
Saat melihat mobil merah yang sama seperti mobil Freya dulu, Shireen langsung meminta Cooper untuk mengikuti mobil itu. Awalnya Cooper menolak karna arah kepergian mobil merah yang Shireen lihat pergi ke arah yang cukup dikatakan bahaya.
"Ikuti mobilnya!"
"Dia pergi ke daerah berbahaya. Kita tak bisa datang tampa persiapan," Jawab Cooper membiarkan mobil itu berbelok menuju area terlarang yang memang sangat padat kriminal.
Pandangan Shireen mengikuti arah kepergian mobil itu dan menghafal nama jalannya. Tentu Edwald tahu apa yang ada di kepala Shireen sekarang. Wanita ini tak akan bisa di cegah.
"Ikuti mobil itu!" Titah Edwald pada Cooper yang tersentak langsung menepikan mobilnya dari jalan aspal ini.
"Steen! Tujuan kita disini untuk misi, bukan menambah beban."
"Ikuti mobil itu!" Tegas Edwald dan Cooper tak lagi bisa membantah. Ia memutar jalur kembali kebelakang membuat Shireen tak sabaran untuk tahu, apa itu benar mobil Freya atau tidak?!
"Apa yang ingin kau lakukan disana?"
"Aku yakin itu mobil adikku. Dia tengah ada di rumah sakit tapi, kenapa bisa mobilnya ada pada orang lain?!" Gumam Shireen masih memandang keluar dimana Cooper sudah melajukan mobil mereka cukup cepat untuk mengejar ketertinggalan.
Edwald diam tapi ia mencerna penjelasan Shireen. Dugaan demi dugaan tersirat dan cukup membuatnya paham.
"Mungkin, wanita tua itu menjualnya!"
"Tapi, aku sudah menyelesaikan semua hutang-hutangnya. Untuk apa lagi menjual mobil itu?!" Gumam Shireen tak bisa menerima hal ini. Walau Freya jahat padanya, Shireen masih tak ingin membiarkan hal yang berharga bagi gadis itu pergi.
Freya masih kritis di rumah sakit dan nasibnya sudah lebih dari kata MENYEDIHKAN.
Setelah beberapa lama akhirnya Cooper memelankan laju kendaraan karna mobil merah itu sudah masuk ke area terlarang yang memang sudah di klaim oleh beberapa kelompok kriminal di kota ini.
Mobil mereka memasuki gerbang yang dilapisi besi dengan banyak coretan kasar dan gambar-gambar pornografi yang tak layak di pandang.
Kota ini seperti di belah dua. Keindahan di pertontonkan tapi area satu ini seperti tak dianggap di kota Verona.
"Kenapa tempatnya seperti ini?!" Gumam Shireen ingin menurunkan kaca jendela mobil untuk melihat banyak kios-kios kosong tapi masih dipenuhi coretan brandal tapi Edwald menahan tangannya.
"Jangan di buka!"
"Kenapa?" Tanya Shireen menatap Edwald yang sudah merapat ke tubuhnya. Hawa mendominasi Edwald benar-benar memenuhi isi mobil menyelubungi Shireen dalam ranah pelindungnya.
"Disini sama saja dengan kota Began!"
"Began?" Tanya Shireen tak tahu kota-kota seperti itu. Tak khayal Edwald tahu karna itu adalah tempatnya bermain-main.
"Disini tak ada aturan pemerintah! Wilayah ini sudah di pimpin oleh dua kelompok kriminal dengan aturan mereka sendiri."
"Kenapa mereka bisa mengambil sebagian kecil kota? Ini tak benar," Bantah Shireen yang masih perlu pengalaman.
"Siapa yang kuat, itulah yang berkuasa!" Jawab Edwald hingga Shireen paham. Ia kembali melihat ke sepanjang jalan dimana Cooper melihat mobil merah itu berhenti di sebuah kasino tua yang tampak sepi tak berpenghuni.
"Kenapa dia pergi ke sana? Tak ada orang sama sekali."
"Ada, mereka menunggu di dalam!" Jawab Edwald mengamati mobil itu dari dalam mobil yang sudah berhenti dari jarak beberapa meter.
Tak lama berselang keluarlah seseorang dari mobil itu. Pria muda yang tampak humoris dan energik berjalan sedikit bertingkah penuh semangat memutar-mutar kunci mobil di tangannya masuk ke dalam Kasino.
"Aku ingin masuk kesana!"
"Tutupi wajahmu!" Ucap Edwald mengambil kotak masker di belakang. Tangan kananya masih bertaut dengan tangan kiri Shireen yang membantu Edwald memakaikan masker itu bergantian ke wajah masing-masing.
Saat kompak seperti itu, Cooper jadi merasa iri. Ia tersenyum kecut ikut memasang masker lalu turun dari mobil diikuti Edwald dan Shireen.
"Kau siapa?"
Seorang pria dewasa dengan tato bak yakuza di seluruh tubuhnya yang tak mengenakan atasan itu keluar dari dalam kasino.
Wajahnya cukup sangar dengan tatapan menyelidik ke arah mereka terutama Shireen yang kebetulan tak memakai celana panjang hingga kaki jenjangnya sangat indah di pandang sungguh menarik perhatian.
"Nona?" Berniat tahu nama Shireen.
Cooper yang tak mau memantik kemarahan Edwald segera berdiskusi.
"Tuan! Kami ingin berjudi di dalam. Apa bisa?"
__ADS_1
"Judi? Hmm.. Kalian memang datang ke tempat yang tepat," Jawab pria itu tersenyum lebar nyaris mengeluarkan seluruh gusinya.
Shireen sungguh tak nyaman bahkan kedua kakinya rapat menghindari pandangan nakal pria ini. Tahu akan hal itu, Edwald langsung menggenggam tangan dingin Shireen dalam raupan jemari hangatnya.
"Bisa kami masuk?" Dingin Edwald menyudahi suasana ini.
"Baiklah, masuk dan tinggalkan Candra mata disini," Kelakarnya liar mengiring masuk ke dalam kasiono.
Edwald berjalan di belakangnya bersama Shireen yang tak ia biarkan jauh sesenti saja. Cooper menjaga di belakang dengan pistol yang sedia di balik jaket yang ia pakai.
Suasana sunyi di luar tadi tak berlaku di dalam sini. Keramaian mendominasi dengan suara-suara keras ditengah lampu yang menyala seakan sudah malam padahal masih siang.
"Ed! Kenapa ini seperti club?" Bisik Shireen tak nyaman dengan aroma-aroma alkohol disini.
"Ini tempat yang sempurna melakukan bisnis," Jawab Edwald mengiring Shireen untuk duduk di meja yang agak di sudut tapi dari sini mereka bisa melihat ke semua penjuru.
Sementara Cooper, ia duduk di samping Edwald dengan posisi Shireen ditengah-tengah mereka. Ini pola penjagaan yang ketat, bukan?!
"Tuan, tuan dan nona!"
Seorang wanita berpakaian serba terbuka dan seksi datang membawa nampan minum. Edwald hanya memandangnya datar tapi Shireen sungguh muak berada disini.
"Tuan, kau ingin apa?"
"Aku?" Tanya Cooper jenaka pada dirinya sendiri saat wanita ini menunduk hingga dua semangka itu nyaris meloncat keluar.
Shireen meremas tangan Edwald kuat dengan mata sudah jijik dan merasa rendah melihat banyak wanita murahan yang rela menjilat ludah dan memuja kaki para pria hanya untuk mendapatkan uang.
"Apa tak ada cara lain demi mendapatkan uang?! Mereka merendahkan kasta wanita."
"Mereka tak punya pilihan," Jawab Edwald membiarkan wanita itu meletakan 3 gelas wine di mejanya lalu bermanja dengan Cooper yang sialnya ikut meladeni.
"Kauu.. Jangan dekat-dekat," Risih Shireen mengusir Cooper. Alhasil Cooper terpaksa pergi membawa pelayan itu ke meja yang lain.
Shireen menggerutu. Ia benar-benar jengkel seperti bukanlah wanita dari kalangan eropa tapi keturunan timur.
"Apa-apaan mereka?! Seharusnya tak perlu sampai menjual tubuh sendiri demi uang."
Jawaban Edwald masih sama. Mendengar kalimat itu Shireen diam masih teringat akan ucapan Wesson malam itu. Jujur ia tak setuju dengan paradigma TAK PUNYA PILIHAN.
"Kau tahu? Di dunia ini tak ada yang namanya TAK PUNYA PILIHAN. Hanya saja kalian selalu mengambil jalan yang instan lalu memberi alasan seakan-akan tak ada lagi jalan keluar," Omel Shireen yang tahu rasanya mengenyam hidup putus asa dan susah tapi ia tak mau jatuh di lubang seperti ini.
"Kalau aku mau memilih, dari sejak kau mengkhianati aku, aku pasti sudah menjalang seperti mereka karna menganggap semua pria itu sama. Tapi.."
Shireen diam dan tak melanjutkan kalimatnya. Ia sampai terbawa emosi dan kelepasan menyenggol masa lalu.
Edwald juga membisu. Ia tak merespon apapun tapi kata-kata Shireen sampai keuluh hatinya.
"A.. Itu dia!"
Shireen mengalihkan pembicaraan pada pria muda yang tadi asik berjudi di meja tak jauh dari mereka.
"Bagaimana caraku mencari informasi?" Gumam Shireen memutar otak.
"Kau cukup duduk disini."
"Ha?"
Shireen menatap penuh tanya Edwald yang tak membiarkannya bergerak. Bukan tanpa alasan, jika Shireen sampai mengambil perhatian disini maka akan ia pastikan semuanya hancur.
Tak mendapat jawaban dari Edwald akhirnya Shireen diam. Ia hanya mengamati keadaan disini sampai Cooper kembali ke meja mereka dengan pakaian sudah tak rapi.
Mata Edwald berapi-api langsung menutup mata Shireen dengan satu tangan kirinya karna resleting Cooper terbuka.
"Kau ingin berakhir disini?" Intonasi yang penuh ancaman.
Sadar akan kemarahan Edwald, Cooper hanya mencengir kuda memperbaiki pakaiannya.
"Maaf, aku terlalu bersemangat tadi!"
"Cih, jangan dekat-dekat," Jengkel Shireen seraya melepaskan tangan Edwald dari matanya.
__ADS_1
"Pria itu adalah salah satu pelanggan tetap disini. Dia berkunjung setiap hari untuk berjudi. Dan yang paling mengejutkan, dia punya hubungan spesial dengan nyonya Colins!"
Shireen tersentak mendengar penuturan Cooper. Ntah dari mana dia mendapatkan informasi ini Shireen tak tahu.
"Maksudmu?"
"Aku tak tahu pasti tapi, wanita tadi mengatakan jika dia pernah melihat nyonya Colins datang kesini bersama pria itu!"
Jawab Cooper yang tadi mencari informasi di belakang. Shireen saling pandang dengan Edwald yang juga tampak menerka.
Sedetik kemudian ada seseorang yang datang dari arah pintu dengan wajah dan gaya yang sangat mirip dengan seseorang yang Shireen kenal.
"M..mommy!"
Shireen syok melihat nyonya Colins berjalan dengan gaya angkuhnya menyapa beberapa pria disini tapi ia mendekati sosok muda barusan.
"Nak!"
"Mom! Aku kalah lagi," Jawab pria itu terlihat frustasi.
Shireen terkejut mendengar panggilan yang pria itu katakan. Nyonya Colins juga tampak senang menanggapi dengan senyuman seperti tak keberatan.
"I..itu.."
"Tenanglah. Jangan gegabah," Tegas Edwald menahan tangan Shireen agar tak berdiri. Edwald mengamati interaksi nyonya Colins dan lelaki itu hingga tanpa sengaja ada seorang pria yang tertarik pada Shireen dari meja itu karna merasa di perhatikan.
"Heey!! Nonaa!!" Sapanya membuat semua orang memandang begitu juga nyonya Colins yang menyipitkan matanya.
"Dari pada kau memandang dari situ, lebih baik kau kesini duduk diatas pangkuanku!" Kelakarnya ditertawakan oleh semua orang.
Tak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi, Shireen meraih gelas yang ada di hadapannya lalu melemparkan benda itu pada pria yang tadi mencabulinya.
"Kauu!!!"
Pria itu terkejut berdiri dengan marah. Beberapa orang disini juga ikut bangkit pertanda jika pria tadi adalah pimpinan mereka.
"Kau berani mempermalukan tuan kami, Ha??" Bentak mereka pada Shireen yang tak ada takutnya sama sekali. Ia sudah muak di perlakukan tak baik disini apalagi melihat banyaknya wanita yang begitu rendah.
"Seharusnya kalian tak pantas ada di dunia ini!!" maki Shireen melemparkan kembali gelas yang ada di dekatnya hingga suasana menjadi bahaya. Edwald masih diam melihat sudah banyak yang orang mengerumuni mereka dengan pandangan penuh hawa membunuh.
Saat mereka ingin menyerang Shireen, Edwald langsung menerjang meja di hadapannya hingga terbalik menghantam lutut para pria yang tadi ingin memukul langsung terpental ke meja di belakangnya.
"Kau jangan ikut campur, tuan! Serahkan wanita lancang ini!!" Hardiknya panas tapi Edwald berdiri hingga tubuh tegap gagahnya tak bisa ditandingi oleh mereka.
"Serahkan wanita itu dan kau bisa keluar dengan selamat dari sini!"
"Aku akan keluar.."
Edwald menjeda kalimatnya dengan genggaman ke tangan Shireen menguat.
"Tapi, tak sendiri!"
Imbuh Edwald hingga mereka kembali menyerang dengan brutal. Sejauh ini belum ada yang memakai pistol hingga Edwald hanya menggunakan satu tangan dan kakinya.
Cooper juga ikut bergabung memporak-porandakan kasino ini sementara Shireen justru hanya menari-nari sesuai gerakan Edwald yang tak sesekali mengangkat tubuhnya menghindar dari terjangan lawan.
"Aku bisa melawan mereka!"
"Diamlah," Gumam Edwald tak menghiraukan Shireen yang ingin ikut bergabung. Ia tak ingin membahayakan kecebong mahalnya di dalam rahim hangat sang istri.
"Aku bisa!" Desak Shireen karna geram melihat banyak yang ingin menghabisi mereka.
"Kau.."
"Pinjam pistolmu!" Sela Shireen mengambil paksa pistol di balik jas Edwald yang seketika terkejut saat Shireen bisa menembak dengan cukup gesit dan terarah.
"Yahh! Tak sia-sia aku memperhatikan caramu," Gumam Shireen menembak dengan gayanya yang elegan. Ia hanya membidik kaki bukan kepala karna hati malaikat itu masih ada.
Seperti biasa Edwald dibuat selalu terkejut dengan kebiasaan Shireen. Wanita ini memang benar-benar sesuatu. Sejak hamil dia jadi lebih berani dan keras kepala.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..