekan emosinya sendiri. Ia mulai duduk di atas ranjang rawat ini lalu melihat punggung tangannya di infus.


"Aku baik-baik saja. Aku tidak gila," Gumam Shireen menguatkan dirinya agar tak mengingat itu lagi. Saat tangannya ingin melepas paksa selang infus ini tiba-tiba ada suara berat khas seseorang yang menyangganya.


"Kau masih belum sehat!"


Seketika Shireen mematung. Tangannya yang tadi siap menarik selang ini terhenti dan Shireen tak berani memandang ke arah sumber suara khas ini.


T..tidak. Itu bukan dia, bukan.


Ia menggeleng keras cepat-cepat mencabut selang infus ini tapi lagi-lagi Shireen di buat terkejut saat suara itu muncul lagi dari arah pintu.


"Kau memang keras kepala!"


Mata Shireen mulai berkaca-kaca. Dengan dada yang berdebar keras dan sesak memenuhi ulu hatinya, Shireen memberanikan diri untuk melihat ke arah pintu dan..


Duaar ....


Seakan tersambar petir di pagi hari, Shireen membulatkan matanya melihat Edwald berdiri di depan pintu membawa nampan berisi makanan.


"K..kau.."


Shireen terbata-bata dengan mata tak berkedip dan tubuh kaku tak mampu bergerak. Edwald tahu itu, ia mendekati ranjang Shireen dengan wajah datar tapi tatapannya tak bisa berbohong jika ia memang sangat merindukan wanita ini.


"Makanlah!"


Edwald duduk di samping ranjang seraya memangku nampan yang sudah berisi susu dan bubur.


Shireen masih diam dengan tatapan kosongnya. Mata yang memanas menjatuhkan butiran bening yang mengalir kembali ke pipi mulusnya.


W..wajah ini, s..suaramu, tatapan ini. A..aku tak mengerti.


Batin Shireen bertanya-tanya tapi ia tak munafik jika selama ini ia tersiksa dengan bayang-bayang Edwald bahkan momen indah mereka.


Dimana mata memandang pasti akan selalu membuat hatinya sesak. Tekanan di batinnya membuat Shireen selalu keluar masuk rumah sakit.


Dengan air mata yang terus menetes, tangan Shireen gemetar perlahan terangkat menyentuh rahang tegas Edwald yang juga sangat merindukan ini.


"K..kau.."


"Hm, aku kembali! Jawab Edwald mengecup tangan Shireen yang langsung menarik tangannya menjauh dengan ekspresi wajah terkejut menatap tangannya.


Nyata, ini terasa sangat nyata.


Melihat respon Shireen seperti ini Edwad tak lagi bisa menahan gebuan rindu yang sekarang membakar dadanya.


Dengan cepat ia letakan nampan itu di nakas lalu di tariknya lengan Shireen hingga wanita itu mematung saat di peluk erat oleh Edwald yang mengusap punggungnya lembut.


"Aku sangat merindukanmu!" Gumam Edwald bisa di dengar Shireen yang seketika tak dapat berkata-kata. Air matanya terus jatuh seakan-akan ia tak punya tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.


"Maafkan aku! Maaf!"


Shireen hanya bisa menangis. Ia remas kuat punggung kekar Edwald yang dibaluti kaos lengan pendek yang sangat suka dia pakai.


"K..kenapa? Hiks, kenapaa??"


"Maafkan aku, sayang! Maaf!" Bisik Edwald tapi Shireen sudah terkubur dalam rasa sakitnya selama bertahun-tahun.

__ADS_1


"Kau..kau pergi. Kau pembohong!! Kau bohong padaku, hiks! Kau pembohoong!!" Teriak Shireen memberontak tapi tak bisa lepas dari pelukan Edwald yang tahu jika Shireen masih kecewa padanya.


"K..kau meninggalkan aku, Ed! Kau..kau tak pernah peduli padaku maupun anakku. Kau..kau tak pernah pedulii!!" Isak Shireen membuat dada Edwald terasa sangat sesak.


"K..kau .."


"Maafkan aku," Ucap Edwald menepuk-nepuk punggung Shireen lembut. Shireen lemas, ia hanya bisa terisak menyandarkan kepalanya ke bahu Edwald yang mengguncang batinnya.


Mata Shireen yang kabur karna ditutupi air bening itu melihat ada nenek Rue dan kakek Bolssom di depan pintu.


Keduanya memandang sendu ke arah sini. Mereka seakan-akan benar-benar melihat Edwald dan ini bukan hanya perasaanya saja.


"N..nek!" Lirih Shireen seakan meminta jawaban dan saat nenek Rue mengangguk ikut menangis pertanda ini nyata.


Shireen mematung. Ia tatap lekat wajah tampan Edwald yang sama sekali tak berubah, dia tampak lebih dewasa tapi tak mengurangi pesona maupun kharisma tubuhnya.


"K..kau.."


"Aku tak benar-benar mati," Jawab Edwald mengusap pipi Shireen, menghapus sisa air mata yang masih mengalir disini.


Shireen diam. Ia masih butuh penjelasan Edwald yang sudah sepenuhnya lepas dari belenggu hukum itu.


"Yang di hukum mati itu hanyalah Steen yang bersalah. Aku masih disini."


"T..tapi.."


"Shireen! Ceritanya sangat panjang. Aku tak ingin menjelaskan itu ditengah kondisimu yang seperti ini," Jelas Edwald dan Shireen seperti biasa tak bisa menunggu sampai suara Ealnest dari luar melengking ke dalam.


"Mommy!!" Panggil Ealnest masuk memakai seragam sekolah sedangkan tasnya di bawa Cooper yang tadi menjemput Ealnest lebih cepat.


Bocah itu langsung naik ke atas ranjang tanpa melepas sepatunya segera duduk di samping Shireen yang memandang hangat putranya.


"Mom! Kau baik-baik saja-kan? Kenapa matamu sembab? Apa dia menyakitimu?" Tanya Ealnest mencecer pertanyaan seraya menatap tajam Edwald yang hanya diam.


"Hey!! Kau itu sudah tak lulus ujian dariku. Kau bilang wajahmu jelek tapi ternyata tidak. Aku tak mau punya daddy pembohong," Celetuk Ealnest dan tentu Shireen sempat terhenyak ingin menegur tapi Edwald mengisyaratkan agar tak ikut campur.


"Aku tak berbohong."


"Kau itu licik. Pasti kau ingin mendekati mommyku-kan?! Pasti kau punya niat jahat-kan?" Tebak Ealnest menarik Shireen agar menjauh dari Edwald.


"Mom! Kau tenang saja, aku akan melindungimu!" Imbuh Ealnest tapi segera tersentak saat Edwald menyentil keningnya.


"Bagaimana bisa kau melindungi mommy-mu jika kau sendiri tak bisa melindungi diri sendiri?!" Tegas Edwald membuat wajah Ealnest membeku tak terima seraya mengusap keningnya.


Ealnest memilih berkoala pada Shireen yang mengusap kepala putranya hangat.


"Mommy sudah makan?"


"Bagaimana denganmu?" Tanya Shireen tapi Ealnest mendengus.


"Eal bertanya tentang mommy. Jadi, jangan tanya sebaliknya, paham?"


"Tidak," Jawab Shireen hingga Ealnest terkekeh kecil terlihat ingin mengecup bibir Shireen tapi Edwald langsung menarik tengkuknya keras ke belakang.


"KAAUU!!"


"Kau punya batasan," Geram Edwald menyentil bibir Ealnest yang seketika naik pitam langsung menghadap Edwald yang tak suka miliknya di sentuh-sentuh.


"Memangnya kau siapa?"


"Aku suami mommymu!"


"Mimpi," Ketus Ealnest kembali ke pangkuan Shireen lalu mengecup hidung mancung sang ibu. Shireen hanya tersenyum malu karna tahu kemana pikiran Edwald padahal Ealnest hanya ingin mencium hidungnya.


"Mom! Eal sudah putuskan!"


"Apa?" Tanya Shireen mengusap kepala Eallnest yang tampak mengambil nafas dalam membuat mereka menunggu.


"Eal setuju jika uncle Cooper jadi daddy Eal!"


"A..apa?" Syok Shireen dan Cooper yang tadi melenturkan otot di sofa sana langsung merasakan merinding kala Edwald memberinya tatapan membunuh.


"Uncle Cooper setuju!"


"Kau jangan membual. Aku tak mau jadi daddymu!" Ketus Cooper mengusap tengkuknya yang dingin karna hawa mengerikan Edwald.

__ADS_1


Tapi, Eallnest hanya mengerti satu hal. Daddy yang ia maksud itu yang bisa melindungi mommynya dan paling utama itu bisa di ajak kerja sama.


"Uncle! Kita sudah sepakat di mobil tadi."


"Tengil! Kau jangan membuat cerita. Aku..Edwald, aku serius tidak seperti itu!" Gelagapan Cooper berdiri menjelaskan.


Ia sudah tahu kronologinya dan begitu juga nenek Rue dan kakek Bolssom, semalam Edwald menjelaskannya sampai mereka bersyukur semuanya baik-baik saja.


"Uncle! Kita sudah sepakat dan kau jadi daddyku!"


"Bukan aku tapi dia!! Dia itu daddy aslimu dan berhenti memaksa setiap orang, paham?" Jengah Cooper menunjuk pada Edwald dan tentu Ealnest menatap intens sosok ini.


"Dia?" Sinisnya seperti tak suka.


"Yah, kalian mirip dan sama-sama berkarakter. Apa yang harus di ragukan?!" Kesal Cooper setengah mengumpat keluar dari ruangan rawat ini sebelum nyawanya keluar sendiri.


Nenek Rue dan Kakek Bolssom sudah tenang. Mereka keluar dari ruangan ini memberi waktu pada keluarga kecil itu untuk bercengkrama.


Ealnest menyelidiki Edwald lalu menatap Shireen yang tampak sulit menjelaskan tapi masih memilih-milah.


"Mom! Kenapa wajahku agak mirip dengannya?"


"Itu..a.."


"Karena kau memang benihku," Sela Edwald membuat Shireen syok.


"Kau!! Jangan bicara seperti itu!!"


"Dia ini akan semakin penasaran jika kau mempersulit kalimatnya," Ucap Edwald datar karna ia paham betul sifat Ealnest yang sebelas dua belas dengannya.


"Dia bahkan akan penasaran dengan kata benih itu," Geram Shireen jengkel tapi Edwald masa bodoh. Itu rencananya agar Ealnest akan menyelidiki terus menerus dan mereka bisa berinteraksi walau abnormal.


Dan benar saja. Ealnest diam menatap bingung interaksi mommynya dan Edwald dan semakin penasaran.


"Kau jangan membuatnya bertambah abnormal sepertimu!"


"Aku normal, sayang! Kalau kau tak percaya kau bisa peggang i.."


"EDWALD!" Tekan Shireen memelototi Edwald yang akhirnya diam tapi tak bisa menyembunyikan raut senangnya setelah berhasil menggoda Shireen yang seperti biasa kesal bukan main.


Ealnest diam seperti orang bodoh tak mengerti obrolan kedua orang tuanya. Shireen beberapa kali memerah tapi Edwald gencar seperti belum puas meluapkan kerinduannya selama ini.


"Mereka ini kenapa?!" Gumam Ealnest bingung. Ia memilih turun karna tak mengerti isi dialog keduanya tapi Shireen merasa takut berdua dengan Edwald yang nyatanya tak berubah.


"Eal!"


"Disini saja. Aku masih ingin bercerita padamu!" Jawab Edwald tapi Shireen belum siap dengan jantungnya. Ia mendorong Edwald untuk turun dari ranjang dengan kuat.


"Kau ..kau pergi sana!"


"Shireen! Dengarkan dulu ceritaku," Desak Edwald tapi hanya sekedar menjahili Shireen yang tampak malu jika Edwald membahas lebih dalam.


"Pergi, tidak?" Paksa Shireen tapi saat Edwald ingin mendekat tiba-tiba ada seseorang yang berlari masuk ke dalam dan langsung memeluk Edwald yang juga tersentak apalagi Shireen.


"KENAPA KAU MENIPUKU?? AKU HANYA INGIN IKUUT!!"


Shireen diam. Pandangannya pada Edwald mulai berubah bahkan ada rona kecewa disana.


"S..Shireen!" Lirih Edwald tapi Shireen tak peduli. Ia turun dari ranjang dan segera berjalan keluar pertanda buruk.


Melihat itu Edwald langsung naik pitam melepas kasar pelukan Catharina yang tampak kesal.


"Kau!!!"


"Kak! Kenapa kau pergi sendirian? Aku juga ingin ikut," Jengkel Catharina yang ditipu habis-habisan.


Edwald yang masih gelisah dengan kepergian Shireen segera berlalu keluar dimana Cooper tadi ingin masuk.


"Kau apakan Shireen?" Tanya Cooper heran tapi Edwald justru menjawab lain.


"Tugas barumu menanti di dalam!" Tegas Edwald berlalu mencari Shireen.


....


Vote and like sayang..

__ADS_1


Ini author panjangin ya jadi dua eps tuh😘


Malam kemaren author up say.. tapi, di reviuwnya la ma NT. nih mungkin lau lama gara2 itu jugak


__ADS_2