Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Mulai tak percaya


__ADS_3

Pagi ini Shireen sudah membaik. Walau masih mengalami mual tapi ia sudah tak begitu pusing lagi. Alhasil, kakek Bolssom dan nenek Rue membawa Shireen kembali pulang.


Tapi, di sepanjang perjalanan pulang menaiki mobil mereka. Shireen hanya diam tapi senyam-senyum sendiri duduk di tengah-tengah mereka seraya memainkan jari-jari lentiknya di atas paha.


Nenek Rue saling pandang dengan kakek Bolssom yang merasa senang dengan suasana pagi ini.


"Sepertinya cucuku tengah bahagia. Berbagilah dengan kami manusia tua ini, nak!" Ucap kakek Bolssom menggoda Shireen yang seketika tersadar.


Kepalanya tertunduk dengan bibir pink segar itu tersenyum dengan rona merah di kedua pipinya. Jelas mereka tahu Shireen pasti tengah malu.


"Katakan! Kami juga ingin mendengar kabar bahagia darimu, hm?" Nenek Rue memeggang tangan lembut Shireen hangat.


Shireen memandangnya teduh lalu beralih memeluk. Ia terlihat sangat senang begitu berbeda dari sebelumnya.


"Nek!"


"Ada apa? Kau membuat kami penasaran," Decah nenek Rue lembut.


Shireen menggeleng. Ia tak akan mengatakan isi hatinya yang tengah berbunga saat ini. Ntahlah, Shireen tak bisa menjabarkan bagaimana bahagianya ia saat tahu Edwald baik-baik saja dan berbicara semalaman dengan pria itu, bahkan rasanya begitu lega.


"Aku ingin makan ayam bakar, boleh?"


"Tentu saja! Apapun yang kau mau akan kau dapatkan," Sambar kakek Bolssom bersemangat.


Ketiganya langsung tertawa ringan dan sangat hangat. Supir yang tengah menyetir juga tersenyum melihat wajah cantik Shireen sudah begitu mempesona dan terlihat lebih bersinar dari kemaren.


"Shi! Kakek sudah mencari keberadaan suamimu. Dia tengah melakukan perjalanan bisnis di luar kota. Mungkin akan segera pulang, nak!"


"Iya, kek!" Jawab Shireen hanya mengangguk. Ia sudah tenang bisa bicara dengan Edwald semalam dan kekhawatiran yang sebelumnya meluas sudah perlahan hilang di batinnya.


"Berapa usia janinmu? Nak!"


"Mau jalan 4 bulan, Nek! Mau merasakannya?" Tanya Shireen segera mengarahkan tangan nenek Rue menyentuh perutnya. Wanita berusia senja ini seketika melebarkan senyuman sampai kulit keriput di matanya terangkat.


"Dia sudah berkembang baik. Kita akan segera menimang cicit, Bolssom!" Decah nenek Rue sangat bahagia.


Kakek Bolssom tak mau ketinggalan. Ia ikut memeggang perut Shireen hingga perut yang biasanya datar ini sudah lebih berisi bahkan terasa sangat hangat.


"Astaga! Aku jadi takut untuk meninggalkan dunia ini. Cicitku sudah berkembang sangat pesat."


"Kakek bicara apa?!" Ketus Shireen tak suka dengan kalimat itu. Ia menekuk wajah cantiknya pertanda moodnya sudah tak bagus.


Nenek dan Kakek Bolssom saling pandang lalu menghela nafas dalam.


"Nak! Kami sudah senja. Cepat atau lambat kami juga akan menyusul daddymu. Jangan khawatir, kami.."

__ADS_1


"Kenapa kalian selalu saja ingin meninggalkan aku?! Apa tak senang hidup bersamaku?!!" Sela Shireen dengan dada terasa sesak.


Ia sudah kehilangan segalanya dan hanya dua manusia senja ini yang tinggal dan sangat berarti baginya.


"Semuanya ingin pergi! Kalian memang tak sayang padaku!"


"Jangan bicara sembarangan. Kami sangat menyayangimu gadis kecil, sejak kapan kami senang jika kau jauh dari kami?! Kau jasa tumbuh di atas bahu kakekmu. Apa-apaan wajah masam ini?!" Decah nenek Rue mengusap kepala Shireen yang segera memeluknya.


Sungguh, Shireen takut jika apa yang masih tersisa di hidupnya akan direnggut lagi.


"Nenek dan kakek tak boleh pergi. Aku tak mau hidup sendirian. Kalian tak boleh kemana-mana."


"Gadis kecil! Kau membuatku ingin menangis," Gumam kakek Bolssom memperbaiki letak kacamatanya.


Melihat itu Shireen tersenyum beralih memeluk kakek Bolssom yang sangat bahagia semenjak kedatangan Shireen kemari. Ia membelai surai panjang lurus ini menggantikan sosok ayah bagi Shireen.


"Kau yang kuat, nak! Kami selalu bersamamu!"


"Kek! Ada yang ingin aku katakan," Gumam Shireen menegakkan kembali tubuhnya. Dua manusia senja ini diam mendengarkan dengan baik.


"Bicaralah, sayang!"


"Ini soal istri daddy," Jawab Shireen dan tentu mereka jadi tersentak karna tahu nyonya Colins sangat tak suka pada Shireen.


"Ada apa dengannya?"


"Apaa??" Syok kakek dan nenek Rue yang terkejut. Saat Shireen mengangguk mereka jadi saling pandang tak menyangka.


"Iya. Bahkan, dia berencana untuk melenyapkan aku agar harta keluarga Harmon jatuh ke tangannya. Dia menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan aku lalu memalsukan data kematianku."


"Dia memang benar-benar," Geram kakek Bolssom yang juga tak sika dengan nyonya Colins. Karna wanita itu hidup Shireen jadi buruk bahkan mereka tahu Shireen di beda-bedakan.


"Lalu? Apa karna itu kau kesini? Nak!"


Shireen terpaksa mengangguk. Ia tak mungkin membiarkan kakek dan neneknya tahu tentang masalah pernikahannya dan Edwald.


"Itu salah satunya. Mereka ingin melenyapkan ku baru kalian. Cepat atau lambat pasti mereka akan segera melanjutkan rencananya."


"Aku akan membuat dia menyesal menikah dengan putraku," Geram kakek Bolssom berencana untuk memberi pelajaran pada nyonya Colins tapi Shireen menggeleng.


"Kek! Kita tak bisa melawannya secara langsung seperti itu."


"Maksudmu?" Tanya kakek Bolssom heran.


"Aku berencana untuk menjebaknya," Jawab Shireen sudah memikirkan ini dengan matang.

__ADS_1


"Biarkan dia memalsukan kematianku lalu, aku akan membuat dia mendekam di penjara atas kasus penipuan dan perencanaan pembunuhan," Imbuh Shireen sangat mempertimbangkan segalanya.


"Jadi, bagaimana caranya untuk memalsukan kematianmu?"


"Itu mudah. Kebetulan aku punya kenalan dari luar. Dia bisa membantuku," Jawab Shireen yang tadi sudah memberi pesan tentang rencananya ini pada Cooper yang pasti akan menyampaikannya pada Edwald.


..........


Di markas GYUF.


Hubungan Edwald dan Wesson pagi ini sudah mulai aneh. Biasanya Wesson menyapa Edwald duluan saat bertemu tapi kali ini pria itu seperti menghindar dan tak mau bertatap mata.


Edwald-pun tak berniat menegur. Ia bukan pria yang pandai memulai apalagi ia tak salah sama sekali.


"Selidiki tentang kejadian kemaren! Aku tak ingin pelaku bengis itu berkeliaran bebas di tempat ini!!" Sarkas Wesson mengeraskan suaranya yang memerintah kepada para anggota GYUF yang ada di depan markas tapi Edwald tadi lewat di sampingnya.


Mungkin, Wesson ingin menekankan soal masalah ini tapi Edwald tak mau ikut campur dulu. Ia masuk ke dalam mobilnya yang di kemudikan Cooper keluar dari markas.


Tentu Wesson memandang tajam ke arah kepergian Edwald tapi, ia ingin memastikan jika kejadian itu tak ada sangkut pautnya dengan Edwald.


"Wesson!"


Suma dan Glimer yang datang dari belakang. Wesson mengibaskan tangannya hingga para anggota yang tadi menghadap segera pergi.


"Dad!"


"Kak! Aku dengar ada masalah kemaren. Apa sudah selesai? Siapa pelakunya?" Tanya Glimer dan Wesson masih diam belum pasti menjawab.


Suma tahu Wesson pasti mulai ragu dengan Edwald. Perkiraannya benar-benar tepat.


Steen tak akan pernah memberitahu siapapun tentang langkahnya. Dengan seperti itu, kau akan mengira dia berencana untuk menghancurkan GYUF demi Shireen.


Pikir Suma licik. Ia akan terus mempengaruhi Wesson yang sudah mulai renggang.


"Nak! Kalian berdua putra kandungku. Aku sangat percaya pada kalian di banding siapapun."


"Dad! Steen dia tidak mungkin mee.."


"Dia berani menentang ku hanya demi istrinya. Selama ini dia tak pernah membantah apapun, bukan?" Sela Suma membuat Wesson semakin bingung.


"Kak! Seseorang akan berubah seiring berjalannya waktu. Steen dan Shireen tak bisa bersama jika GYUF masih ada. Dia pasti akan lebih memilih wanita itu dari kita semua," Timpal Glimer mencoba menekan lebih dalam.


Ia saling pandang licik dengan Suma yang terus mempengaruhi Wesson agar melawan Edwald.


....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2