Dendam Suamiku

Dendam Suamiku
Wanita simpanan para pria


__ADS_3

Malam ini. Sesuai dengan apa yang tadi sore Wesson katakan, mereka harus pergi ke kediaman William untuk menghadiri acara makan malam.


Awalnya Shireen ingin memilih pergi ke kediaman Suma dengan tekat melanjutkan rencananya tapi Edwald benar-benar mengerikan saat mengatakan JIKA KAU PERGI, AKU AKAN MENGHANCURKAN ORANG-ORANG YANG KAU CINTAI.


Alhasil Shireen tak jadi pergi tapi juga menolak ikut ke kediaman William.


"Kau yakin tak ingin pergi? " Tanya Wesson yang sudah tampil maskulin dengan mantel coklat dan pakaian santai.


Ia tengah berdiri di dekat sofa menatap ke arah Shireen yang berbaring santai di atas benda empuk itu.


"Shi! Kau akan sendirian disini. "


"Memangnya kenapa? Kalian pergilah!" Jawab Shireen lebih asik bermain ponsel. Ia tak menghiraukan Wesson yang akhirnya pasrah tak sengaja melihat ke arah tangga dimana Edwald sudah rapi dengan stelan jas formal penuh pesonanya.


"Kau tampil begitu formal, " Seru Wesson heran tapi selalu mengagumi ketampanan sang adik.


Shireen melirik dari ekor matanya dan saat memandang Edwald ia jadi terkunci akan pesona pria itu tapi segera mengalihkan pandangan ke layar ponselnya.


"Setidaknya pakai-pakaian yang lebih santai. Kau terlihat seperti seorang yang perfeksionis."


Edwald hanya diam melewati mereka angkuh. Shireen masih marah dan kesal dengan Edwald yang tadi sangat menyebalkan mengatur-ngatur hidupnya apalagi borgol yang tadi katanya TAK BISA DI LEPAS ternyata hanya kebohongan.


"Shi! Aku pergi."


"Ehm!" Gumam Shireen membiarkan Wesson pergi keluar dari penginapan. Shireen diam sejenak mendengar suara mobil yang sudah menyala dan beberapa suara anggota mereka dari luar.


"Memangnya dia siapa berani mengaturku?! Dia mengancam sesuka hati dan sifat buruknya sama sekali tak berubah. Edwald batu, kayu, besi!! " Umpat Shireen meremas pinggiran sofa ini menahan emosi.


Lama ia melepaskan amarahnya dengan mengumpat atas nama Edwald kebosanan itu mulai menghantui Shireen yang merasakan sunyi di seluruh penjuru penginapan.


"Kenapa jadi seperti pemakaman?!" Gumam Shireen mendecah halus lalu beralih duduk. Ia mematikan ponselnya lalu menatap ke semua sudut ruang dasar di bawah ini sampai pandangannya berhenti di jendela kaca luar dimana ada serbuk salju yang menempel di sana.


"Aku bosan, " Gumam Shireen bangkit segera berjalan mendekat ke arah jendela itu. Ia berdiri memandangi dunia luar dari balik kaca tebal yang menahan serangan dingin di luar sana.


Cerobong asap yang ada di samping-pun sudah nyala dengan kayu bakar masih menyala hangat.


Tiba-tiba saja Shireen teringat dengan ucapan Wesson tadi sore. Patrica menyukai Edwald, wanita itu tertarik padanya. Apa mungkin disana nanti perasaan wanita itu akan semakin lekat pada Edwald? Apa mungkin..


Shireen tersentak. Ia segera memukul pelan kepalanya agar menghentikan pikiran seperti itu.


Kalau-pun keduanya bersama, lalu kenapa? Apa urusannya denganku?! Aku tak peduli.


"Haiiss.. Kau jangan mulai lagi Shireen, " Gumamnya menegur diri sendiri agar sadar kembali. Tapi, semakin Shireen berusaha tenang tak memikirkan soal Patrica maka pertanyaan-pertanyaan ini lagi-lagi bertambah banyak sampai Shireen frustasi.


"Kenapa jadi begini? Biasanya aku tak seperti ini, " Kesal Shireen pada dirinya sendiri. Tapi, pandangan Shireen tertuju pada perutnya.


Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan batin yang membuat Shireen mengangkat tangan untuk mengusap perutnya.


Tapi, alangkah tersentaknya Shireen saat merasakan ada perubahan di bagian perutnya tepatnya diperut bagian bawah dan bagian pinggul yang lebih berisi. Jika di lihat memang tampak datar seperti biasa tapi saat dielus Shireen bisa merasakan ada yang menonjol dari perutnya.


"Kau berkembang dengan baik, hm?" Gumam Shireen mengulum senyum seraya mengusap perutnya.


Ntah apa yang membahagiakan dari ini tapi sekarang Shireen merasa tak sendirian lagi. Selama ini ia tak begitu memperhatikan soal kehamilannya tapi siapa sangka kesunyian ini membuat Shireen dan janin di dalam rahimnya saling berinteraksi.


"Kau tenang saja, baby! Mommy janji, setelah menyelesaikan semuanya kita akan pergi menemui kakek dan nenekmu, hm?! Mommy janji akan memberimu hidup yang baik, nak!" Gumam Shireen mengambil nafas dalam. Ia akan selalu berusaha menemukan jalan keluar agar nanti hidupnya dan sang anak bisa tenang.


Tak akan aku biarkan kau menderita sepertiku. Aku akan bekerja keras sampai saat kau hadir, kita akan bersenang-senang berdua, Hanya berdua.


Batin Shireen memantapkan hatinya. Walau wajah Edwald terlintas di benaknya buru-buru Shireen tepis. Apapun yang terjadi, Edwald tak boleh tahu tentang kehamilannya.

__ADS_1


"Sekarang kau ingin apa? Katakan, kau ingin mommy melakukan apa untukmu, hm?"


Tanya Shireen terus mengajak calon bayinya itu berinteraksi. Dan yang paling menakjubkan, Shireen seakan memang bicara dengan bayinya. Ia merasa senang padahal tak mendapat suara atau gerakan apapun di dalam sana.


Hanya naluri yang mengalir dan tersebar ke seluruh insting di tubuh dan jiwanya.


"Emm.. Apa kau ingin ramen?" Tanya Shireen tiba-tiba saja ingin makan itu. Apalagi cuacanya dingin dan sangat cocok untuk makan yang panas dan pedas.


"Emm.. Di dapur tak ada ramen. Apa kita beli saja?!" Tanya Shireen lagi dan sepakat dengan calon bayinya mereka akan keluar untuk mencari makanan.


Shireen segera meraih mantelnya di balik pintu lalu memakai benda itu. Tak lupa ia juga menggunakan kupluk, syal dan sarung tangan dilengkapi sepatu boot yang cantik di kaki jenjangnya.


"Aku belum pernah jalan-jalan di luar saat malam hari seperti ini, " Gumam Shireen menghembuskan nafas yang segera mengeras di udara.


Ia melangkah keluar dari penginapan berjalan santai pergi keluar area resort. Diluar sini benar-benar dingin tapi Shireen menikmati setiap butiran salju yang menimpa tubuhnya.


"Beruntung tak ada anggota GYUF disini. Aku jadi bisa lolos," Gumam Shireen melihat kiri kanan tak ada siapapun selain dirinya.


Resort ini luas dan penuh dengan lampu. Jadi, Shireen tak merasa risih karna jalannya cukup terang.


Setelah beberapa lama ia menjauh dari penginapan, Shireen mulai menyusuri beberapa resto di pinggir jalan yang masih buka bahkan ramai pelanggan.


Banyak orang di sekitarnya berlalu-lalang dengan pakaian tebalnya dan mobil-mobil yang berhenti di parkiran resto karna cuaca memang sangat pas untuk makan panas.


"Yang ingin makan silahkan antri dulu. Kalian tak akan kebagian nanti!!" Suara peramu saji yang menjawab desakan para pelanggan yang menunggu diluar untuk masuk ke dalam yang penuh.


Shireen diam. Ada banyak tempat makan dan istirahat disini, semuanya ramai dan berisik.


"Mereka rela mengantri di cuaca dingin seperti ini. Apa ramennya seenak itu?! " Gumam Shireen jadi ingin.


Alhasil Shireen ikut mengantri di barisan belakang tapi masih bisa berteduh di bawah atap lebar resto yang sangat memadai.


Seraya bergantian menunggu, Shireen melihat keadaan tempat ini. Banyak pasangan muda yang hadir bahkan sampai mengantri di belakangnya.


"Nona!"


Seorang pelayan datang menghampiri Shireen yang langsung memesan ekstra.


"Ramen ekstra pedas dan air biasa!"


"Baik, nona!"


Jawab Pelayan itu berlalu pergi mengambil pesanan Shireen yang kembali menikmati dunia luar dari balik kaca tebal ini.


"Hidup bebas begini sangat menyenangkan, " Gumam Shireen menikmati kesendiriannya. Ia bisa melihat kemesraan para pasangan muda yang bahkan duduk di meja yang ada di belakang, kiri, kanannya.


Ada yang bercanda, marah manja dan tertawa manis. Sungguh, energi Shireen kembali terisi full.


"Nanti, saat kau sudah besar. Kau harus mencari wanita yang bisa menenangkan pikiranmu, baby! Jangan seperti gadis itu, ya?! " Gumam Shireen menatap ke arah meja agak jauh darinya dimana ada wanita yang terlihat marah besar dengan kekasihnya yang malu.


"Nona! "


Pesanan Shireen selesai. Pelayan wanita itu menyajikan satu mangkuk ramen full dengan racikan sosis, daging dan taburan bubuk cabai dan berbagai racikan saos yang membuat liur Shireen menetes.


"Selamat makan, nona!"


"Terimakasih," Jawab Shireen membiarkan pelayan itu pergi.


Shireen mulai mengambil sumpit di atas piring mangkuk ini lalu mulai mengaduk-aduk mie-nya yang sangat hangat dan berasap.

__ADS_1


"Sss.. Ini sangat harum," Desis Shireen mulai menyeruput kuahnya lalu makan dengan lahap. Matanya melek saat rasa pedas itu menjalar tapi juga begitu lezat sampai ia tak bisa berhenti.


Sesekali ia minum air di gelasnya karna kepedasan sampai bibirnya begitu merah tapi terlihat sangat menggoda iman lelaki.


"Hey, wanita sialan!!"


Seseorang tiba-tiba saja mengebrak meja makan Shireen yang terkejut saat mangkuk ramen-nya tumpah mengenai mantelnya.


"Kauu.." Shireen berdiri menatap nanar tumpahan ramen-nya di lantai sana.


"Apa kau sudah puas menghancurkan hidup orang lain, haa??"


Suara ini sangat familiar. Shireen menaikan pandangannya hingga wajah Kimmy sudah terpampang anarkis.


Hawa permusuhan wanita ini sangat mendominasi apalagi melihat banyak orang yang menyaksikan mereka.


"Kau siapa?" Tanya Shireen santai dan tenang.


"Kau amnesia atau pura-pura lupa, ha? Kau tak ingat jika kau pernah merebut seseorang dariku!!" Sarkas Kimmy sangat membuat seisi resto ini menonton mereka.


"Maaf, mungkin kau salah orang!"


Shireen tak mau berdebat kosong. Ia ingin meninggalkan uang untuk pergi tapi tiba-tiba saja Kimmy mendorong bahu Shireen keras.


Semua orang terkejut tapi siapa sangka Shireen akan cepat membalikan keadaan. Sebelum ia jatuh, Shireen menarik bahu Kimmy kuat menjadikan wanita ini tolakannya untuk stabil sedangkan Kimmy tersungkur di lantai.


"Dia benar-benar kasar."


"Yah, mungkin mereka terlibat cinta segitiga."


Desas-desus mereka yang memang tak tahu Shireen karna mereka cukup asing dengan wanita ini. Jika disini ada media, pasti sudah lebih dulu mengenali dewi kecantikan itu.


"Kau benar-benar memperlihatkan sifat aslimu!!" Geram Kimmy yang merasa terhina segera berdiri.


"Jangan sembarangan bicara seakan kita saling mengenal," Tegas Shireen menunjukan panorama wanita berkelas yang sangat mempesona.


"Kau tak kenal atau malu mengakui jika kau itu adalah pelarian para lelaki!!"


Sontak semua orang terkejut. Mereka mulai termakan ucapan Kimmy yang bersandiwara seperti seorang istri sah yang melabrak pelakor padahal sebaliknya.


"Nona! Sebaiknya kau pergi dari sini!"


Manajer resto yang mendekati Shireen dengan wajah tegas dan tentu ia marah.


"Kenapa aku yang pergi? Sudah jelas wanita asing ini tiba-tiba datang tanpa di undang," Bantah Shireen masih lapar.


"Jaga bicaramu!! Kau itu perusak hubungan orang lain. Kalian disini hati-hati dengan wajah cantik dan tubuh seksi ini. Ia penjahat kelamiin!!"


Sontak Shireen benar-benar marah mendengar hinaan Kimmy yang membuat persepsi kotor keluar dari mata setiap orang.


"Kauuu.."


"APA? KAU MEMANG WANITA YANG SERAKAH!! KAU SIMPANAN DUA PRIA SEKA.."


Plakkk..


Shireen menampar keras Kimmy yang tadi berdiri tapi kembali jatuh. Shireen tak peduli dengan pandangan semua orang karna harga dirinya adalah nyawa.


Dibalik taktik kotor ini, Kimmy menyeringai. Tujuannya memang ingin membuat Shireen di benci oleh siapapun sampai tak ada tempat untuk pergi maupun kembali.

__ADS_1


...


Vote and like sayang..


__ADS_2