
Pagi ini Suma kembali melanjutkan rencananya untuk terus mempengaruhi Wesson agar mencurigai Edwald yang tadi malam baru datang ke markas.
Padahal, jelas masalah GYUF di peggang oleh petinggi lain hingga Wesson terus berperang dengan dirinya sendiri.
"Wesson! Kau sudah menemukan pelakunya?"
Tanya Suma mendekati Wesson yang tengah ada di meja makan. Pria itu menikmati suguhan kopi hangat yang sedari tadi menemaninya.
"Dad!"
"Kau sudah menemukan dalang dari masalah kemaren?"
Tanya Suma duduk di samping Wesson yang seketika menghela nafas dalam.
"Aku masih belum menemukan apapun, dad!"
"Benarkah? Aku yakin kau sudah menemukan sesuatu." Gumam Suma tapi masih bisa di dengar oleh Wesson yang masih diam.
"Dad! Aku sudah menyelidiki mayat itu dan dia adalah pelayan yang kemaren di siksa Steen!"
"Steen? Astaga, aku tak percaya ini," Decah Suma seperti syok tapi ia hanya bertopeng.
"Dad! Untuk apa Steen melakukan ini? Dia tak mungkin membunuh pelayan yang tak ada untungnya sama sekali. Dan aku tahu betul jika Steen tak akan melampiaskan hasratnya pada sembarang wanita. Dia.."
"Lalu kau pikir aku yang melakukannya?" Sela Suma langsung membuat Wesson diam. Ia memang pernah berpikir soal itu tapi, sekali lagi ia menepis hal negatif yang muncul di benaknya.
"Kau pikir aku yang melakukan itu?"
"Dad! Aku.."
"Untuk apa aku melakukannya?! Jika aku mau, aku tak akan bergerak secara diam-diam. Aku bebas melakukan apapun disini."
Suma memperkeras posisinya bahkan jelas-jelas menekan keadaan kepada Wesson yang tak bisa untuk mencerna semua ini.
"Apa aku pernah berkhianat pada GYUF?"
"Dad! Aku.."
"Yang pernah melakukan itu hanyalah Steen! Apalagi yang kau tunggu? Apa kau ingin dia mengambil GYUF dan membuat kita semua terlempar dari sini?"
"Jika aku ingin melakukannya, sudah lama ku lempar kalian semua!!"
Degg..
Suma tersentak mendengar suara Edwald. Ia menoleh ke arah pintu masuk ruang makan hingga matanya melebar dan segera berdiri dari duduknya.
Begitu juga Wesson yang tampak terkejut akan kedatangan Edwald yang seperti biasa membekukan ruangan ini.
"Steen!"
"Jika aku memang ingin melakukan semua itu. Aku tak akan menunggu selama puluhan tahun," Ucap Edwald mendekat berdiri di depan Suma dengan meja makan sebagai perantara keduanya.
Suma diam sejenak. Ia tak menyangka Edwald akan datang kesini karna biasanya ia selalu datang terlambat dan sesuka hati.
"Steen! Aku hanya bingung. Aku tak menuduh mu soal kemaren," Sahut Wesson tak mau bertengkar lagi.
"Terserah padamu. Aku sama sekali tak peduli," Jawab Eswald membuat Wesson membisu.
"Steen! Bicaralah yang sopan pada kakakmu!" Hardik Suma seperti tak mau diam saja.
__ADS_1
Sudut bibir Edwald tertarik licik. Ia duduk di kursi meja makan dengan kaki bertopang tindih dan tatapan sangat tajam.
"Kakak?"
"Yah, dia adalah kakakmu. Walaupun kalian tak sedarah tapi selama ini kalian tumbuh bersama dan.."
"Tapi, dia sama sekali tak mengenalku," Sela Edwald menatap intens Wesson yang tak bicara sama sekali. Jelas Wesson merasa bersalah soal ucapannya kemaren yang terlalu emosi sampai berbuat kekanak-kanakan.
"Steen! Aku minta maaf soal ucapanku kemaren. Aku tak sedang dalam keadaan baik."
"Lalu apa keputusanmu?" Tanya Edwald mendesak Wesson untuk memberi jawaban.
"Anggap saja masalah ini sudah berlalu. Kita.."
"Kau masih menutup mata dengan ulah pria tua ini?"
"STEEN!!" Bentak Wesson yang tampak marah saat Edwald merendahkan Suma.
Anak mana yang mau orang tuanya di rendahkan di depan matanya sendiri?! Respon Wesson sudah benar tapi keadaanya salah.
"Perhatikan ucapanmu!!"
"Sudahlah, aku tak pantas di hormati," Lemah Suma tampak kecewa akan apa yang Edwald katakan.
Wesson seketika sangat marah dan merasa kecewa pada Edwald.
"Kenapa kau begitu angkuh? Dia daddyku dan kau juga sudah menganggapnya sebagai orang tuamu. Kenapa kau seperti ini?"
Edwald diam. Ia beralih memandang Suma yang tampak puas dengan pembelaan yang Wesson berikan. Pria ini memang pandai mempermainkan emosi anak-anaknya yang sudah terjebak dalam rencana busuknya selama bertahun-tahun.
"Wesson! Sekuat apapun kita mencoba menjadi ayah angkat tapi, hubungan darah tak bisa di abaikan."
"Apa sudah selesai?" Tanya Edwald dengan santai menyaksikan drama ini.
Suma mengepal. Ia sangat muak melihat Edwald yang selalu saja tak terpancing dengan rencana yang sudah ia buat dengan matang.
"Steen! Apa salahku?"
"Salahmu, hm?" Tanya Edwald tersenyum sarkas pada Suma.
"Salahmu bukan padaku!"
"Apa maksudmu?" Tanya Wesson berapi-api.
"Wesson! Sudahlah, ayo kita pergi dari sini!" Ajak Suma yang tak mau berhadapan langsung dengan Edwald dalam kondisi seperti ini.
Ia beranjak pergi diikuti Wesson yang masih memandang ke arah Edwald yang santai mengetuk meja makan dengan tangannya.
"Pria tua itu hanya benalu disini!!"
Ucap Edwald lantang dan sontak Wesson langsung mengepal. Ia mendekati Edwald dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Sudah cukup kau mempermainkan daddyku!!"
Suma tersenyum. Jauh dari mata liciknya ia berharap Wesson akan berkelahi dengan Edwald dan putra pertamanya itu akan membuat GYUF berpikir dua kali untuk mengikuti Edwald.
"Wesson! Sudahlah!"
"Dad! Kau benar. Dia sangat licik dan aku baru tahu wajah barunya sekarang," Geram Wesson tak mengalihkan pandangan penuh emosinya pada Edwald yang hanya tenang.
__ADS_1
Saat ponsel Suma berbunyi, pria itu langsung pergi dan ini saatnya ia mengatakan apa yang harus Wesson tahu.
"Kenapa diam?? Tunjukan wajah aslimu padaku!"
"Ibumu masih hidup!"
Wesson tersentak. Tatapannya berubah bingung bahkan alisnya nyaris bertaut tak mengerti.
"Kau jangan membual!! Aku tak akan sudi lagi melihat wajahmu disinii!!" Sarkasnya geram.
Edwald mengambil nafas dalam. Ia berdiri langsung berhadapan dengan Wesson. Kedua tangannya masuk ke kedua sisi saku celananya terlihat sangat cool dan berkharisma.
"Aku tak membual. Suma mengurung ibumu di rumah sakit jiwa!"
"Steen! Kauu.."
"Aku tak bisa menjelaskan secara rinci padamu. Tapi, yang jelas ibumu masih hidup. Keadaanya sekarang sangat lemah dan dia butuh bantuanmu," Ucap Edwald membuat Wesson diam seperti mencari kebohongan di manik hijau tajam Edwald yang tak menunjukan cela palsu apapun.
"Jika kau ingin melihatnya sekarang. Ikutlah denganku! Jika tidak, aku tak akan memaksa," Imbuh Edwald datar lalu melangkah pergi.
Wesson yang masih tak percaya memandang langkah Edwald dengan rumit. Kedua tangannya mengepal seperti frustasi tapi segera menyusul Edwald yang sudah membuat tanda tanya besar di benaknya.
"Apa maksudmu? Kenapa dia masih hidup? Dia.."
Langkah Edwald terhenti di dekat dinding pembatas antara ruang makan dan lantai dasar. Wesson berhenti di sampingnya merasa bingung akan apa yang Edwald inginkan.
"Kauu... "
"Tetap awasi dia. Jangan beri obat apapun padanya! Aku butuh dia dalam waktu dekat ini dan tak perlu membiarkannya hidup lebih lama."
Suara Suma yang terdengar menelpon di samping sana. Wesson heran dengan apa yang Suma katakan tapi raut wajah Edwald tak menunjukan respon lebih.
"Jangan sampai ada yang tahu soal dia termasuk anak-anakku. Jika tidak, kau akan menyesal!" Tekan Suma terlihat agak cemas.
Wesson ingin mendekati pria itu tapi Edwald angkat bicara.
"Jika kau bertanya sekarang dia akan mudah mengelak!"
"Tak mungkin wanita itu masih hidup. Jikalau-pun benar, aku sendiri akan membunuhnya," Geram Wesson yang sudah membenci ibunya dari sejak kecil karna ulah Suma.
"Wesson! Ibumu sama sekali tak bermain api."
"Steen! Aku.."
"Temui dia atau kau akan menyesal," Tegas Edwald melanjutkan langkahnya. Suara notifikasi ponsel Edwald berbunyi tapi sedari tadi Edwald tak sempat membuka benda itu karna fokus menyelesaikan masalah ini.
Karna juga sangat penasaran, akhirnya Wesson menuruti Edwald. Ia ikuti pria angkuh ini sampai jantungnya terasa tak aman.
Mommy? Apa benar dia masih hidup?! Lalu, kenapa Steen mengatakan jika daddy mengurungnya?!
Pikiran Wesson tak stabil. Ia keluar dari markas ini mengikuti Edwald yang sudah menyiapkan segalanya. Bahkan, Wesson tak melihat ada anggota GYUF yang berkeliaran di depan markas.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Gumam Wesson melihat kondisi di sekitarnya. Edwald begitu sulit di pahami sampai cara kerja pria ini-pun masih membuatnya kebingungan.
....
Vote and like sayang..
Nungguin Edwald pulang yaak 🤣
__ADS_1