
Rombongan kakek Bolssom yang tadi dalam perjalanan pulang sudah berkumpul di kediaman. Mereka tengah merundingkan soal perkebunan yang terancam akibat hama dan badai hujan ekstrem yang akan datang sekali dalam setahun di desa ini.
"Tuan besar! Melihat kondisi cuaca di luar, tampaknya akan terjadi hujan lebat seperti sebelumnya. Apalagi, hama tungau merah pemakan cairan daun anggur di perkebunan pasti akan bertambah banyak hingga panen kita akan gagal total," Jelas pria paruh baya yang memang selalu mengikuti kakek Bolssom.
"Benar, tuan! Langit sangat gelap serta gerimis dan udaranya begitu dingin. Hari ini adalah jadwal panen kita dan jika gagal maka kerugian akan semakin merambat besar."
"Yah, apa yang harus kita lakukan? Waktunya hanya setengah hari dan tak mungkin memanen anggur yang luas dengan waktu sesempit ini."
Keluhan dan masalah intens ini merasuki pikiran kakek Balssom yang juga terdesak. Ia tak mengira jika badai itu akan datang begitu cepat di tengah masa panen.
"Bagaimana dengan ladang yang lainnya?"
"Beberapa warga sudah memanen kebun mereka sejak satu hari yang lalu. Hanya perkebunan tuan dan beberapa lahan warga lain yang masih belum di garap," Jawab Onand bawahan kakek Bolssom.
Fanze yang sedari tadi duduk di samping kakek Bolssom dan setia mendengarkan seketika ikut resah.
"Bagaimana kalau kita panen sekarang? Bicara disini akan terus memakan waktu."
"Tapi, apa sempat? Pekerja lain sudah pergi ke perkebunan tapi belum tentu mereka bisa memanen semuanya," Jawab Onand yang sedari tadi gusar.
Alhasil mereka terus memikirkan cara mengatasinya sampai Shireen dan nenek Rue yang baru saja pulang ke sini langsung menyita perhatian.
"Ada apa? Kalian terlihat tertekan," Tanya nenek Rue masuk bersama Shireen yang ikut menimpali.
"Apa ada masalah? Kek!"
"Shireen! Kau kemana saja? Dimana suamimu?" Tanya kakek Bolssom tapi Shireen hanya tersenyum tipis.
"Mungkin dia ada urusan, kek!"
"Urusan bagaimana?! Apa yang bisa dia lakukan untukmu," Sarkas kakek Bolssom membuat Shireen ingin menjawab tapi ia tahu jika kakek Bolssom tengah marah dengan Edwald.
"Apa ada masalah di perkebunan?"
"Kita tak mengira jika badai hujan ekstrem akan datang sebentar lagi dan pasti hama itu akan datang lagi. Sementara, kita belum melakukan panen besar yang akan memakan waktu tiga hari lebih," Jawab Fanze menjelaskan dengan tenang.
Shireen diam sejenak. Inilah masalah yang selalu di hadapi para petani disini karna perubahan cuaca yang tak menentu.
"Kek! Lebih baik kita bergerak sekarang dari pada tak bisa sama sekali memanen apapun."
"Kau benar. Lebih baik kita bertindak cepat dari pada terus berpikir disini," Timpal Fanze hingga menggerakan tubuh semua orang.
"Ayo ke perkebunan. Sebelum hujan deras dan merusak jalan ke atas lereng!" Ajak kakek Bolssom yang diangguki mereka semua.
Shireen juga tak mau tinggal diam. Ia juga ikut walau di larang oleh kakek Bolssom tetap saja sikap keras kepalanya selalu mendominasi.
__ADS_1
..........
Langit mendung gelap yang tadi meluruhkan tetesan air dari sela awan tadi semakin menunjukan kuasanya. Deraan hujan turun lebat bahkan membuat tanah dan bebatuan di lereng semakin curam dan licin.
Para pekerja kakek Bolssom yang tadi tengah melakukan pekerjaannya sama sekali tak bisa bergerak mendaki lereng karna batu dan tanah yang membuat beberapa diantara mereka tergelincir.
"Kita tak bisa melanjutkan panen lagi, cuacanya akan lebih parah bahkan bisa menyebabkan longsor!!"
Seru salah satu pekerja yang tengah menyaksikan banyak rekan-rekannya yang jatuh dari atas tangga batu di lereng sampai keranjang berisi anggur yang mereka bawah ikut terjatuh.
Belum lagi angin yang kuat menerbangkan keranjang kosong yang masih belum terisi bahkan masih banyak yang belum di panen.
Edwald yang tadinya membantu memetik anggur di perkebunan ini seketika diam sejenak dengan tubuh sudah basah kuyup. Ia mengamati kondisi jalan naik ke atas lereng yang tak mungkin bisa di tempuh dengan mudah sedangkan Cooper tengah bergegas memetik anggur yang siap panen bersama para pekerja lain yang melawan kuatnya angin dan hujan.
"Haiss.. Steen! Anginnya terlalu kuaat! Semua anggur yang di petik akan terbang bersama keranjangnya!!" Teriak Cooper yang tengah berpeggangan ke pohon anggur yang akan ia eksekusi seraya memakan buah segar itu dengan lahap dan licik.
"Dari pada semuanya sia-sia, lebih baik kalian ku kemas di dalam lambungku," Gumam Cooper memanfaatkan keadaan ini untuk menikmati anggur madu yang sangat nikmat milik kakek Bolssom.
Namun, kesenangan Cooper yang berpesta anggur di tengah hujan ini terhenti saat Edwald mulai mengambil tindakan.
"Berkumpul semuanyaa!!" Titah Edwald hingga mereka yang tadi bekerja keras segera berlari mendekati Edwald termasuk Cooper yang sudah memeggang keranjang anggurnya tapi di makan.
"Ada apa Steen? Kau punya rencana?"
"Aku butuh tali yang kuat untuk membuat pijakan," Tegas Edwald pada mereka semua yang saling pandang hingga salah satunya bergegas pergi ke area pengumpulan alat panen membawa tali tambang yang cukup panjang, palu dan paku besar yang biasa mereka gunakan untuk berjaga-jaga.
"Ini, tuan!"
Edwald membawa benda-benda itu ke dekat lereng bukit dimana batu yang biasa dipijaki sekarang sudah begitu licin oleh lumpur yang mengalir dari atas.
Para pekerja yang melihat dari kejahuan harap-harap cemas akan tebing tinggi ini. Apalagi, kondisi tanah di atas sana cukup rentan hingga mudah terjadi longsor.
"Tuan! Kami akan membantumu!!" Seru mereka tapi Cooper segera melerai.
"Sudahlah, jangan khawatirkan dia karna jika tugas kalian gagal maka kalian akan terkena masalah besar," Hardik Cooper yang sudah memanen banyak anggur bahkan sudah berganti keranjang.
Melihat Cooper yang tenang-tenang saja akhirnya mereka ikut bergegas membiarkan Edwald mulai menapaki tangga batu yang tadi memakan banyak korban.
Deru angin dan lebatnya hujan ini benar-benar menyusahkan. Untung saja kedua kaki Edwald sangat kokoh hingga tak mudah di gulingkan oleh medan curang ini.
"Lereng ini sangat rawan longsor. Jika hujan semakin deras bisa saja semua pekerja disini akan tertimbun tanah," Gumam Edwald menatap ke atas tebing yang meluruhkan air deras dari atas sana.
Ia tak peduli jika tubuhnya sudah di banjiri lumpur dan hujan yang seakan menekannya agar jatuh ke bawah. Salah-salah langka sedikit saja maka Edwald akan jatuh ke bawah lereng sana.
Tak butuh waktu lama bagi Edwald untuk mendaki ke atas tebing. Tubuhnya yang berotot dan kekar tampak sangat jelas terlihat dari kaosnya yang basah.
__ADS_1
"Aku harus cepat," Gumam Edwald segera mencari tempat pemakuan. Ada pohon sebesar paha orang dewasa yang berdiri di tepi tebing dengan akar yang tampak cukup kokoh jika di tarik beberapa orang.
Edwald membelitkan tali tambang itu ke sana lalu memakukan simpulan talinya agar lebih aman. Setelah di rasa selesai barulah Edwald turun kembali ke bawah lereng dengan berpeggangan ke tali itu seraya mundur ke belakang.
"Tuan!! Tuan sudah membuat alat bantu!!"
Seru mereka yang sudah mengumpulkan keranjang anggur di bawah. Semuanya sudah berkumpul bahkan sangat bekerja keras memanen semua anggur di lahan kuas ini walau harus berpacu dengan waktu.
"Semuanya naik ke atas dan angkat keranjang anggur kalian sebelum hujannya bertambah deraas!!" Tegas Edwald di tepi lereng sana hingga mereka segera pergi masing-masing membawa dua keranjang yang di sandang di punggung dan di tenteng di tangan.
20 pekerja yang tampak bersemangat langsung mengantri untuk naik ke atas tebing. Edwald membantu mereka sampai ke pertengahan tangga batu dan begitu juga seterusnya.
Di tengah perjuangan melawan derasnya air yang datang dari atas sana, Edwald merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan salah satu pekerja kakek Bolssom.
Pria dengan ikat kepala berwarna merah dan berjambang tipis itu tampak buru-buru naik ke atas bukan karna ingin selamat tapi ada sesuatu yang dia rencanakan.
"Kau punya pisau?" Bisik Edwald pada salah satu pekerja lain yang ia bantu naik ke atas.
Pria muda itu mengangguk menunjukan pinggangnya dimana ada sebilah pisau pemotong ranting yang terselip.
"Ini, tuan!"
"Hm, naiklah!" Gumam Edwald perlahan mengambil pisau itu dan membiarkan 10 pekerja naik ke atas dan saling membantu yang lain.
"Ayo tarik talinya bersama-sama. Dengan begitu semuanya bisa naik ke atas!!"
Seru salah satu pekerja yang berinisiatif untuk mempercepat pengangkutan. Mereka mulai menarik tali di atas sana sekuat tenaga hingga salah satu pekerja yang Edwald curigai tadi mulai mengambil barisan di belakang.
Masih ada 7 pekerja yang bergantung di tali ini termasuk Edwald yang memeggangi ujung tali agar tetap stabil.
"Kalian akan binasa," Gumam pria berikat kepala itu menyeringai segera mendorong keras orang-orang yang ada di depannya hingga nyaris jatuh dari tebing lalu ingin melepas ikatan tali di pohon ini tapi..
Takk...
"AAAA!!!" Teriaknya keras saat ada lesatan pisau yang langsung menancap menembus pergelangan tangannya sampai tertanam di batang pohon ini.
Mereka semua syok melihat pisau itu memaku pergelangan tangan pria tadi.
"I..ini.."
"Tarik talinya!!! Atau kalian akan tiadaa!!" Teriak Edwald saat melihat tanah di atas tebing sana akan runtuh. Ia berusaha keras mendorong para pekerja yang masih menggantung di atas tebing untuk naik ke atas sementara ia masih ada di bawah bersama Cooper yang tengah mengamankan hasil panen lebih jauh.
Hujan yang semakin deras bahkan menimbulkan petir dan kilat ini sungguh menegangkan. Edwald terus mendorong para pekerja itu hingga longsor tak bisa di hindarkan.
"Tuaaan!!" Teriak mereka saat pohon ini ikut terbawa longsor ke bawah bersama penjahat tadi hingga menimpa Edwald yang juga ada di bawah.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang..